Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 20, 2006

Ambil Satu Saja

Date: Thu Feb 9, 2006 4:19 am

Dalam perjalanan dari Semarang ke Yogya, bus AKAP dan tentunya 40 tahun lalu yang ada cuma FULL ISIS, pak Pir kadang mengangkuti simbok-simbok bakul ditepi jalan menanjak sehingga bis sepuh merangkak makin terseok mencoba menaklukkan jalan menanjak yang memang subur dikawasan Semarang Yogya. Kadang mesin tak mampu memutar ban kendati sudah digeber sekuat tulang.

BAdakalanya makin digeber semangkin malahan mundur, direm sampai ambeienpun tak mampu menahan bobot kendaraan renta tapi tambun yang mundur perlahan-lahan mendekati bibir jurang. Akibatnya sang kondektur merangkap kenek harus turun mengganjal ban pakai batu yang ditemui di jalan. Kalau ada batu besar tersedia di jalan.

DOA BACIN

Sekalipun masih terbilang pagi, beberapa sudah mulai mengeluarkan dekuran. Sayup dipintu belakang saya menengar kondektur menembangkan doa tapi sinis "ndang sugih yu" - Siapa sih yang nggak rela didoakan "cepat kaya..." - tapi dengan nada air-cuka doa bisa menjadi bala. Saya harus memutar ruas sendi leher ke belakang ada drama apa dibelakang sana. Ternyata si-embok ketika diminta kekurangan ongkos cuma menarik kutang secepat tangan Timberlake mendarat ditubuh Janet Jackson. Bahasa tubuh dari "disela beha gue kagak nyisa duit lagi kecuali daging peot basah keringat tau.."

Diberi pantomim yang bakal disweeping pendekar dari FPI, sang kondektur hanya bisa cemberut sambil terlontar kata-kata tadi.

Sebuah kenangan 40 tahun yang membersit kalau melihat bis berkusen kayu, jendela terpal semacam Baker atau apa saja... Tarikan sunggingan garis bibir sang kondektur yang "menjeb" seperti terbawa sampai sekarang. Dan yang masih terngiang adalah mengapa bus sebesar gajah bengkak, tidak menyediakan ganjelan balok kayu kek dan masih bergantung kepada kemurahan DPU menyediakan brongkolan batu.


****

Berapa kali naik pesawat (tentunya ber AC) dari pelbagai Kongsi penerbangan mulai Pearl Aviation, CHC, Qantas, Virgin Blue, Australian Airline dan tak lupa Garuda Indonesia maka ada satu kesamaan yaitu sebelum lepas landas, ditayangkan tontonan video keselamatan. "Peraturan Keselamatan Penerbangan Mengharuskan Kami mempresentasikan Segi keselamatan pesawat...." - lalu eng...ing...eng... di TV muncul adegan cara penyelamatan, pintu darurat, kalau oksigen dalam kabin berkurang.

Seperti pandai membaca pikiran, beberapa diantaranya menambahkan "Anda mungkin sudah sering melihat presentasi serupa, namun segi keselamatan (Safety Feature) pesawat satu sama lain berbeda, apalagi anda tidak duduk ditempat yang sama, maka mohon taruh perhatian akan presentasi singkat ini...

Bagi para kataman dua hari penuh berlatih "HUET" Helicopter Undersea Evacuation Training - sebetulnya berarti - hitunglah berapa jumlah deretan kursi didepan anda sebelum mencapai pintu darurat, agar dalam keadaan darurat dimana mata tidak bisa diandalkan anda tinggal menghitung jumlah kursi.

Nah, kembali ke maatskapai kita tercinta. Ada amaran yang penuh empati, yaitu skenario saat udara dalam pesawat menurun, lalu "mak plung" berjatuhan masker oksigen. Dan narator mengatakan "Matikan rokok anda, kenakan kedok udara, baru membantu anak-anak..."

Lalu ada adegan orang mematikan rokoknya.

Garuda mestinya sudah "ngeh" bertahun-tahun pemberlakuan "bebas rokok" sudah diberlakukan namun mengapa adegan orang merokok dalam pesawat belum jua jadi arsip sejarah. Padahal berulang-ulang dibeberkan bahwa penerbangan ini adalah bebas rokok.

Saya bisa kaget dari arah belakang, "mecungul" kotak makanan lantas digeletakkan diatas meja, mungkin Pramugari senior sudah tidak perlu berbasa basi dengan kata "silahkan pak hidangannya dinikmati" toh dirumahnya kalau menyiapkan makan anak dan suaminya tidak perlu pakai petatah petitih. Yang "trondol" biasanya masih bisa segar mengucapkan selamat makan pak dst..

Apalagi kalau penumpangnya cuma ber"sneaker" , jean dan T-shirt. Seakan senyum hanya untuk jas lengkap, menongolkan MountBlanc, menempelkan manset emas dikiri kanan, sepatu berkilat.

Matskapai macam Singapore Airline pernah "geblek" juga. "Do you want fish or chicken. Giliran menu dicoblos dibilang maaf "fish" sudah habis. Kalau gitu ngapain nawarin barang fiktip. Hanya yang bikin kita adem adalah pantomin para pramugari ketika mengatakan barang yang ditawarkan tidak ada.

Dan hanya Garuda yang memberikan Bonbon sebelum terbang...
Dan hanya Buraq yang pernah menawarkan bonbon Sugus sambil diiringi doa pramugarinya "ambil satu pak..." (kejadian di Airport Tarakan).

Pasti pramugarinyapun berdoa "kalau nggak mau diambil ya Alham.."

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com