News

Loading...

Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 22, 2006

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

NagaSasra dan SabukintenKarya SH Mintardja

Tokoh Utama dalam Seri Nagasasra dan Sabukinten

  1. Raden Rangga Tohjaya alias Mahesa Jenar alias Manahan. Seorang "pendekar Budiman" yang masih murid dari Kiai Pengging Sepuh alias Ki Kebo Kenongo. Masa kecilnya dilalui sebagai teman bermain "Nis" yang dikenal juga sebagai Sela. Legenda mengatakan bahwa Sela mempunyai kelincahan yang luar biasa sehingga mampu menangkap petir. Tatkala terjadi benturan kekuasan para elit dimana Syeh Siti Jenar berebut pengaruh dengan elit politik Kerajaan Demak, maka selain berakhir dengan terbunuhnya Syeh Siti Jenar, terbunuh pula Ki Kebo Kenongo alias Ki Pengging Sepuh yang merupakan guru Rangga Tohjaya. Petualangannya di mulai dengan hilangnya sepasang keris pusaka dari ruang penyimpanan pusaka keradjaan Demak. Keris ini seperti "legitimasi" seseorang untuk menjadi raja Mataram. Akibatnya banyak tokoh-tokoh persilatan dari dunia Hitam maupun setengah hitam berebut untuk mendapatkannya. Sekalipun sakti mandraguna, Mahesa Jenar ternyata kikuk ketika menghadapi lawan jenis.
  2. Arya Palindih, tokoh militer dari Demak yang menangkap GajahSora.
  3. Ki Gede Asem murid Ki Tambak Manyar memiliki keahlian utama b erupa melempar batu, pisau, bandul sehingga efektip sebagai senjata jarak jauh. Ki Asem Gede juga mempunyai keahlian dalam pengobatan. Ia mempunyai menantu Wirasaba alias Seruling Gading.
  4. Kebo Kanigara alias Putut alias Tumenggung Surajaya. Anak dari Ki Kebo Kenongo. Hobby berkelana membuatnya menguasai ilmu Sasra Birawa dengan campuran dari pengetahuan lain.
  5. Karebet alias Jaka Tingkir, kemenakan Kebo Kanigara. Ia menguasai ilmu kebal Lembu Sekilan. Gurunya banyak sekali salah satunya Ki Ageng Sela yang mampu menangkap ekor petir.
  6. Pasingsingan, inilah tokoh misteri dalam cerita ini. Berjubah abu-abu dengan senjata belati Kiyai Suluh, dilambari kemampuan mengeluarkan aji Gelap Ngampar serta Karang Kobar, sungguh susah dicari tandingannya.
  7. Sima Rodra Muda dari Gunung Tidar. Nama aselinya Ki Panutan, menikahi anak gadis Ki Sentanu alias Ki Pandan Alas, namun tergila-gila kepada perempuan "Harimau Betina" dari Lodaya Gambaran seorang suami yang tergila-gila kepada seorang wanita sakti sehingga meninggalkan anak dan isterinya. Mereka mempunyai ritual kuno dengan mengingat gadis muda di tengah altar dan membunuhnya sebagai tanda katuh kepada dewa Harimau.
  8. Nyai Sima Rodra. Tidak disebutkan nama kecilnya, dikenal perayu lelaki tetapi sekalugus kejam. Dengan kecantikannya Ki Panutan rela meninggalkan isteri dan anaknya Rara Wilis.
  9. Sima Rodra Tua dari Alas Lodaya, menguasai aji Macan Liwung. Ayah dari Nyi Sima Rodra.
  10. Jaka Soka dari Nusakambangan. Pendekar pemetik bunga dari Nusakambangan. Ganteng, Simpatik dan pesolek. Mukanya selalu tersenyum.
  11. Sarayuda dari Gunung Kidul. Demang dari Gunung Kidul. Murid perguruan Pandan Alas, yang kaya raya namun gagal merebut cinta Rara Wilis, saudara seperguruannya.
  12. Ki Pandan Alas dari Gunung Kidul, tokoh eksentrik yang gemar menyanyi. Lagu andalannya adalah "Dandang Gula". Pencipta ilmu pedang Pandan Alas. Sering bergelar ki Santanu.
  13. Bugel Kaliki dari Ciremai. Tokoh bongkok ini mencari kemukten dengan mencari keris Nagasasra dan Sabukinten. Tidak memiliki murid. Kelebihannya kalau bertarung makin lama tenaganya makin berlipat ganda.
  14. Lawa Ijo murid terkasih dari Pasingsingan. Senjatanya aji sirep, belati terbang dan akik kelabang sayuta.
  15. Nagapasa dari Nusakambangan, guru sepasang Uling dari Rawa Pening.
  16. Radite
  17. Anggara
  18. Arya Salaka alias Bagus Handaka
  19. Sawung Sariti
  20. Lembu Sora ilmunya Lebur Sekethi
  21. Gajah Sora ilmunya Lebur Sekethi
  22. Titis Anganten dari Banyuwangi
  23. Wirasaba bergelar Seruling Gading dengan senjata Kapak raksasanya
  24. Endang Widuri
  25. Ki Dalang Mantingan dengan senjata Trisula dan jurus Pacar Wutah. Murid Ki Ageng Supit. Bahkan pernah tersebar khabar di Demak bahwa Dalang Mantingan seorang diri dapat menangkap tiga saudara perampok dari Jarakah, di kaki Gunung Merapi, yang dikenal dengan satu nama: Samber Nyawa.
  26. Wanamerta
  27. Buntaran
  28. Panembahan Ismaya dari Telomoyo. Diketahui juga sebagai Pasingsingan Sepuh, guru dari Radite, Anggara, dan Umbaran (yang kemudian malih rupa jadi Pasingsingan), disamping itu, semasa muda panembahan Ismaya bernama raden Buntaran. Nama Pasingsingan sendiri diambil dari nama seorang abdi sepuh, yang merupakan satu-satunya orang yang dapat mempercayai raden Buntaran, namun kemudian disingkirkan oleh orang-orang yang mengejar kekuasaan.
  29. Sendang Papat dan Sendang Prapat
  30. Sora Dwipayana
  31. Gajah Alit, seorang perwira Kerajaan Demak
  32. Paningron
  33. Rara Wilis alias Pudak Wangi, murid sekaligus cucu Ki Sentanu alias Pandan Alas dari GunungKidul. Mewarisi ilmu pedang "tipis" Pandan Alas yang ciri khasnya selalu digetar-getarkan agar membingungkan lawannya. Membawa dendam karena ibunya ditinggalkan oleh ayahnya yang tergila-gila dengan Nyi Sima Rodra, anak dari Sima Rodra dari Lodaya. Tetapi dendamnya justru kepada sang "ibu tirinya" - yaitu Nyi Sima Rodra (muda). Terlibat percintaan segitiga dengan dua pemuda yaitu Demang Sarayuda dan Rangga Tohjaya.
  34. Sura Sarenggi guru sepasang Uling dari Rawa Pening
  35. Tumenggung Prabasemi
  36. Galunggung
  37. Bantaran, Nyi Penjawi, Sontani, Temu Ireng, Talang Semut, Sempada dan Sambirata

