Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

Pisang

Date: Mon Jun 27, 2005 11:30 pm

Disalah satu milis yang saya kelola ibu Endang dari DACCA melaporkan bahwa saking fanatiknya (atau mungkin malas cari makanan lain), maka tiap hari orang Bangladesh menyuguhkan penganan dijamin mengandung daging Pisang atau minyak pisang (kalau ada). Ini sama trickynya dengan dijamin daging ayam tetapi minyaknya bukan. Lalu makanan "magiku hibiniu" ini ditimpali oleh pak GS salah satu Oil Company, yang melukiskan bahwa dengan makan pisang "barangkali" menjawab semua problema kesehatan kita.

Kembali ke Pisang yang sudah di-ampar-amparkan oleh pak George Supardi dan Bu Endang Susilowati yang di Dakka sampai "eneug-tereneug-eneug", maka seperti kebetulan di kantin kami juga seringkali menyajikan pisang. Pisang disini bentuknya seperti keluaran pabrik selain warnanya seragam, besarnya seragam, rasanya idem dito. Pisang Ambon segede pisang tanduk sehingga kalau makan harus diiris dua atau tiga. Supaya cara makannya kelihatan "imut GL" (Gitu Lho)- kata orang tua saya tidak Gas-Gasan.

Tapi berani jamin, sepertinya cuma saya seorang yang menghabiskannya dengan rajin, percaya dengan mitologi mengatakan "makan pisang agar tidak pakai kacamata," bukti sudah ada, kera nggak pakai kacamata. Kadang sayang juga melihat pisang-pisag teronggok sampai berubah dari warna hijau pupus ke kecoklatan berhias polka dot. Kalau sudah begini, juru masak
inisiatip dibuat "Banana Honey Shake Milk" - lha begitu sudah dikemas dalam "paper cup" - pisang terdongkrak pangkatnya menjadi "junk food" dan mereka amat menyukainya. Gantian saya yang tidak kebagian. Sial bener.

Goreng pisang, apalagi pakai sambal belacan seperti di Samarinda masih belum terdengar sampai sini.

Lalu sebuah brosur lipat segitiga dipasang ditiap meja. Isinya kira-kira "ada nggak sih makanan magicu hibiniu, yang kalau kita konsumsi terus menerus pasti huebat kasiatnya" - fotonya adalah anak muda dengan kedua tangan tersilang diselangkangan seperti kalau kita ngapurancang, mukanya senyum tetapi mimik wajahnya seperti kalau petani berpengalaman kita dilolohi ilmu Klompencampir oleh pak penyuluh pertanian yang terkadang pegang paculpun jarang-jarang.

Poster ini juga dipakai untuk mengganjal pendapat masyarakat sono kalau sudah makan suplemen, yang lain nggak dimakan no-problem sebab serat sudah ada di agar-agar. Dan banyak yang terkecoh dan percaya, apalagi seperti kita umumnya mudah disugesti. Ya wis klop.

Kesimpulannya, orang harus makan secara beragam. Kacang-kacangan, biji-bijian, hijau-hijauan, juga daging, ikan, agar terjadi keseimbangan. Bahkan minum anggur untuk menjauhi stroke dianjurkan (disini lho). Cerita selanjutnya ya seperti di majalah kesehatan.

Pesan terakhir dari poster, "fill your stocmach not your plate" - maksudnya jangan makan asal makan, tetapi perhatikan kesehatan juga. Itu sebabnya saya belum ketemu IndoMie rebus dengan Caisim disini.... Kangen juga, biar kata orang makanan nggak bermutu dan bertanduk.

Habis enak gila.

Apalagi kadang keceplos cangkang telurnya. Ngeres sih digigi, tapi "lantak bae" - kata wong Palembang. Apalagi kalau kecapnya Bango "Sedih" biar kehujanan tak mengapa.
25 Juni 2005
Northern Territory
Pemakan Instan Mie
dan Penikmat Kecap.
Pelahap goreng pisang juga

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com