News

Loading...

Aku ini Binatang Karang

Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

September 30, 2007

This site moved to mimbarsaputro.wordpress.com

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

September 22, 2007

Brondong Jagung

Ada yang berubah sebuah pemandangan di kantin rig kami. Bukan lantaran bulan Puasa. Tumpukan popcorn berlabel "rasa butter" buatan "Paman Toby" sudah lenyap di meja. Padahal biasanya setumpuk besar tersedia di sana. Satu bungkus isinya 100 gram.

Malam-malam habis kerja sambil menonton TV lalu menggembol sebungkus popcorn yang sudah membengkak sepuluh kali lipat, apalagi ditemani es krim atau menyeruput Coca Cola dingin, weleh syahdotnya. Bahkan biji jagung yang bantet-pun tetap saya kunyah rasanya lebih melawan sekalian uji gigi.

Ternyata brondong rasa mentega (butter), sudah mulai ditarik dari peredaran, lantaran beberapa orang melaporkan bahwa bahan buatan diacetyl yang mampu menerbitkan aroma butter, ditengarai penyebab gangguan pernafasan. Daripada urusan dengan pengadilan, maka pihak catering buru-buru menarik produknya. Saya sudah mendekati Ross, sang kapitan katering.

Untuk saya saja deh, saya makan sendiri, koleksi pribadi, resiko pribadi.

Dia keukeuh bilang "no way" sudah dibuang. Duh Gusti.

Oven Microwave oven rig kami ini mestinya sudah dipilih bukan abal-abal.

Tetapi tak urung bolak balik diganti lantaran para pemakai Microwave seperti di rumahnya sendiri. Akibatnya banyak popcorn yang hangus dan akhirnya merusak peralatan. Kalau tak salah selama tiga tahun berada di rig sana, saya melihat ada empat kali mereka gonta ganti microwave.

Akibatnya sekarang ditulis besar-besar - setel mesin hanya di nomor delapan maksudnya dua menit saja, buka plastik pembungkus popcorn, lalu bentangkan popcorn. Jangan meninggalkan oven saat membakar popcorn.

Lalu ada petunjuk, kalau suara rentetan sudah melemah berarti brondong sudah selesai dimasak. Jangan buru-buru dibuka sebab masih ada uap panas dikandung dalam bungkusan tersebut. Bahkan bungkusnyapun ada 3 hari di tempat sampah diruang baca masih menerbitkan aroma segar, manis.

Sejak itu, kasus brondong gosong menjadi berkurang. Cuma saya kehilangan "rasa butter."

Jaman saya ileran (ingusan), penjual brondong menggunakan kompor minyak tekan, lalu brondong yang meledak berjumpalitan dikurung pakai sangkar kawat kasa. Pemandangan dari biji jagung kecil menjadi mekar dengan aroma sangit yang khas, sudah merupakan hiburan tersendiri sampai ngeces.

Pletak pletak..

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

Menghancurkan Jembatan

Seorang teman mengeluh, saat perusahaannya kena krisis moneter 1997-an, semua limbung, karyawan sebagian dirumahkan sementara yang lain tetap bekerja namun dengan gaji dipotong sampai sepertiganya. Teman tadi bekerja extra keras, mencari pelanggan baru agar keuangan perusahaan membaik. "

"Aku bekerja seperti direktur, dengan fasilitas kondektur," maksudnya saat sang Direktur kehabisan akal akibat lindu moneter, teman tadi malahan melakukan manuver yang seharusnya dilakukan seorang pimpinan perusahaan demi menyelamatkan perusahaannya. Usahanya berhasil. Saat keadaan kembali normal, teman tadi perlahan-lahan disingkirkan sebab sudah dianggap sebagai pesaing berat pimpinannya. Bahkan ketika sampai ia dirawat dirumah sakit, para pimpinan terlalu sibuk dengan urusan keluarga sehingga tidak sempat menengoknya.

