Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 28, 2006

Satpam dan Instalasi yang dijaganya

Hari Senin 27 Maret 2006 saya mengurus Visa ke Kedubes PNG. Bukan lantaran ngipasi Demo di Papua Barat, begitu dikejar aparat langsung nggeber masuk perseneling loncat minta suaka ke negeri lain dan yang lebih penting adalah akal-akalan yang cespleng mencari kerja di negeri orang. Ini memang drama tersendiri. Sebelumnya saya berkonsultasi dengan kantor lokal untuk mengurus Visa Residen di Australia, kantor di CCE bilang gampang!, saya bilang persyaratannya rada mbribet. Foto saja harus dilegalisir Notaris. Eh malahan semua berkas surat saya dikembalikan, hanya Passport dibawa bagian Formality untuk di Cap langsung. Ampuh betul, saya pikir dan cemas. Betul saja setelah 2 minggu menunggu, enteng saja bagian Formalities bilang, "Pak Mimbar kami tidak bisa, urus saja sendiri" - apa nggak mau menjerit rasanya. Akhirnya ketimbang menunggu kelamaan saya di switch ke Papua NewGuinea. Sumringah saya bukan buatan (aseli maksudnya). Pemandangan baru lagi...

Aku agak paman-kikuk lantaran bulan Juni 2005 Visa tersebut diurus dari Australia dan sudah di ACC namun belum ditindak lanjuti untuk dicap di Jakarta. Setelah hampir 8 bulan berlalu saya berdoa mudah-mudahan belum hangus. Kedua, saya belum pernah ke kedubes PNG sehingga perlu bantuan Gunther sang pembuat peta Jakarta untuk mencari posisinya yang ternyata di komplek Panin, jalan Sudirman No 1.

Tetapi hari Senin adalah saat bermacet dan ber-three in one sehingga ketika saya putar-putar cari akses masuk, mendaratlah saya dengan sukses di komplek Ratu Plaza. Dari sana saya mulai bertanya kepada pak Security dimana lokasi kedutaan besar PNG atau Papua New Guinea. Saya bisa maklum ketika Sekurity Ratu Plaza mengangkat bahu, megosongkan pandangan, menoleh kepala ke kiri dan kekanan, balik kedepan lalu gela-gelo, tanda tidak tahu yang saya tanyakan.

Masuklah saya ke Komplek Panin Bank yang lokasinya disebelah Ratu Plaza. Saya lihat ada Drive-in ATM. Lagi-lagi Satpam "ta tanyak-i" ini gaya bahasa Jawa Cina Semarangan artinya "bertanya". Responnya error 404 (kalau di Internet mau ketik yahoo.com jatuhnya kepencet yahoo.coy.

"Apa itu PNG"
"Singkatan dari Papua NuwGini mbak/pak" - kata saya. Mbak dan Pak maksudnya saya sudah bertanya dua jender berlainan.
"Apa itu?"
"Dulu itu Irian Timur mbak/pak" - kata saya

Percumah (pakai h), mereka sedang kerasukan setan tulalit. Setelah berjalan 25 meter dari Gardu error 404 saya melihat sedan putih bernomor CD dan jelas saja Satpam yang "ta tanyak-i" tegas: "Langsung ke lantai 6 pak" - Saya langsung mengeritik cara kerja pengamanan yang masih dalam satu komplek, radius 25 meterpun mereka tidak memahami teritorialnya. Apa ya perlu diberi tuntunan untuk mengencingi setiap pohon, kotak sampah, tiang bendera agar lebih waspada. Pak Satpam jaga hanya menjawab "mungkin Satpamnya baru pak!"

Skenario keamanan begini kalau ada bom meletus, jangan-jangan satpamnya gantian bertanya "bom itu yang bagaimana siyh"

Di Lantai 6, saya hanya melihat dua orang petugas kedutaan. Waktu memang menunjukkan jam delapan lebih seperampat. Duduklah saya di ruang tunggu melihat hasil kerajinan PNG berupa tas anyaman dari sejenis bambu yang kalau orang Tasik, membuatnya akan lebih menarik. Lalu saya lihat produk negeri ini berupa contoh Sardencis. Diluar itu hanya foto Perdana Menterinya dan Ratu Inggris. Lalu saya tarik sebuah koran berbahasa Indonesia. Tahun 2005, jadi isinya masih seputar heboh Busway.

Jam 9:15 mbak Dina masuk menemui saya, pertama saya ditegur tidak mengambil Visa yang sudah dipersiapkan. Kemudan Passport saya ditahan untuk dibuatkan Visa masuk tetapi syaratnya saya harus medical cekap keseluruhan, kelakuan baik, dan mengisi beberapa formulir. Visa di janjikan hari Rabu, tapi kelakuan baik saya sudah expire. Terpaksa harus urus ulang lagi. Huh.

Barangkali kalau Mohtar Lubis masih "gesang" dia akan menambahkan di bukunya. Kondite orang Indonesia dinilai oleh lembaga yang isinya adalah orang yang berkelakuan tidak lebih baik daripada kita. Huh, lagi.

Tuesday, March 28, 2006

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com