Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 20, 2006

ToadZilla

Date: Wed Feb 1, 2006 7:40 pm

Di siang bolong begini, televisi menayangkan wajah-wajah mahluk ala reptile. Lalu diisi narasi dengan tekanan suara ala Rippley Believe or not "Kehidupan di Australia sedang diancam, aksi teror Alien telah berada dimana-mana. Lindungi wilayah anda sebab Alien sudah mengancam ekologi dan kesejahteraan kita." Diakhir narasi ia mengatakan "bantulah kami melawan serangan Katak Toad, bersama kita bisa menang"

Pasti ikutan pak slogan pak Yusuf dan pak Bambang nih.

Perang terhadap kodok buduk jenis "toad cane" seperti tidak habis-habisnya. Apalagi para infidel ini ini selain berkembang cepat juga boros bahan pakan kategori "ampun ya ampun" Kadang ada yang mencapai panjang 25 cm sehingga yang dimakan bukan sekedar serangga semacam lalat, kumbang, belalang yang nemplok di tanaman bayam, tetapi bayamnya sekalian disedot. Dilaporkan bahwa jenis ini juga kodok makan kodok dalam arti bukan ketertarikan sex salah jurusan melainkan memangsa kodok lain jenis.

Para Ranger (penjaga taman) dibeberapa tempat melaporkan bahwa sejak kedatangan para ToadZilla (habis raksasa sih) beberapa jenis iguana, kadal, kodok lokal yang biasa melintas, nampak sudah disantap habis oleh semula teman mesra tetapi kini predator.

Umumnya peternak Australia memiliki anjing penjaga, namun tak berdaya menghalau kedatangan sang pangeran tampan yang belum dicium ini. Pasalnya berani menggigit mahluk nampak bodoh ini, alamat mati keracunan seketika. Buaya Australia saja tahu soal itu. Piring santapan kucing, anjing sekali didekapnya tak akan dilepaskan sampai isinya tandas, bures. Ini kodok apa kodok kalau sudah jatah anjingpun dilantak habis.

Lalu keluar anjuran memasang perangkap, tidak membiarkan sudut rumah tampak lembab atau terlindungi. Sampai akhirnya ya digebuki saja pakai bet kriket, baseball bahkan ada yang untuk sarana melampiaskan jengkel dengan menyabetkan tongkat golf.

Ada beberapa pihak yang memanfaatkan kulitnya untuk dompet, tas kecil, namun jumlahnya tak seberapa. Sampai sekarang belum ada warta campuran bakso dengan daging toad yang kalau "normal" gitu bisa 1 kologram beratnya. Belakangan ada yang mencoba memasukkan sang toad kedalam bak berisi es. Cara yang murah membiarkan kodok mati kedinginan. Lalu pihak departemen kesehatan menyarankan penggunaan bahan kimia turunan PentaBarbitone yang biasa dipakai untuk mengeutanasia binatang peliharaan seperti anjing atau kucing. Hasilnya masih belum memuaskan segala pihak. Bagaimana usulan pestisida yang sampai sekarang masih NO WAY itu.

Sampai akhirnya dicobakan mengurapi krim "ubur-ubur" yang dilaporkan hasilnya joss. Katak-katak yang berhasil ditangkap begitu punggungnya dioles krim Anusol atau Rectinol bak cacing kepanasan. Kelojotan lalu meregang nyawa.

Perang sepertinya berhasil namun dari harga harga salep Rectinol tak kurang 15 dollar pertube kecil. Dan dipakai hanya beberapa kali pelototan. Belum lagi menanggung malu ditanya tetangga "melawan kodok kok sampai ambeien".

Sekalipun negeri ini terkenal hati-hati dan apriori dengan produk maupun hewan luar, ternyata mereka bisa kecolongan juga kemasukan kodok Amerika yang semula dianggap teman tapi Toadzilla.

MBS
The Year of Dog Fire
Hari ke 1

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com