"Coba kalau dulu saya pindah ke perusahaan lain, barangkali keadaan tidak menjadi runyam begini," katanya sambil menghembuskan asap rokok.

Teman saya tidak sendirian. Masalahnya selama ini kita hanya dijejali pemikiran "work hard," sementara urusan "penghasilan" diserahkan kepada niat baik sang pimpinan untuk memikirkannya.

Saat awal mendirikan kongsi dagang, kita dan partner, melibatkan keluarga seperti sudah dilahirkan untuk "satu rasa satu kata" - makan sepiring berdua. Namun saat perusahaan maju, timbul pecah kongsi kadang berakhir menjadi musuh bebuyutan, yang terlintas hanyalah kita pernah menolongnya, dan kini hanya kebencian yang terbersit.

Seorang pejabat Kepolisian dengan seorang Menteri negara semula teman duduk mengopi bersama, namun setelah keduanya mejabat pimpinan negara, perseteruan mulai bisa dirasakan masyarakat.

Lalu saya ingat sebuah buku mengenai falsafah perang dari Bing Fa salah satunya adalah "Pakai Jembatan untuk menyeberang, lalu hancurkan," persoalannya bagaimana kalau ingin menyeberang balik?. Justru falsafah tersebut mengatakan, kalau sudah sampai keseberang jangan pernah memalingkan muka melihat ke belakang.

Raja Yue mempunyai dua pembantu sebagai tim sukses menguasai kerajaan Wu. Namun dimasa damai, kedua pembantu tadi dianggap beban. Lalu seorang dikirim ke pengasingan, yang lain dibunuh oleh kaki tangannya yang lain.

Setelah Liu Bang menyatukan Cina, ketiga tim suksesnya diminta pensiun secara halus. Satu menerima tawaran yang lainnya menolak. Lalu Liu Bang memerintahkan salah satu dipenjara dan temannya dicincang. Semua disingkirkan karena kelak menjadi kompetitor Liu. Sering kita mendengar isu miring bahwa pekerja galian yang membangun terowongan rahasia untuk melarikan diri para raja, dibunuh setelah proyek selesai.

Dibutuhkan pengamatan yang cermat sebelum kita merasa mantheng anteng disebuah perusahaan dengan berangkat jam 8 pagi pulang kantor jam 5 sore, berpeluh dan berdesakan dijalan raya pulang kerumah sudah seperti roket kehabisan bahan bakar. Namun ketika umur merangkak naik, tiba-tiba perusahaan meminta kita untuk pensiun dini. Sementara kesempatan kerja ditempat lain mulai menutup rapat-rapat.

Nasehat ke 28 dari Sun Tzu kalau dipersingkat adalah baik-baik membaca angin dan pergi sebelum pesta usai.


Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

September 21, 2007

Masukkan PIN Kartu Kredit anda

Bandara Changi Singapore contoh menarik melakukan transaksi, beli sepotong sikat gigi, sebatang coklat, cukup gesek kartu kredit anda, lalu tanda tangan. Transaksi beres. Di Glodok atau pertokoan Jakarta, misalnya anda akan membeli HP, pertama pemilik toko melihat anda dengan menyiagakan seluruh aparat intel dalam tubuhnya. Mencorong melalui pandangan menyelidik. Lalu keluar kata sakti "kena tiga persen charge," - itupun belum cukup, anda masih ditilpun oleh penyedia kartu kredit anda untuk meyakinkan bahwa anda tidak akan menipu mereka dengan berbelanja satu juta rupiah.

Tapi yang dialami Andrew lebih unik. Sebagai warga Australia dia sering ditugaskan ke negara lain termasuk Inggris sampai berminggu lamanya. Selama ini ia tenang-tenang saja bepergian. Urusan pembayaran hotel, makan semua dipercayakan pada uang plastik ajaib bernama kartu kredit.

