Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 20, 2006

Raja Manis, Biang Gula

Date: Fri Jan 13, 2006 4:15 pm

Kentrung kentrung kentrung suara kendang dipukul...

"Sodara-sodara seguru seilmu jangan mengganggu. Kami sekedar cari makan disini, bukan cari musuh. Tetapi bukan berarti bila ada yang ingin coba-coba, mari! ibarat kata pepatah, musuh jangan dicari, datang kemata jangan dipicingkan, datang ke perut jangan dikempiskan. Saya selesai bertapa dimana rimba berlayar dimana benua. Mari, demikian tukang obat memulai propagandanya. Ini memang gaya pasar, bicara kelihatan merendah, tetapi dibaliknya selalu ada ancaman terselubung.

Untuk menarik perhatian, ular sawah yang taringnya sudah dicabut, dililitkan kelehernya. Kadang binatang ini melata di pelataran parkir. Kadang ular sawah yang dimasukkan ke kotak mencoba untuk keluar. Lampu petromak yang dijadikan penerangan ditaruh di tengah lingkaran penonton. Bau minyak tanah terbakar bersamaan dengan asap spiritus merangsek hidung saya. Disela-sela sinar, terbersit embun buatan hasil semburan ludah tukang obat yang berbicara berapi-api.

Saya ikut jongkok diantara anak-anak "celana pendek" lainnya disuatu pelosok kumuh pasar Kertapati Palembang. Bau apek "prengus "menyeruak dari tubuh kecil teman-teman yang banyak bergerak bermain, namun tidak banyak mengutamakan kebersihan (maklum mandi di kali Musi, tanpa sabun).

Percaya atau tidak, cita-cita saya dulu pingin jadi tukang obat. Pasalnya dimata saya orang ini hebat. Piawai bicara di depan public, dan gaya bahasa yang persuasive. Apalagi kadang mereka menjadi "pendahulu pak Naek Tobing". Istilah (maaf) mani encer, dengkul kopong, perkakas loyo lantaran royal diwaktu muda, onani, dan segala istilah "dunia bawah" maksudnya bawah pusar, hanya saya dapatkan dari perpustakaan hidup tukang obat.

Si kumis melintang dan bergelang akar bahar, meneruskan propaganda dagangannya lagi seraya berceloteh.

Mari! sodara, mari!saya perkenalkan sebuah terobosan teknologi Sputnik.. Mari (Waktu itu Rusia berhasil meluncurkan Sputnik). Lalu ia mulai menggelar dagangannya berupa butiran serupa gula namun lebih kasar dan besar. Ini raja manis, raja dari segala raja gula, biasa di rumah bapak ibu pakai satu sendok gula pasir buat bikin kopi, buat memasak, sekarang jaman teknologi modern, jaman berhemat, dengan satu sampai dua biang-gula, maka di jaman serba susah ini semua masalah teratasi. Bagi yang berpenyakit kencing manis (belum ngetren istilah "diabetes") biasa pantang gulapasir, sekarang dengan si raja manis anda bisa minum manis sepuasnya tanpa kuatir penyakit anda."

Soal harga, ini harga perkenalan (bukan promosi), harga kami bikin banting serendah-rendahnya. Kebiasan tukang obat selalu memberikan jeda saat akan mengatakan harga "obat penolong" ini kepandaian yang membuat penasaran kami sang penonton cilik.

Sementara ia menyapu keringat yang "kotos-kotos" pembantunya meneruskan memukul kendang lalu ia mulai mengedarkan dagangannya. Dan baru menyebut harga. Bagaimana tidak hebat. Si kumis melintang menohok pendengar dengan kata kunci, terobosan teknologi jadi si pembeli adalah orang yang tidak gaptek, bisa dikonsumsi tanpa kuatir efek samping, siapa sih tidak ingin hidup nikmat tanpa diet, plus harganya murah pisan.

Inilah perkenalan pertama dengan bahan kimia yang sekarang dikenal sakarin kedalam darah saya. Pulang sekolah kalau ada uang jajan, maka yang diserbu adalah es kipas. Serutan es halus ditangkup diantara dua lempeng cetakan terbuat dari kuningan agar padat dan ditengahnya disisipkan tangkai kayu untuk dipegang. Agar menarik perhatian anak-anak, maka penjual mengecroti gula dengan warna merah, kuning, hijau pendeknya semeriah pelangi. Larisnya bukan kepalang, apalagi saat jam "keluar main"

Hanya teman yang rada sensi bilang, kok kalau esnya habis, dimulut rasanya pait yah! Bagi saya mana sadar ada sakarin dan zat pewarna rhodamin "B" dalam pemanisnya apalagi dasarnya saya kenal makanan cuma enak dan uenak tenan.

Kalau diingat saat kejadian pada sekitar tahun 1960-an, berarti salah satu anak bangsa ini sudah menjadi "zombie" selama 45 tahun lebih karena dijejali segala macam pengawet mayat, pewarna baju entah apa lagi. Kok ya baru sekarang diangkat kepermukaan.
Mudah-mudahan aparat tidak hangat-hangat kotok ayam.

Australia 13 Jan 2005

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com