Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 19, 2006

From Citayam with Infus Listrik

Date: Sat Sep 10, 2005 1:09 am

Sekalipun baru dalam hitungan jari (maksudnya jari tangan orang se peleton), di Rawabogo, Bekasi 17422, dalam obrolan ngalor-ngidul saya tidak lupa untuk empromosikan tumpah darah gurami, Citayam dengan segala "glorious-story" nya. Respons teman se ErTe Rawabogo umumnya dingin. Kaya apa Citayam, kaya apa kolam Gurami, apa beda dengan kolam pemancingan ikan mas yang embel-embelnya taruhan biar tambah "gumbira'. Belakangan ini kang Dedi, demikian saya memanggilnya tergopoh-gopoh menyampaikan berita bahwa tadi malam Citayam masuk TiPi.

"Apa pasal?" tanya saya.

"Pencurian listrik!, di Komplek Atsiri, PLN Depok dirugikan 1,2 milyar"

Weleh sekali-kalinya masuk TiPi kalau tidak penyerobotan tanah dan penyerobotan listrik. Beberapa tahun lalu saat terjadi krisis moneter sebagian penduduk pinggiran bekas perkebunan karet mematok tanah-bekas perkebunan karet. Sedianya karena karena himpitan beban ekonomi, penduduk menjadi penggarap, untuk memanfaatkan lahan tidur. Namun ada yang terlewatkan, kenyatan bahwa tanah pertanian perlu pupuk, bibit, pestisida dan biaya pemeliharaan. Akhirnya tanah-tanah tersebut mulai "diiris-iris" guna keperluan mantu atau nyunatin anak. Ujung-ujungnya, penduduk Jakarta yang mulai merambah tanah-tanah tersebut (blush).

Setelah tanah mulai dimiliki penduduk Jakarta, muncul isue, penyerobotan tanah oleh orang "Jawa" - padahal selain ada nama Bambang (blush), ada pula namboru Siagian tetapi sialnya cuma satu kata yang muncul "Orang Jawa."

Nama ATSIRI sejenis getah dengan rasa pedas, umumnya dihasilkan dari tanaman cabe, dimana drama berasal. Sebagai komplek pertanian, maka komplek ini patut menjadi potret dunia pertanian kita. Blangsak! dengan pohon penghijauan berstatus mati enggan hidup tak mau, atau maunya jadi "taman" namun isinya suluran liar. Lantaran tiadanya penerangan jalan sekalipun setiap kali bayar tagihan PLN selalu saja kami ketambahan retribusi PJU (Penerangan Jalan Umum) yang entah kemana perginya, maka penduduk ATSIRI pada khususnya, Citayam pada umumnya melakukan swadaya meng"infus" listrik langsung dari tiang tilpun dan memasang penerangan jalan.

Kata orang Citayam, "ceritanya sih sampai sini masih baek-baek aja"

Namun, beberapa oknum punya kelebihan kabel listrik, kelebihan akal, dan opini yang nakal. Dan kabel inilah yang bakalan nyantol lagi ke rumah pribadi, menyalakan TiPi, Kipas Angin, lari ke penerangan Kolam ikan, menghidupkan pompa untuk sirkulasi air dari kali ke kolam ikan masnya selama 24 jam, kandang Kambing, kandang ayam, dan semua berasal dari "infus" alias ngganthol.

Untuk jelasnya, tiang listrik di Citayam saya, akan nampak saluran infus ke rumah Wan Sariwan, Wan Mistah, Haji Nadhar, Bang Sarmat (ini nama fiktip dan sengaja gelar keagamaan tidak disertakan demi nama baik dan citra baik para Penggantol listrik" dan dari sini masih bererot ke tetangga sambung menyambung berjamaah dengan memanfaatkan pohon jambu bol, nangka, kelapa, atau rambutan, sebagai pengganti tiang listrik, nggak heran PLN merugi. Curangnya PLN, giliran sang pelanggan setia dan takut melanggar, karena satu dan lain hal terlambat bayar. Tidak pakai tunggu lama, datang petugas untuk menyegel meteran. Sementara pencuri listrik terang-terangan bisa terang terus, dan gratis.

Jangan heran sekalipun sitok srengenge sudah gilar-gilar di ufuk Timur, lampu-lampu infus masih gagah methentheng bersaing dengan sang Surya. Lha gratis je.

Kadang saya mengangkat diri menyampaikan pesan walau satu ayat..

"Alkisah, bung Hatta semasa hidupnya pernah diberi sebuah mangga oleh temannya. Sebelum dikupas dia bertanya asal mangga tersebut. Bukan main marahnya bung Hatta tatkala tahu bahwa mangga tersebut "boleh-nyambit" dari ranting mangga yang menjulur ke jalanan."

Bagi proklamator yang bercita-cita pakai sepatu Bally ini seperti menyampaikan pesan, kecil atau besar, pencurian adalah pencurian. Titik habis perkara.

"Dakwah" karbitan saya sepertinya meresap 1 %. Sebab berselang waktu mereka megalihkan keahliannya menggondol Gurami, Kambing, Ayam, dan TiPi saya Sial bener. Bayangkan saya memiliki Gurami 200 induk, pada bulan Maret 2006 - seorang pencuri yang juga anak Citayam, yang guja pernah bekerja dengan saya, mengobok-obok kolam dan ketangkap basah. Tetapi Gurami tersisa tinggal 12 ekor, Jantan semua. Huu.

Jadi tatkala beberapa minggu lalu ada kabar mengenai pencurian listrik di Citayam, saya tidak heran lagi. Kalau tanah saja bisa diserobot, apalagi listrik yang tidak kelihatan.


Bekasi 9 September 2005
Mimbar (Bambang) Saputro
Pemerhati Citayam
Sering tinggal di RawaBogo

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com