Daya Linuwih yang terlibat dalam cerita ini serta pemiliknya

  1. Sasrabirawa [Mahesa Jenar, Kebo Kanigoro, Arya Salaka]
  2. Rog-Rog Asem [ Karebet]
  3. Lembu Sekilan [Karebet] ilmu ini konon dipakai oleh Mahapatih Gajahmada.
  4. Karang Kobar dan Gelap Ngampar oleh Pasingsingan
  5. Macan Liwung [Sima Rodra Tua dan Muda]
  6. Sirep [LawaIjo dari Mentaok] juga dimiliki oleh Pendekar lain
  7. Cunda Manik [Sarayuda]
  8. Lebur Seketi [Lembu Soradan Sawung Sariti]
  9. Pacar Wutah [Ki Dalang Mantingan]
  10. Uler Kilan dan Welut Putih [Sura Sarenggi]
  11. Naga Angkasa [Radite dan Anggara]
  12. Aji Welut Putih, Bajra Geni dan Tameng Waja milik Baginda raja Mataram Sultan Trenggana
  13. Aji Sapu Angin milik Tumenggung Prabasemi

    Senjata yang terlibat dalam konflik Nagasasra dan Sabukinten

  1. Keris Sigar Penjalin milik Pandan Alas
  2. Kiyai Bancak, tombak milik Arya Salaka
  3. Kiai Suluh, belati panjang milik Pasingsingan
  4. Akik beracun Kelabang Sayuta milik Lawa Ijo dari Hutan Mentaok
  5. Keris Sangkelat milik Karebet atau Jaka Tingkir
  6. Sabuk milik Sura Sarenggi
  7. Wesi Kuning milik Bugel Kaliki
  8. Kiyai Kalatadah tombak milik SIma Rodra muda dari Gunung Tidar
  9. Tongkat dan pedang lentur milik Jaka Soka si Ular Laut dari Nusakambangan
  10. Bandul bergerigi milik Widuri
  11. Rantai milik Gajah Alit

20 comments:

kum-kum-san said...

