Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 19, 2006

Antara teh celup dan teh tubruk - 15003

Date: Sat Aug 13, 2005 11:29 pm

Di "benua-bawah" saya justru belum pernah merasakan teh tubruk yang teknik pembuatannya seperti upacara "tabur teh", di samudra-air yang mendidih mongap-mongap" - Cukup dengan tarik ulur sampai 5 hitungan, lalu bungkus teh dan talinya dibuang. Mustinya namanya teh tarik. Kalau belum kedahuluan Teh Tarik orang Medan. Warna teh celup jauh dari yang didapat dari teh tubruk. Lantaran bening "kaya uyuh jaran" alias seperti warna kencing kuda. Maka beberapa penggathok teh menganggap minum teh celup kurang afdhol wal muanstab.

Nah pada prakteknya, kalau di Indo, karena berdasarkan azas praduga irit-prahemat, teh celup seringkali dicelap-celup sampai warnanya pudar. Jelas-jelas penyimpangan SOP (Standar Operasi PerTEHan) yang menyarankan sekali pakai, buang.

Mungkin ini yang terkadang bagi penganut mahzab "alarmis" dibuat judul gede-gede "Awas Teh Celup"- sangat berbahaya sebab bahan kimia lainnya ikut campur bawur masuk ke pencernakan kita. Lha kalau sekali buang, ya nanti dulu mau main bilang teh celup berbahaya.

Lalu kaum pembela hak pertehan (celup) bereaksi tak kalah sengitnya, kok jauh-jauh urusin teh celup, kalau sampeyan hari-hari masih "umak-amik" menjawab handphone sambil mengendarai mobil belum lagi tangan yang satunya gerayangan nunak-nunuk gonta ganti kaset. Bahaya mana, coba.

Kita tinggalkan perseteruan teh.

Teh keluaran pabrik Sir Thomas Lipton - adalah merek yang sering dipakai disini, mulai dari black tea, green tea, dan pelbagai varian sampai ada yang rasa jamu segala. Sekali tempo saya coba teh celup dengan aksara keren, English Breakfast Tea, dari Sir Earl Grey. Baru akan saya nikmati. Teman saya bilang tahu nggak si Earl Grey itu pernah dipenjara lantaran memperdagangkan anak di bawah umur. Akibatnya simpati saya kepada pak Earl Grey turun satu strip. Lalu saya coba teh celup dengan embel-embel Jasmin Tea. Sambil celap-celup, ingatan saya melayang balik seperti berada di jalan raya menuju Tegal, di belakang mobil box pengangkut teh kadang "mak breng" tercium semilir bau melati terbawa hembusan angin malam.

Kalau sudah begini tak segan AC kendaraan saya off kan dan kepala keluar jendela untuk menghadang datangnya aroma melati. Kata orang saya memiliki penciuman lumayan diandalkan.Sampai keringat jin mampu saya endus. Berlebihan. Emangnya seperti kata Serius "Jin Juga Manusia, Punya Rasa Punya Cinta ..dst.."

Tapi apa lacur, begitu aroma meresap ke indera penciuman, lho teh melati Ostrali ini kok lebih miripmya bau ketiak. Apa maksudnya Jasmin adalah mbak Jasmin. Mohon maaf kalau nama kebetulan bersamaan. Ini hanya cerita fiksi khayalan penulis.

Akibatnya ngeteh di Ostrali memang sudah hilang gregetnya. Dan seperti kata Mas Agung dari Drilling BP, minum teh celup tidak lebih berbahaya daripada minum teh sambil tubruk Teh Desi, Teh Cece atau Teh Reza. Dan yang jelas tidak bikin rambut brekele.

Northern Territory
14 Agustus 2005
Penggemar Teh Potji plus Gula Batu.
Mimbar Saputro

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com