Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 19, 2006

Gara-gara Radio Silent, hidup seseorang hampir terbungkam selamanya

Date: Fri Oct 7, 2005 2:18 am

“Radio Silent” dalam operasi pengeboran adalah suatu keadaan dimana hubungan dengan dunia luar diputuskan. Alias sepi “nyenyep” berhubung semua alat komunikasi di “off” kan. Mulai dari pemakaian Handy Talki, Internet, Telephone, juga televisi semua dimatikan. Bagi pekerja minyak akan maklum sekali mengapa saat pesawat lepas landas, atau akan mendarat pramugari-a miwir ceriwis meminta HP dimatikan sekalipun “sekedar sms doang” – atau “ngasih tahu supir untuk jemput di airport”

Biasanya “radio silent” berawal dari operasi penembakan sumur oleh perusahaan jasa seperti Schlumberger. Menembak artinya disini mengaktipkan sumbu detonator dibawah permukaan tanah sehingga muncul lidah api las yang nantinya akan menembus lapisan dinding baja pelindung lubang bor. Awam mungkin agak sukar membayangkan sebuah lubang masuk keperut bumi sampai 4500 meter, dengan suhu mencapai 170-an selsius, sudah gelap lagi, masih basah digenangi cairan lumpur bor. Eh kok ya ada yang sengaja mengelas jarak jauh dikedalaman nun jauh disana.

Tapi akibat “tapa komunikasi” ini bisa berujung maut.
Hari menjelang jam 8 malam ketika sebuah perahu berisikan penggemar pancing hampir nyaris tak terkendali mendekati rig yang tapa bisu sambil mencoba memberitakan keadaan darurat akibat mereka tersengat ubur-ubur..

Terang saja tidak mendapat respons.

Beruntung kedatangan perahu tadi sempat terlihat oleh pekerja rig sehingga pemancing yang sudah separuh semaput dibawa ke rig. Walaupun sering dengar dari mas Jerry sang penyelam kawakan bahwa sengatan ubur-ubur yang nampak imut-kiut bisa mematikan, namun baru kali ini percaya sakpercaya-percayanya bahwa sikiut ini memang tidak bisa dianggap main-main. Dulu waktu kecil main dilaut kalau kena ubur-ubur, maka teman-teman beramai-ramai mengencingi sang korban sambil tertawa-tawa.

Korbannya sih meringis dan jijik.

Kalau sakit gigi saja sudah bisa dijadikan alasan untuk memulangkan seseorang.
Bagaimana dengan nyawa nelayan ini. Tanpa banyak cakap. Malam itu juga helikopter didatangkan. Sebuah operasi luar biasa mengingat penerbangan dilakukan malam hari, menggunakan sebuah heli super puma. Ini kalau hitungan dagang sudah babak belur. Selain biaya besar juga amat berbahaya mengingat di rig tidak memiliki peralatan canggih seperti di bandara jika misalnya ada kabut dsb. Pilot dituntut mengantongi jam terbang tinggi, dan kerap melakukan latihan khusus terbang malam. Namun demi sebuah nyawa hal tersebut dilakukan tanpa menunggu birokrasi dari atas dan dari atas dan dari atas lagi.

Paramedik yang bertugas di rigpun sampai harus dibawa menyertainya.
Keesokan harinya pihak penjaga pantai sudah menilpun rig menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas pertolongan kepada korban yang memang diberitakan hilang dan loss contact. Tapi dapat penghargaan begitu, dasar orang banyak ada yang usil nyeletuk “just another useless guy..”

Masak pemancing dibilang “useless guy” – ada hembusan cemburu sosial disini. Yang satu meras kerja berkeringat cari makan, yang lain cari ikan sambil cari keringat.
15147

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com