Pak Bambang,
Deskripsi Ki Ageng Pengging Sepuh sebagai Ki Kebo Kenongo kayaknya kurang tepat deh. Ki Kebo Kenongo adalah Ki Ageng Pengging saja (tidak pakai sepuh). Sementara yang disebut Ki Ageng Pengging Sepuh itu adalah Pangeran Handayaningrat, salah satu adipati dari pemerintahan Majapahit terakhir dengan rajanya Prabu Wilwatikta/ Brawijaya sebelum pemerintahan diambil alih oleh Raden Patah yang merupakan putra Prabu Wilwatikta itu sendiri tapi sudah memeluk agama Islam dan mendirikan Kerajaan Demak. Ki Ageng Pengging Sepuh itulah guru Mahesa jenar dan Ki Kebo Kenongo (ayah dari Ki Kebo Kenongo). Sekian, matur nuwun.

Mimbar Bambang SAPUTRO said...

Terimakasih mas Kum-Kum-San atas kritiknya. Mimbar

Anonymous said...

tambahan keterangan untuk penambahan ismaya, diketahui juga sebagai pasingsingan sepuh, guru dari radite, anggara, dan umbaran (yang kemudian malih rupa jadi pasingsingan), disamping itu, semasa muda panembahan ismaya bernama raden buntaran, yang merupakan saudara (sepupu ?) dari brawijaya (menurut cerita :p). pasingsingan sendiri diambil dari nama seorang abdi sepuh brawijaya, yang merupakan satu-satunya orang yang dapat mempercayai raden buntaran, namun kemudian disingkirkan oleh orang-orang yang menghendaki harta brawijaya

CMIIW

Armahesa said...

Ceritanya bagus banget.. saya sampe habis bacanya.
Untuk cerita-cerita tentang kerajaan Majapahit atau bahkan sebelumnya, ada referensi tidak ceritanya ada dimana. Atau dibikin saja, pasti banyak yang suka...

Matur nuwun

Anonymous said...

Menurut saya ilmunya Pasingsingan bukan Karang kobar tetapi Alas Kobar

Andreas G

Anonymous said...

Sultan Trenggana adalah bukan baginda raja Mataram tetapi Sultan Demak.
Ajinya Tumenggung Prabasemi bukan sapu angin tetapi sepi angin menurut saya :)

Andreas G

Anonymous said...

bukan main cerita nagasasra ini, dari pertama kali baca, saya gak bisa berhenti, sampai terbawa mimpi pula.

Susunan kata-katanya dahsyat, kita benar2 hanyut dalam cerita.

bukan main

regards,
datamsb

Anonymous said...

Api di bukit menorehnya dong...

Anonymous said...

Pak, apakah cerita Nagasasra & Sabukinten pernah diterjemahkan ke lain bahasa, wah bakalan seru tuh, lagian orang luar pasti acung jempol buat Bp. SH Mintarja - orang Indonesia.

Saya pernah baca sedikit cerita 'Bende Mataram', sekarang lupa, bisa dimuat kagak yach?!

Anonymous said...

Nama aslinya Lowo Ijo itu siapa ya? rasanya waktu pertama kali baca Nagasasra sabukinten, saya merasa nemuin nama aslinya (tapi kemudian lupa :P), dan sampai berapa kali saya baca ulang gak bisa nemuin :(

Sedikit usulan: mungkin bisa ditambahkan kolom arti istilah2 jawa yang ada diserial ini, mungkin bisa menambah wawasan bagi pembaca yg bukan asli jawa (yg merasa jawa asli saja belum tentu tahu :P), soalnya sampai detik ini saya belum tahu artinya kata seperti : tatit, gandok dlsb.

Oh ya, matur nuwun sanget kagem Pak Mimbar yang telah meluangkan waktunya utk mengumpulkan serial ini. Sekali lagi terima kasih.

mfd@GL52

Anonymous said...

