Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 20, 2006

Penyaringan Pegawai di mataku

Bicara soal menyaring pegawai memang perkara luar biasa dan unik di negeri ini. Pertama kita bicara mengenai masa depan seseorang, kedua menarik data pelamar, melakukan penilaian hanya dalam hitungan menit. Biasanya dari biodata pelamar, pemilih sudah mulai membaca dan sedikit berintuisi "gut feeling" apakah seseorang memang diangkap cocok memegang tanggung jawab yang kelak akan diserahkannya.

Sesuai dengan pengetahuan saya pembicaraan dipersempit di bidang mudlogging. Tujuh belas tahun lalu saat menyaring pegawai, termasuk mas Cecep Sugiyanto, langsung beliau kami putuskan untuk diterima hanya dari saat "pandangan pertama" mereka memasuki ruangan interview. Saya menggunakan isyarat bahasa tubuh mereka seolah bercerita kepada tim penguji bahwa ia mampu atau tidak untuk menjadi MudLogger.

Dalam filem "My Wife Teacher" digambarkan seorang ayah yang memang keluaran Harvard University bercita-cita memiliki anak mengikuti jejaknya. Saat yang dinantikan tiba yaitu Interview. Sang penguji yang mirip Condy Rice kalau sudah gendut langsung mengatakan "You are not belong to this Harvard University"- gebleknya sang anak menjawab "emang iya, saya kesini karena ayah saya yang suruh.."

Kriteria untuk menjadi mudlogger harus memiliki mata setajam rajawali, dilihat dari cara dia berbicara dengan matanya, memiliki kaki setangguh "Bruce Lee" - dilihat dari caranya ia berjalan, gerakan tangannya sibet harus. Cara duduknya semua dinilai. Syukur kalau suka melayang ala stuntmant di kerek kabel baja di ketinggian 35 meter, tidak alergi melihat keyboard, dan doyan oprek mekanik dan sedikit solder listrik.

Ini penting lantaran mudlogger harus mengawasi paling tidak 25 sensor pengeboran, kadang 12 jam harus berdiri dan berlari, tempo-tempo kehujanan, sering juga tanpa istirahat dan makan. Kalau ukuran "cc" otak, rasanya cukup yang sedang-sedang saja. Selama bisa baca nomor dan tandatangan cek, sudah cukuplah. Tidak jarang saya menerima pegawai, yang semula tidak masuk hitungan, tetapi karena kegigihannya, kami terima juga.

Kadang terjadi selisih paham dengan anggota penguji lainnya. Maklum kadang mereka berasal disiplin ilmu yang pekerjaannya mengunyah buku-buku tebal keluaran asing sehingga paradigma yang dipakai dalam mencari pegawai berstandar Harvard University, harus ber-ip diatas sekian, ber-toefl sekitar sekian, mampu mengerjakan psi ko-test dengan skore sekian. Sampai kadang saya bercanda "Are you looking for Nobel Price Candidate or Mudlogger".

Kalau argumentasi pertama saya dimentahkan, bahwa kita memang perlu cari manusia super ini super itu super anu. Pertanyaan susulan dari saya adalah "are you going to pay high standard or just enough to feed your shepperd dog?"

Apakah teknik saya ini valid?

Jujurnya, tidak selalu. Ternyata semaksimal apapun yang saya menggunakan intuisi sampai institusi toh judgement saya sering "mingsleh" alias meleset. Ada pelamar saya Ponis "hopeless" sebagai mudlogger - dibelakang hari menjadi manager perusahaan minyak besar, dan giliran saya yang mundhuk-mundhuk meminta beliau tanda tangani cek
saya.

Mengapa saya kurang perduli dengan kecerdasan?

Sesuai dengan pekerjaan yang akan dihadapi. Kami tidak membuat bom atom ataupun semacam rekayasa genetika. Cukup dengan semangat ingin bekerja, tidak gampang bosan dan tahan bekerja dibawah tekanan.

Ijinkan saya berteori sedikit.

Kalau untuk mudlogger sedang saya pakai skalanya misalnya 3-4. Orang cerdas dengan IP tinggi kita pasang pada skala (4-5), ibarat pisau menggunakan orang terlalu cerdas untuk pekerjaan mudlogger adalah salah sasaran. Mereka yang cerdas merasa bekerja tanpa tantangan dan akhirnya cepat bosan. Ujung-ujungnya mubadzir.

Bagaimana dengan Australia?

Menjadi mudlogger di Australia, anda boleh dari mekanik pesawat, lulusan binus Australia, atau apa saja. Mudlogger tidak diberi beban yang tidak seharusnya. Jadi kalau ada geologist atau petroleum engineer melamar, dan cocok kami anggap bonus.

Tetapi Australia adalah negeri kaya, mudlogger Australia hanya betah 3-6 bulan. Lama-lama jumlah mudlogger Australia bisa dihitung dengan jari, mereka terdesak sehingga muncul issue "Indonesian Connection" atau "Pilipino Connection." Bahkan lebih spesifik lagi Ozzie yang pernah bekerja di Indonesia, kalau tahu kita dari Indo akan komentar "I see, Yogya connection..."

Saya hanya bilang "Dagadu Connection"....maksudnya sih Connection matamu itu...mudah-mudahan dia tidak belajar slank Yogya.


--
Bekasi
3/16/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549
http://mbslove2006.blogspot.com

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com