Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 27, 2006

Euis diraosan heula

Banyak buku membahas teknik menulis di pasaran. Ada yang sederhana, banyak pula yang njelimet. Apalagi yang pelit akan contoh sehingga penuturan terkesan menggantung. Bani Quraisy, ini penerbit asal Bandung, menerbitkan buku yang menuturkan cara sederhana mengelus tulisan dari aneka posisi.

Ketika membicarakan Feature Humor tentang dukun mencabuli pasiennya. Pasien serba salah, mengaku pintar namun berhasil diobok-obok oleh dukun yang SD pun tak tamat. Jika lapor polisi, kawatir pula aib bakalan terpercik. Septiawan, sang penulis buku dengan enteng ia mengambil tulisan di Galamedia (Jabar) yang berjudul "Dukun Eng Ing Eng" yang sering gebubul dan gede wadul karena otaknya amburadul. Seperti pengakuan seorang Euis Bandung, Rosa (24) nama samaran pasien yang sempat di raosan heula (coba dulu) oleh dukun cabul. Sebuah parodi lirik lagu Euis "Euis Kaantosan Heula" menjadi Euis diraosan heula."

Tengok pula feature yang menyentuh rasa kemanusiaan. Seperti Pembebasan Ferry Santoro yang disandera GAM. Penulis berita "langsung" lebih banyak melaporkan para sandera yang kurus, hampir hilang ingatan.

Namun dengan penulisan feature, pembaca diajak menyelami perasaan Teuku Ishak sang "master mind" GAM yang harus mahir bersilat lidah dengan anggota Palang Merah Internasional sebagai mediator pembebasan sandra. Bila ia melepaskan sandera, bisa berarti nyawa mereka terancam lantaran TNI bakal segera merangsek maju dengan persenjataan dan jumlah yang lebih besar. Padahal saat itu para sandera dalam keadaan terpencar dan mustahil menyatukannya tanpa terjadi kontak senjata.

Dalam genggaman pena wartawan, pembaca seakan mendampingi Ishak, melihat pemimpin GAM seperti kita menilai polisi atau tentara sehari-hari. Kata-kata pemimpin di media nampak manis humanis, namun kenyataan lapangan sering berbicara lain. Bahkan tatkala perundingan gagal Teuku Ishak nampak tertekan namun berusaha menyembunyikan perasaan kecewanya. Ia lalu bernyanyi sebait lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak. Kotek Anak Ayam.

Dengan aksen Aceh menyebut "t" menjadi "th" seperti. " Lagu gembira konotasi lucu ditelinga bukan Aceh bisa berubah lagu kematian manakala seorang anak ayam (sandera) tewas yang ironisnya ketika akan dibebaskan, bukan oleh penyandera. Para sandra tahu bahwa peluru pembebasan bisa tak bermata. Nyawa setiap saat bisa terangkat dari jasad. Maka tak heran ada wartawan "sandra" yang menangis mendengar lagu tersebut.

Kalaupun anda masih setia dengan rumus mengarang yang diajarkan guru kita semasa SD yaitu 4W+1H. Septian memberi contoh secara aktual. Uniknya ia mampu melihat bahwa cukup dengan satu unsur, misalnya "Who" sudah bisa menulis satu artikel "mayan" menggigit.

Atau anda tertarik gaya penulisan dengan lead menggoda... "Ada tidak sih harga yang tidak naik di Indonesia. Ternyata masih ada. Harga nyawa manusia. Dibumi Osing harganya malahan anjlok. Sampai Oktober (1998) sudah lebih 100 orang terbunuh. Para korban terbunuh karena dituduh sebagai dukun santet..."

****
Gaya menulis feature adalah gaya "terlambat" dalam artian positip - sebagai penyeimbang gaya penulisan berita yang serba hangat dan cepat. Ketika jumlah koran begitu beragam, lalu muncul media TV, radio, dan Internet, semua kejadian dimuka bumi dalam sesaat sudah menyebar. Tiada berita yang terlewatkan. Majalah yang terbit mingguan atau bulanan harus tampil beda, lebih mendalam, lebih menyentuh perasaan jika tidak ingin tertinggal. Konsepnya bagaimana membuat tulisan yang "laat" seminggu namun disajikan menjadi lebih lezat, bak lodeh tempe "wayu" yang makin dihangatkan makin meresap bumbunya. Lalu muncul teknik "feature" alias karangan khas.

Kalau anda sering ngeces membaca kemahiran penulis Gatra, Tempo, Kompas dalam menggumuli aksara sehari-hari. Septiawan Santana, membantu anda menguak misteri penulisannya. Enteng dan tidak terkesan menggurui.

Judul Buku
Menulis Feature
Penulis Septiawan Santana
Pustaka Bani Quraisy Bandung
Tebal 328 halaman
Opat Puluh Opat Rebuk

Mimbarpedia:
mayan : dari kata lumayan
diraosan heula : sunda dicoba dulu
wayu: lewat masa berlaku, tidak segar.
Osing: Banyuwangi

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com