(1) Ki Kebo Kenanga itu putra Ki Ageng Pengging Sepuh (guru Mahesa Jenar)dan bukan Ki Ageng Pengging (tanpa sepuh). Dia adalah adik kandung Ki Kebo Kanigara alias Putut Karang Jati (nama yang dipakai sebagai "Putut" di padepokan Karang Tumaritis pimpinan Panembahan Ismaya alias Pasingsingan (sepuh, asli)yang bernama asli Raden Buntara (bukan Buntaran). Ki Kebo Kenanga mempunyai putra tunggal bernama Mas Karebet alias Jaka Tingkir yang juga bernama Putut Karang Tunggal kala mengabdi kepada Panembahan ISmaya di padepokan Karang Tumaritis.

(4) Kebo Kanigara bukan anak Kebo Kenanga, melainkan kakak kandungnya. Dia mempunyai anak tunggal juga bernama Endang Widuri.

(15) Nagapasa dari Nusakambangan bukan guru sepasang Uling dari Rawapening, melainkan guru guru Jaka Soka. Adapun guru sepasang Uling (Uling Putih dan Uling Kuning) adalah Sura Sarunggi.

Senjata (7). Bugel Kaliki memiliki senjata unik: selembar kain segi empat yang salah satu ujungya dipasangi timah dan ujung yg lain dipegang tangan lalu diputar diarahkan ke lawan

cakjoyo said...

Ceritanya menarik banget...tapi ada terusannya ndak ?

Mau tau ini sebenarnya..tokoh2 dan cerita fiksi atau sejarah atau fiksi+sejarah ?

karena saya lagi menelusuri garis-garis keturunan dari Mas Karebet. Sekedar utk mengambil spiritnya dan kebaikan2nya.

Eko said...

Wah jujur aja deh ... SH Mintarja (Alm) memang hebat dalam memaparkan sebuah cerita ..., bgitu terpukaunya saat membaca Nagasasra atau Api di Bukit Menoreh, dan sampai sekarang aku masih terobsesi dan ingin banyak tahu mengenai tokoh Pasingsingan itu ... kayanya jika jadi cerita sendiri mengasyikkan juga lho.

r3mmy said...

Tempat2 nya itu masih sama nggak yha dengan sekarang?
Wanasaba mungkin WONOSOBO,
Banyubiru mungkin di salatiga dekat rawapening.
Gunung Kidul Masih sama
Pangrantunan? Pamingit? Alas Mentaok? Candi Gedong Sanga? dan tempat2 lain.
siapa tahu teman2 ada yg berniat napak tilas.
terima kasih.

Mimbar Bambang SAPUTRO said...

Buku Nagasasra dan Sabukinten sudah diperjual belikan oleh Gramedia. Terdiri 3 buku Tammat.
Silahkan bagi yang berminat. Saya malahan mendapatkannya di Gramed Yogya

Agi said...

mas.. 'api di bukit menoreh' nya sebagus yang Nagasasra ga? saya pernah baca sedikit waktu kecil.. skrg dah lupa..
saya kira tokoh Mahesa Jenar bener-bener ada dalam sejarah.. taunya karangan aja ya oleh SH Mintardja.. tapi saking terkenalnya jadi dipakai sebutan buat PSIS Semarang ya...? hebat...

Anonymous said...

kalo Api di Bukit Menoreh setahu saya nggak pernah tamat, karena SH Mintarja sudah wafat....

saat ini di dunia maya, cerita mengenai Api di Bukit Menoreh ini dapat diikuti di website-nya mas Rizal : www.cersiljawa.blogspot.com

Anonymous said...

makasih banyak atas infonya. saya sangat suka cerita ini. saya salum buat semua yang terlibat di sana...
makasih,
salam buat para penggemar nagasasra dan sabukinten..

Ivonda P
pristyan@yahoo.com
penggemar budaya jawa

Anonymous said...

Mahesa Jenar adl tokoh yg manusiawi
pny dendam, cinta, kesetiaan, ambisi, amarah, kebijaksanaan, loyalitas dan anggah - ungguh
jg tdk digmbrkan sbg tokoh paling sakti namun dpt memaksimalkan kesaktianny.

Bawono said...

Ada yang menghubung-hubungkan bahwa : Mahesa Jenar atau Manahan ini adalah Ki Ageng Pemanahan, yang menurunkan Sutawijaya (raja pertama Mataram) dan Kebo Kanigoro adalah Ki Juru Martani, penasihat Panembahan Senopati. Sedangkan Karebet (Joko Tingkir) jelas adalah Sultan Hadiwidjaya raja kerjaan Pajang yang adalah ayah angkat Panembahan Senopati.

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My Photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com