Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 20, 2006

Kunci Mobil walau di rumah

Date: Thu Feb 23, 2006 7:45 am

Di akhir bulan keluarga muda Dodi nampak sumringah, maklum baru terima gaji sekalian turun tunjangan untuk penampilan seperti beli dasi dan baju. Kata Ana istrinya, kalau semua keperluan hidup sudah di "cak-cak-e" alias sudah di-pirit-pirit tidak perlu ke kedodoran moneter dalam sebulan. Salah satu kebijakan moneter keluarga beranak dua ini dengan berbelanja bulanan di sebut saja CarreFour. Kenyataannya minggu kedua sudah ngelendoti sang suami. "Pah ada obralan anu di CF, kalau lewat bakalan nyesel seperti Bang Toyib. Tiga kali puasa tiga kali lebaran," itu bisa-bisanya sang istri merayu suami apalagi ada tambahan "Parkir nggak bayar pisan..." - sebuah imbauan yang susah di-cancel.

Pulang dari pertokoan, bagasi belakang Kijang dibuka dan bibi dipanggil untuk bantu bawa belanjaan. Namun anak bungsunya, Dito, masih ingin main di mobil. Aktivitasnya mulai dari, pencet klakson, mainkan wiper, banting stir ala Ananda Mikola.

Seperti penyakit "turunan" sampai di rumah dan kantong belanjaan di buka ternyata Ana nampak celingukan lantaran barang penting seperti gula, kopi, yang harusnya dibeli, malah kelupaan, sementara yoghurt, kacang garing, biskuit, mainan anak, permen, yang di luar anggaran, malah bejibun.`Lho catatan belanja "rintip-rintip" dari rumah ini ternyata sudah dilanggar, gara-gara penampilan SuperMarker yang tebar pesona.

Sementara pasutri sedang sibuk di dalam rumah, di luar rumah terdengar`teriakan. Ternyata Kijang perlahan-lahan mundur setelah rem tangan di release oleh sang anak yang berusia 4 tahun. Sementara pemilik merasa tidak perlu mengganjal ban lantaran percaya keampuhan teknologi "fool proof" bernama Rem Tangan. Ditambah "carpot" sudah ditinggikan 1 meter, maklum Grogol bermoto "pejah gesang nderek banjir" maka mobil dari merambat mengalami percepatan secepat gerakan tektonik melaju. "Gedubraak" satu penghalang berupa pagar geser besi BRC sudah jebol diunduri Kijang. Toh belum mampu menghentikan laju Kijang. Kali ini Kijang berhasil melintas jalan Muwardi Raya yang biasanya teramat padat kendaraan Bus, Angkot dan mobil pribadi. Ikutan bahasa flamboyan "Romo Sepuh" - Roy Martin - "bala tentara malaikat kecil" masih melindungi sang Kijang dan supir ciliknya. Ndilalah saat itu di TKP, Muwardi Raya sedang sepi lalu lalang.

Serentak bala-tentara-warga mencoba menahan lajunya mobil sambil teriak minta bantuan. Namun apalah daya 3 lelaki dewasa menahan laju mobil meluncur 4 m dari ketinggian 1 meter dan kemiringan 15 derajat.

Setelah adu kekuatan sebentar, Kijang keluar jadi pemenang. Sebuah bajaj yang sedang turun ban kiri diseruduk penyok dan warung rokok diseberang jalan sempat disikutnya. Sang ibu, seperti layaknya acara TV, lebih banyak berteriak histeris sambil gedruk-gedruk ketimbang berbuat sesuatu.

Ini memang warisan alam pedesaan, dimana hama seperti burung pipit, babi celeng bisa diusir dengan teriakan sekuat tulang. Akhirnya, seperti di TV, rumah terbakarpun disolusikan dengan gedruk-gedruk. Anak ini sekarang berusia 5 tahun, mewakili DKI Jakarta Barat dalam pertandingan komputer anak Nol Besar. Kalau ditanya "kamu kecil-kecil sudah pintar stir kijang," mukanya berubah dan langsung menjawab garang "hentikan, plis, jangan dibahas Pakde!, aku sudah letih menjawabnya" - sinetron bangget ..

