Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

Verhallen Tionghoa Tempo Doeloe

Date: Fri Mar 25, 2005 10:25 am

Bahasa yang saya kutip dari sebuah milis ini akan banyak anda jumpai kalau anda membaca buku keluatran Gramedia mengenai Kesusasteraan Tionghoa Melayu. Bagaimana para onderneming pain perlip-perlipan dengan nyai-nyai lokal. Dsb (Mimbar)

Bahua Verlag KPG ada kluarken satu buku lagi, yaitu kumpulan verhallen orang-orang Tionghoa tempo dulu di negeri Hindia Ollanda, tentu adalah khabar yang boleh membuat saya dan siapa-siapa saja yang ada suka membaca literatur, punya hati jadi senang. Beberapa taon di blakang saya sudah ada bli itu buku-buku yang lebih dulu kluar. Memang dianya ada sedikit mahal dan kuras saya punya zak. Saya punya bini juga sampe marah-marah dan bilang, "Kalo lu trus bli buku mahal-mahal kapan kita bisa ganti kita punya meubels..?"

Tapi saya tiada ambil perduli. Dan sasudahnya membaca itu buku tiada saya menyesal karena kluarken banyak ongkos. Ada banyak ihwal yang boleh saya dapat dari membaca verhallen itu orang-orang Tionghoa.

Saya jadi faham bagaimana bahasa Melayu sebagai bahasa "lingua franca" dipake oleh anak-anak negeri, tarutamanya yang tinggal di kota-kota besar di pinggir pantai, dari pulau-pulau Hindia Ollanda. Saya juga jadi boleh lihat bagaimana itu drukkerij dan verlag punya tauke-tauke ada punya andil dalam mangembangkan bahasa Melayu yang kemudian jadi bahasa Indonesia. Sebagai saorang yang punya verlag dan pengurus societet daripada verlag-verlag di Indonesia zaman sekarang (IKAPI), saya jadi ada sedikit malu. Itu tauke-tauke Tionghoa tiada pernah gembar-gembor yang dirinya adalah "mencerdaskan bangsa" atawa "agen kebudayaan".

Tapi diam-diam buku-buku yang dihasilkan oleh itu verlag atau drukkerij menyebar kemana-mana dan dibaca oleh banyak anak negeri. Dan yang lebih menghairankan lagi, itu verlag atau drukkerij tidak melulu ada di Jakarta sahaja, tapi juga ada di Buitenzorg, Tasikmalaya, Klaten, Semarang, Solo, Bandung, Surabaya dan tempat- tempat lain. Gara-gara itu buku berseliweran kesana kesini dan dibaca oleh banyak anak negeri, maka dianya membikin bahasa Melayu jadi dipake oleh lebih banyak orang lagi.

Satelahnya membaca lapan buku yang kluar lebih dulu itu, saya juga jadi bisa sedikit punya rasa bagaimana "nation" ini dibuat. Orang Tionghoa, orang Jawa orang Sunda, orang Arab, orang Madura dan orang-orang dari lain daerah di Hindia Ollanda melakukan "interactie" satu sama yang lain dalam bermacam-macam vak kehidupan. Saya juga jadi boleh faham akan tabeat-tabeat dari setiap suku.

Tapi seperti gado-gado dari Boplo, semuanya jadi campur dalam satu bangsa yang namanya Indonesia. Kepada anak-anak muda saya mau bilang supaya kudu baca buku-buku seperti ini

Satelahnya membaca nanti kita boleh faham bahwa yang namanya membikin Indonesia itu adalah sabuah pekerjaan besar yang tiada boleh bikin kita lalai atau kepingin brenti. Membikin Indonesia adalah pekerjaan yang kudu harus dijalankan trus. Tentu saja, saya juga ada terhibur kalo membaca verhallen tentang itu tauke-tauke Tionghoa yang verlip-verlippen dengan dia
punya nyai orang Sunda. Atawa sinyo-sinyo Ollanda yang kerja di onderneming ada jatuh cinta dengan nona-nona Bumiputera yang mandi di sungai dengan kaen basahan.

Kepada Meneer Parakitri Tahi Simbolon, Meneer Pax Benedianto dan dia punya kompanion di Verlag KPG kita kudu kasi acung jempol. Zonder orang-orang seperti ini, yang tiada terlalu ambil peduli apakah dia punya buku mau laku keras atau tidak, tiada bakalan kita dapat banyak bacaan yang punya kwaliteit tinggi dan baek. Kalo saya punya keuangan ada sedikit longgar, kapan tempo saya juga akan bli buku yang baru ini.

Tabek!
Mula Harahap:

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com