Maka bagai disengat lebah ketika kartu emasnya ditolak di beberapa pertokoan Inggris termasuk pom bensin dan restoran waralaba terkenal lainnya. Bahkan pemilik kartu kredit keluaran Amerikapun mengalami kesulitan berbelanja di Inggris dan Eropa.

Parahnya lagi, di setasiun Inggris ditulis "no chip, no pin, no sale."

Dari beberapa forum internet dikabarkan bahwa Perancis, Denmark, Belanda dan Swis sudah memberlakukan sistem pin tersebut.

Rupanya pihak penyedia kartu kredit di Australia kurang memberikan informasi bahwa untuk mengurangi angka pemalsuan kartu kredit, Inggris dan beberapa negara Eropa mulai mengganti kartu kredit strip magnit dengan chip. Akibatnya, setelah menggesek kartu plastik tersebut sang pemilik kartu harus mengisikan PIN mereka, bukan tanda tangan seperti yang lazim dilakukan selama ini.

Penyedia kartu kredit di Australia seperti Westpac, NAB, Commonwealth sudah mulai ancang-ancang mengganti kepemilikan kartu kredit ber-pin sejak awal bulan September ini. Sementara ANZ sudah menggunakannya sejak 2001. Ketika ditanya mengapa Australia seperti terlambat mengantisipasi hal semacam ini, enteng mereka menjawab, pasalnya pemalsuan kartu kredit di Australia terbilang kecil.

Tidak ada salahnya anda mengecek kartu kredit anda. Dan jangan gampang menelan jawaban "Selama ada logo Visa dan Master terpampang tidak boleh ada yang menolak bentuk apapun kartu kredit."

Dan yang penting jangan lupa mengingat PIN kartu kredit anda.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

Bhisma

Pada awal tahun 2000-an, seperti diketahui terjadi pergolakan politik Indonesia. Lalu muncul seorang tokoh yang gagah, namun orang pada kecelik karena menyangka beliau bernafsu menjadi Presiden RI. Lalu Pianis Jaya "Jamu Jago" Suprana menganalogikan tokoh ini sebagai Bhisma.

Dikenal sebagai Bhisma Dewabrata sebagai anak semata wayang beneran yang kebal. Kebal tapak palune pande (senjata tajam), dan yang penting lagi kebal terhadap hasutan dan provokasi.

Dia seorang negarawan lantaran berguru kepada negarawan kelas dunia wayang Bhaspati titisan Batara Guru, punya kekuatan bersenjata, ahli menembak anak panah kartena belajar dari Resi Bhargawa, punya kredibilitas karena selalu pengajian dengan Resi Wasistha, tetapi ketika kesempatan datang untuk jadi orang nomor satu. Dia tepiskan. Datang sekali lagi dia malahan hidup selebat.

Kehebatan Bhisma lain adalah kemampuan "Ichcha Mrityu" yaitu kemampuan memilih ajal. Mau mati dipanah seperti Burung Sio Tantina yang mati dipanah Raja Nirwana, atau mati muksa (hilang bersama wadagnya), semisal Prabu Siliwangi, tinggal pilih. Tetapi ajal pantang ditolak.

Siapa Bhisma yang sering disebut sebagai Dewabrata ini ?.

SENTANU MULAI KESEPIAN

Sejak ditinggal Dewi Gangga, duda keren Sentanu mulai kesepian. Ibu Dharma Wanita perwayangan ada juga sih yang membuat proposal buat anak gadisnya, tapi Sentanu masih bergeming, ia memang jenis mesin diesel, susah starter. Tetapi kalau "ngeslahnya" kena, bakalan ngacir seperti kesetanan.

Sentanu juga kuatir nanti anaknya belum ditembung (ditanya persetujuannya) sang ibu getap-gempita "galakan dia" untuk melakukan serangkaian wawancara dengan masmedia entertenmen.

Lalu Sentanu kembali ke jalan semula, yaitu berburu. Tetapi lagi-lagi binatang buruannya hilang. Disebuah hutan ia bertemu dengan gubuk jelita. Pasalnya dia menemukan anak perawan secantik dan sewangi itu di hutan Liwang Liwung.