****

Di Lampung ketika ibunda masih ada, saat Lebaran anak-anak dan cucu pada ngumpul padahal rumah kecil, carpot hanya muat untuk satu mobil kecil. Lantaran Lampung juga tak bersih lingkungan pencurian, mobil bapak terpaksa mengalah, dan menjadi sarana pengangkutan kesana kemari. Pertama mobil dikuci. pasak kayu dipasang didepan ban. Lama-lama mobil dibiarkan parkir di luar, tak terkunci. Toh sepuluh menit lagi pasti mengantar Erni ke Pasar Kangkung, untuk beli telur dan sayuran.

Keponakan saya IMAM (7) dengan temannya memanfaatkan kesempatan "platinum" ini ini. Mereka menyelinap lalu main mobil-mobilan. Bosan dengan main stuur, rem tangan mobil direlease, dan mobil turun ndronjong lantaran kayu ganjal ban pun "lupa dipasang". Siapa nyangka keponakan bengal beraksi.

Kemungkinan stop hanya pagar Kantor Pos atau Bus-Surat setinggi manusia atau mobil melompat 2 meter ke kantor Dispenda Bandar Lampung. Maklum rumah kami cuma berapa hasta dari kedua kantor pemerintah tersebut.

Lagi-lagi kepanikan terjadi, kumandang "Ya Allah, Astaga, Matilah Aku" seperti bersautan dengan teriakan histeris karena belum tahu siapa aktor stuntman dibelakang kemudi. Lalu saya lihat pintu kanan mobil terbuka, rupanya Imam menyadari bahaya, dia ikut gaya di filem melompat keluar dengan resiko babak bundas melompat dari mobil sambil bergulung, hanya membekas sedikit baret. Sementara temannya sudah jauh-jauh hari "kaku " lantaran sekok dalam mobil.

Charade tua memilih stop setelah menabrak opsi pertama yaitu tembok Kantor Pos. Imam sendiri baru menangis setelah ayahnya menghajarnya habis-habisan. Maka drama yang paling tidak saya sukai terjadi di hidung kami. Anak dipukuli sampai teriak-teriak.

Anak kelahiran Jambi ini nekat luar biasa. Pernah menyusul saya di hotel, lalu didepanku ia melompat ke kolam renang, "klubak-klubuk" dari tengah ke pinggir kolam, dan baru dia mengaku "aku idak pacak berenang pakDe..." aku tidak bisa berenang Pakde. Rupanya ia melihat yang lain bisa berenang dengan hanya melompat sejauh bisa ke dalam air. Ia pun latah tanpa sadar berenang juga "ada Elmunya Cing!"

Maka ketika saya baca berita bahwa pada Kamis 17/2/2006 bocah Rizal (3,5) dan Jaka (5), terjebak seharian dalam mobil Mercy Tiger 280 warna Putih sampai tewas (Rizal), sedangkan Jaka (5) nyaris terenggut nyawanya. Ingatan saya kembali ke kedua peristiwa yang nyaris meminta jiwa keluarga terdekat saya.

Saran saya kuncilah mobil anda waktu parkir. Ganjal bannya dengan batu atau kayu.

Jangan karena sayang anak lalu meninggalkan bocah dalam mobil. Plus jangan under-estimate anak-anak mereka bisa melakukan hal yang tidak terduga, kendati dia baru usia 4 tahun, namun mereka memperhatikan apa gerak-gerik kita saat menyetir mobil. Dan itu ditirunya habis.

Bekasi 24-2-06
Mimbar

Paling sebel kalau parkir diturunan, dikomandoi "bos-kasih perek-jangan di rem" sambil tangan juru parkir menggenggam jari kebawah lalu menggoncang tangan kekiri dan ke kanan... Lha kalau ndronjong nabrak BMW didepannya, TANYA KENAPA!...

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com