Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 19, 2006

Bali dan Security Bandara

Date: Wed Oct 26, 2005 3:34 pm

Sekali tempo dari Jakarta ke Bali dengan pesawat malam hari. Sampai di Bandara Ngurah, stress takut akan ketinggalan pesawat ke Australia, penyakit kronis kalau bepergian, dengan sebat saya menyalib penumpang lain yang masih mengantuk dan lelet untuk menuju Airporto Internacionale Ngurah Rai. Bayangkan langkah kecil saya diiringi musik jenis soundrenaline dari Raja dengan hit Cinderella.

Ternyata mlecing keluar pesawatpun berbuntut mubadzir. Pasalnya pintu menuju bandara Internasional masih terkunci. Cuma terlihat meja dan kursi kayu yang jelas kosong tak berukir. Setelah beberapa saat tengok kiri, kanan kulihat (tidak) banyak pak Wayan sang satpam (beberapa teman saya warga keturunan selalu menyebutnya SATAM tanpa "P"), berlari tergopoh.

Lagu Cinderella diputar lagi. Tapi ternyata iapun tak memiliki kunci. Ring.ring.. wrong number. Ada barang 5 menit menunggu, pintu terbuka dan berjalanlah saya melalui lorong ala zaal Cibizet. Lagu Cinderella lagi. Beberapa bangku berukir Bali nampak dijungkirkan agar tidak kehujanan. Para supir bandara nampak terlelap dalam kendaraannya. Tidak ada petunjuk menuju bandara International, lalu berjalan sendiri di lorong yang lengang begini rasanya seperti jalan tak berujung.

Eh kok petugas screening masih lelap tertidur dikursinya. Lagu Ello "Pergi tak kembali."

"Pak tolongin bagasi saya dipereksa." - pak Wayan (begitu kata orang Citayam menyebut semua orang Bali), langsung tergugah dengan membuang rasa pusing, maklum mimpi indah terputus dan ceklek menghidupkan mesin pencari barang terlarang, saya tidak tahu apakah mesin tersebut perlu dipanaskan dulu, pokoknya barang masukkan. Dan kali ini tanpa perlu langsir. Maklum operator masih mengantuk.

Di loket check in, bulu kuduk seperti menangkap getaran tajam. Saya menoleh ternyata seorang petugas memperhatikan saya dengan seksama. Lalu menawarkan cara membayar fiskal alternatip, pokoknya suka sama senang. Kalau tarip resmi 1 jeti, mereka bisa separuhnya "flat" masih dapat kwitansi untuk re-imburse di kantor.

Saya tepiskan tawaran mas Wayan tadi. Lalu bergegas bayar fiskal. Repotnya, setelah anda pakai eskalator untuk check in, kini harus lalu balik turun ke loket bayar yang ditunggui petugas terkantuk-kantuk, lalu balik naik ke atas untuk masuk ke ruang tunggu. Ternyata ruang tunggu yang mana belum ditentukan. Layar monitor TV masih gelap .

Dan saya baru tahu bahwa sejak pimpinan Bandara yang baru, maka beberapa kebijakan diganti. Contohnya menghapus sarana umum seperti tilpun umum, dan memperluas komplek pertokoan karena memang menghasilkan fulus. Lalu soal monitor yang mati, itu akan dipikirkan kemudian. Bukankah kalau waktunya tiba maka pemberitahuan dibaca secara jelas dan berulang-ulang. Padahal di Bandara lain pembaca berita terkesan kenes. Untuk pengisi waktu saya isi dengan "Gates Shoping" - mohon maaf, ini bukan Bill Gates yang heboh akan bagi-bagi rejeki lewat email. Padahal baru dibajak Windownya oleh negara penghutang terbesar ia sudah mencak-mencak sudah mengajak dunia seantero jagat untuk mengucilkan negara pembajak hak intelektual.

Tidak lama kemudian datang serombongan pramugari Garuda yang dengan langkah anggun, penuh percaya diri menyeret kopor beroda lanjut masuk gerbang 9, saya ambil jurus maju tak gentar ikut yang benar. Tidak lama terjadi dialog. Pak Wayan lalu menilpun pak Wayan yang lain menanyakan soal gerbang. Kesimpulan yang didapat, gerbang yang beruntung pagi itu adalah nomor 5, yang sial kami-kami inilah terpaksa balik kanan ngeret-eret barang kembali sepanjang jalan kenangan. Sial bener.

Tindakan kami diikuti oleh para wisman lainnya. Namun masih ada gangguan lagi, ketika pak Wayan yang lain menanyakan pas masuk dan kupon pajak penerbangan, ada diantara para bule yang mbludus tanpa bayar airport tas, pasalnya memang petugasnya masih pada tertidur.

Soal keamanan yang kedodoran bagi kita tak jadi mengapa. Bukankah ada pepatah Postman Never Ring Twice, Bomb Never Strike Twice. Itu rencananya. Kita berharap dunia mengikuti aturan yang kita inginkan. Kalau kita lengah, berharap para teroris juga sama ngantuk dan cerobohnya dengan kita.

Seminggu di Australia, bom Bali Strike Twice menggelegar lagi..

"Ah polisi Indo pintarnya menangkap dua butir pil," tuding Jim teman saya berpangkat Radio Operator yang gemar membicarakan politik negeri lain.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com