Padahal para gadis penjual toko ikan di Grogol rata-rata bau kelabang kalau didekati, ini anak nelayan Keramba bisa "lisik" mulus bener kulitnya. Apa pengaruh Omega 3 dalam daging ikan?.

"Namanya dimana, rumahnya siapa wong ayu ?" tanya Sentanu.
" Ah baginda, ganjen, raja tiru-tiru pelawak Timbul berbahasa yang terbalik dan tercemar, sok tebolak tebalik."

"Setyawati, mas" -katanya sambil melempar ujung selendang lalu menggoyangkan badan kekiri kekanan sampai dua kali, lalu menunduk dan menggigit kuku berakting malu-malu kenes.
Sang puteri langsung dilamar. Yang ngelamar raja, bapaknya langsung setuju, malah merasa dapat anugrah.

Tapi eit nanti dulu. Tim pembisik bilang, jangan cuma mau dikawinin, iket dengan janji, bilang cucu eluh entar bakal jadi Putra Mahkota, namanya juga raja. Dapet nyang demplon lain lupa yang dirume. Mending kalo dimodalin lantas buka Institut Pendidikan, atau Butik.

"Wah nggak bisa, saya terlanjur janji dengan Ratu Jin (baru "ngeh" saya sekarang, cerita Raja kawin dengan penguasa laut rupanya sudah ada berabad-abad di India), maksudku Ratu Jin Sungai Gangga."

Negosiasi berjalan alot sebab sang nelayan pasang harga mati. Keturunannya harus jadi Raja - end of story. Kapan lagi bisa kesempatan ganti darah biru. Syukur kalau metalik biar kinclong.
Sang Duda, akhirnya patah hati, kesetrum dengan Satyawati, yang ABG, tapi tali janji masih ada sangkutan dengan mamahnya si Dewabrata. Kalau saja badan ini bisa dibelah. O alah nelayan kok pintar, apa ada LSMW menyusup didalamnya. Dikerasi sedikit, ujungnya class action. Duh Gusti... keluh Sentanu.

Akhirnya negara mulai kacau, raja hanya duduk termenung sehari-hari kurang konsen dengan urusan tata negara.

DEWABRATA AMBIL TINDAKAN PEMULIHAN

Dewabrata langsung cancut tali wanda (menggulung lengan bajunya). Didatanginya sang nelayan.

"No Worry Chief, bagiku tidak jadi Raja ora Pathekan sekarang juga mikrofon saya pegang dan mendeklarasikan cucumu lahir akan menjadi Raja. Yang sudah terucap, tertulis sebagai Undang Undang."

Iba juga sang nelayan (tidak sederhana), melihat perangai Dewabrata. Tapi, ada sang pembisik, bilang "Dia memang tidak ambisi Raja, tapi anaknya Bhisma nanti bisa jadi dikompori orang sirik minta tahta ?, kacau deh proyek-proyek yang sudah ditandatangani."

Dewabrata, sekalipun memiliki privilese, kredibilitas, legitimasi, kesaktian, akredibilitas dan KESEMPATAN, tidak mau menggunakan kekerasan. Diluar dugaan ia malahan bersumpah "Demi Dewata, aku bersumpah Tidak akan menikah dengan wanita....." - katanyayang segera disambut DUARR! gemuruh badai, topan dan ngampar yang bergemuruh.

Akibat sumpahnya, kayangan jadi gonjang ganjing seperti digoyang gempa skala 7MW (dulu
Richter). Ini sumpah sungguh dahsyat.

Gara-gara ini, Dewabrata diberi gelar BHISMA yang artinya "ide yang terrible, anehnya".
Tapi percaya saja, Dewabrata juga tidak pernah menikahi pria.

