Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 19, 2006

Sabel Goreng Tempe dan Teri

Date: Wed Dec 21, 2005 1:23 pm

Harlogie di pergelangan tangan kiri sudah menunjukkan pukul 02:00 dinihari waktu Denpasar, tepatnya di ruang tunggu Bandara Ngurai Rai. Saya menyoba tetap terjaga karena satu jam lagi boarding dan bersiap melakukan perjalanan selama 4 jam. Iseng Laptop saya buka, namun jangan harap anda dapat sambungan wireless disini, suatu hal yang dianggap standar kalau sudah menyebut diri "Airporto Internacional" - Saya celingunkan cari penyedia Internet yang biasa mangkal di dekat WC ujung barat airport. Namun Warnet dengan tarip “bule” dengan harga super-express punya yaitu 10 ribu per 10 menit dan extra time 5000 rupiah permenitnya. Padahal kecepatannya "super ngesot" maklum Telkomnet Instan, nampak sudah kukut-kukut-tutup entah sejak kapan.

Bandara Ngurah Rai yang siang-pun terkesan sepi, kini nampak sesenyap kuburan tua.

Tidak jauh dari saya ada dua ibu-ibu, karena penampilan bisa mengecoh saya tidak berani menuding mereka sebagai TKI. Mereka bicara lirih entoch tidak menghalangi gendang telinga “nguping” menerima signal lemah “satu bar” – namun cukup untuk mengikuti pembicaraan walaupun kadang “blank spot". Nampaknya mereka membicarakan harga gelang di Airport yang mencapai 1000 dollar. Lalu yang muda bilang “duwit segitu enaknya panjer motor ojeGG. Dari logat dengan "G" yang kental kentara mereka berasal dari daerah “ngapak”.

Diam-diam langsung tumbuh rasa kekaguman saya. Luarbiasa daya juang mereka ini, kerja ke luar negeri dilakoni demi mengojegi keluarga di kampung halamannya. Kadang beresiko dicambuk, diperkosa, lebih buruk lagi terancam di gantung. Lalu ketika pembicaraan lari zigzak ke "oleh-oleh", sayang tuaan bilang “aku bawa kering tempe dimasak teri Medan” – dan beberapa makanan kering-kering basah lainnya, enteng saja.

Masyaallah, kantukku hilang, ini orang berani main-main dengan urusan sensitip di Australia. Pasalnya baru datang “mak-jleg”, anda sudah di “papag” anjing pengendus barang beginian. Di ruang pengambilan bagasi, anjing yang berlainan akan dioperasikan untuk mengendusi tas anda. Bagi yang merasa jijay-bajay dengan mahluk berkaki empat ciptaan sang Maha, karena alasan tertentu, ya maaf saja.

Dan Eng Ing Eng…..
Sampai di Negeri Sebrang, para ibu “sambel kering teri tempe” tadi mulai dibongkar bawaannya. Dari kotak plastik putih “Tupperware” masih dilibat karet dan saya bayangkan waktu dibuka tentu “mak sreng” aroma cabe, gula, amis teri, daun salam, bawang goreng, pesingnya tempe pasti bakalan menohok memberi salam “sugeng enjing” kepada hidung sang douane bule.

Tapi sepertinya mereka sudah mempersiapkan skenario “bagaimana-bagaimana-kemana-kemana” denhgan baik. Saya ikut melantunkan doa dari jauh namun tetap saja menanti “episode lanjutan..” – mudah-mudahan saya bukan dari mahzab kalau tetangga kena musibah justru nyukurin.

Jangan lupa di Australia produk pertanian seperti susu, daging, kulit, telur, bahkan aqua, diharamkan masuk kenegeri ini. Jangan salah raket nyamuk sudah masuk dalam barang larangan. Entah sengaja atau tidak mereka berdua saling tukar bahasa isyarat dan berbahasa sepatah dua patah bahasa, en barang “sambel teri kering tempe” bisa lolos tanpa masaalah. Saya yakin masih ada sambal basah lainnya seperti sambel goreng tomat, apalagi untuk gender wanita yang umumnya kalau makan tanpa sambal rasanya kurang muantab. Eh “kandilalah” nimbrung pula petugas beacukai Australia berjangat sawomatang berbahasa mlipis. Ya uwis, nggak buka list arisan sudah bagus.

Luar biasa-luar biasa, itulah perjuangan para ibu pekerja kita. Di Indonesia berjuang meloloskan diri sergapan “timer” berbulu Imigrasi, calo kendaraan merangkap pembius. Di Australia, meloloskan diri sergapan pihak BeaCukai yang ketat. Dan mereka sukses. Kenekatan dua ibu, keberanian mengambil garis tipis antara aman dan resiko, perhitungan yang matang, strategi yang “joss” dengan berbahasa terpatah-patah ada bagusnya dijadikan semacam merek dagang cap “doea Iboe.” Oh ya soal anjing pengendus, nampaknya karena hari masih kepagian (04.00). Sang anjing (dan pawang) baru datang kemudian…

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com