Setyawati yang sejatinya sudah sreg dengan duda keren, seperti di Ketoprak humor, belum ditanya mau apa belum sudah "wel-welan" menjawab "mauk mauk..." lantas diboyong keistana.
Sampai akhirnya melahirkan dua putera.

Persoalan belum selesai, adik tiri Bhisma sudah lewat akil baligh belum juga dapat jodo. Pasalnya para perempuan istana selalu disayembarakan. Dan repotnya sang adik dasarnya jadi raja karena pengorbanan Bhisma maka setiap ikut sayembara keok melulu, hanya sekali dapat hadiah hiburan rantang susun.

Bhisma terpanggil untuk membela kehormatan adik-adiknya. Ia dasarnya militer, ambil saja jalan pintas. Walau perlu dua puteri, tapi karena ada 3, maka terlanjur biasa jalan jalur Three In One, tiga putri disaut naik kereta sambil teriak. "Nih ada tiga cewek pilih yang mana mau. Sisanya akan saya kembalikan,"

Padahal diantara putri yang yang disayembarakan tadi ada seorang dewi "Amba" yang slotnya sudah full, dan menjadi sumber puput usia (ajal) Bhisma dikemudian hari.
(bersambung)

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

September 20, 2007

Blunder - Pesan Satu Dapat Dua - ujungnya ke pengadilan

Order satu dapat dua ternyata berujung pengadilan bagi dokter Armellin. Gara-gara itu pula ia dituntut ganti rugi sebesar empat ratus ribu dollar oleh pasiennya dengan tuduhan malpraktek.

Ceritanya, Canberra, November 2003. Seorang ahli cangkok janin menjalankan permintaan pasien untuk menanam janin ke perut seorang calon ibu. Uniknya pasangan ini berasal dari mahzab cinta sesama potongan tulang iga Adam. Pencangkokan berhasil, terlahir dua anak gadis kembar yang usianya menapak tiga tahun dan tinggal berssama orang tuanya di Melbourne..

Namun setelah mulai merasakan tetek bengek "ngempanin" dua anak kembar, susunya, bajunya, sepatu, kesehatan dan uang sekolahnya, maka pasangan lesbian ini mulai merasakan "bengek nggak ketulungan" - mereka merasa keberatan finansial. Pasalnya setelah berhitung, satu anak diperkirakan membutuhkan biaya sekitar 390 ribu dollar sampai menjelang usia 21tahun saat lepas dari tanggungan orang tuanya.

Lantas ketemu pikiran untuk melepas salah satu anak agar diadopsi orang lain. Cuma belakangan pikiran ini dikubur dalam-dalam lantaran tidak tega memisahkan kembar sehingga pasangan yang berpenghasilan seratus ribu dollar ini alih-alih menyalahkan dokter Armellin yang dikatakan "tega-teganya memberi anak kembar.." - lalu mereka membawa perkara ini ke pengadilan.

Dalam satu pengakuan dimuka sidang dr. Armellin sempat bertanya kepada embryologist sebab setahunya hanya pesan satu janin mengapa diberi janin kembar?.

Namun sang embryologist bersikeras bahwa pasangan yang namanya disembunyikan ini sudah teken kontrak minta dua janin.

Lalu Dr Armellin hanya bilang "Oh f... of"

Yang memberatkan tim medis, beberapa saat sebelum pencangkokan sang pasien tidak diajak bicara bahwa "anda sudah menandatangani persetuan akan dicangkok seorang atau dua orang janin ditubuh anda dst.."

Alasan embryologist pasien sudah terkapar lantaran dibius total.

Selain menuntut sejumlah uang, mereka juga memprotes bahwa setelah kehamilannya, sang "istri" selalu muntah-muntah dan tidak bisa berjalan kecuali dibantu oleh tongkat penyangga. Untuk itu mereka meminta ganti rugi sebesar lima belas ribu dollar lantaran beberapa hari harus minta cuti kerja.

Sidang ditunda oleh hakim Annabel di Canberra untuk mendengarkan kesaksian yang lain.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

September 19, 2007

Ketukan

Melamar ke perusahaan besar nampaknya yang dibutuhkan selalu yang berpengalaman sekian tahun. Ini sih bukan cari pekerja melainkan cari bajakan.

Seorang calon pekerja yang sudah mengkeret nyalinya seakan berkobar kembali ketika sebuah perusahaan mencari tenaga yang mampu melayani mesin Telegram. Barangkali cocok dengan kebisaannya. Masa mudanya ia pernah menjadi pandu dan mahir bermain morse.

Sampai di perusahaan tersebut, lgi-lagi hatinya menciut lantaran sudah puluhan pelamar berada diruangan sambil mengisi biodata. Lalu ia berbuat serupa. Selesai mengisi biodata yang menceritakan panjang lebar keahliannya dalam morse, ia berjalan mengelilingi ruangan.

Dilihatnya beberapa mesin telegram dan salah satu mesin sedang mengetuk halus.

Tidak berapa lama datang seorang pelamar lain. Ia mengisi formulir serupa dan langsung memasuki ruang direksi, lalu keluar dengan senyum tersungging. Beberapa waktu kemudian Direksi keluar ruangan dan mengatakan bahwa posisi yang dibutuhkan telah diisi oleh pemuda yang baru ruangan.

"Bagaimana mungkin bapak bisa menerima pelamar langsung diinterview sementara kami yang seharian menunggu disini tidak diberi kesempatan?"

Direksi menjawab bahwa salah satu mesin telegram sebetulnya mengirimkan berita mengenai nasib anda, "kalau anda dapat mengerti pesan ini, langsung menghadap direksi untuk interview."

Banyak dari kita yang mengandalkan bakat dan pengalaman namun sering lupa menyadap informasi kecil sekitar kita, yang kebanyakan orang melewatkannya.

Komentar: entah untuk siapa tulisan ini. Pokoknya menulis saja deh, biar kayak anak muda. Mimbar

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

September 17, 2007

Sultana

Ini bukan nama merek biskuit yang menyiratkan kenikmatan, namun cerita kepedihan seorang Putri Kerajaan Arab yang hidup sebagai burung dalam sangkar emas, namun dijejali pelecehan, perkosaan dan penyiksaan dari kaum lelaki, kakak dan ayahnya.

Ketika Faruq (kakak lelakinya) berusia sepuluh tahun, ia mendapatkan jam Rolex emas pertamanya. Aku benar-benar menderita, karena saat aku meminta kepada ayah sebuah gelang emas yang ada di Souq (pasar), Ayah menolak permintaanku dengan kasar. Selama dua minggu Faruq memamerkan jam Rolexnya, aku melihat ia meletakkan jam itu di atas meja dekat kolam renang. Karena cemburu, aku mengambil batu dan menghancurkan jam itu.”

Dari sini Sultana sudah merasakah bahwa dikeluarganya seorang anak lelaki adalah putra mahkota, segala permintaannya dituruti segala kesalahannya dimaafkan. Sementara bagi anak perempuan, ia mirip anak yang tidak diharapkan.

Dari pembantu yang umumnya berasal dari Filipina, ia baru tahu bahwa kalau wanita Arab masih diperlakukan warga kelas dua, maka wanita pekerja asing, sering dianggap tak lebih dari pelacur. Ia mendapat berita bahwa istri kedua ayahnya sangat ringan tangan, bahkan pelayan Pakistan yang sudah jatuh tersungkurpun masih dipukuli sampai akhirnya gegar otak. Ironisnya polisi syariahpun kalau mendengar laporan wanita yang disiksa tidak akan ambil perduli.

Tapi yang bikin gleg..glek ketika Sultana bercerita sepupunya baru membeli sebuah pesawat jet pribadi yang diawaki oleh Pilot berkebangsaan Amerika. Mengobrol dengan awak pesawat yang ramah, sudah memberikan kebahagiaan sendiri bagi Sultana sebab seperti memperoleh hak asasi yang sudah dicabut ayahnya sejak ia dilahirkan.

Beranjak dewasa mereka berkenalan dengan Wafa dan Nadia. Sebagai anak polisi syariah, Wafa mendapat didikan keras dari ayahnya. Namun sebaliknya Wafa menjadi pemberontak. Berteman dengan Nadia, kadang mereka menyimpan botol kecil berisikan minuman keras dan diminum sedikit-demi sedikit didalam toilet. Bahkan mereka tidak ragu-ragu untuk berkencan dengan pria-pria Barat yang banyak dijumpai dikota Riyadh.

Rupanya sang ibu menentang perlakuan tidak adil terhadap perempuan terutama anaknya Wafa sehingga diam-diam membiarkan anak gadisnya keluar rumah.

Sementara ayah Nadia adalah pedagang kaya raya. Dan Nadia beruntung mendapatkan pendidikan lebih tinggi.

Saat mereka berdua sedang berkecan dengan pria barat disebuah mobil Van, polisi Syariah menggerebek mereka. Wafa lalu dikawinkan dengan pria tua pilihan ayahnya.

Nadia mengalami perlakuan berbeda. Ayahnya tidak mau berbicara dengannya lagi, ia dikurung dalam kamar sampai hukuman atasnya diputuskan.

Untuk itu ia menulis “ Jam sepuluh keesokan harinya, aku duduk sendiri. Menatap balkon kosong kamarku. Aku memikirkan Nadia dan membayangkan ia diikat dengan rantai yang berat, kerudung hitam dibebatkan dikepalanya, tangan-tangan yang mengangkatnya dari lantai dan memasukkannya kedalam air kolam renang yang jernih. Aku menutup mata dan merasakan geletar tubuhnya, mulutnya yang megap-megap, paru-paru yang menjerit karena serbuan air. Aku ingat kilatan mata coklatnya dan gaya khasnya mengangkat dagu ketika tertawa. Aku pandang jamku dan terlihat sekarang sudah jam 10.10. Dadaku terasa berat menyadari bahwa Nadia tak pernah tertawa lagi."

Kalau anda ingin geregetan mengapa banyak sekali para pekerja perempuan kita disiksa di negara padang pasir ini, mungkin latar belakang cerita yang ditulis oleh Jean P. Sasson bisa mengungkapkan sedikit banyak latar belakang sosial budaya orang Arab.

Nama Buku Princess – Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi, 380 halaman.
Pengarang Jean P. Sasson

September 15, 2007

Akibat Gempa Terhadap Perilaku Korban Gempa

Mengenali Apa yang Kita Rasakan Setelah Mengalami Bencana

Apa yang dimaksud dengan BENCANA?
Peristiwa atau kejadian berbahaya pada suatu daerah yang mengakibatkan kerugian dan pederitaan manusia, serta kerugian material yang hebat” (UNHCR)

Akibat yang ditimbulkan bencana

Dampak psikologis yaitu adanya perubahan terhadap psikis/kejiwaan/mental yang kita rasakan seperti;
  1. Perubahan perilaku; marah; panik; kacau; trauma
  2. Perubahan perasaan seperti munculnya rasa cemas akan masa depan, sedih, tertekan, putus asa, tidak berdaya, mudah tersinggung.
  3. Perubahan dalam berfikir yang ditandai dengan mudah lupa dan sulitnya memusatkan perhatian.

Dampak Sosial mengakibatkan:

  1. Adanya kebiasaan atau kegiatan yang berubah karena adanya kehilangan, perpisahan ataupun kematian pasangan hidup, anak atau orang disekeliling.
  2. Adanya lingkungan fisik/bangunan yang rusak dan kebiasaan masyarakat yang berubah, rusaknya tempat pelayanan umum seperti rumah sakit, puskesmas, sekolah.

Untuk menghadapi situasi dan kondisi seperti itu diperlukan pengertian terhadap kondisi para korban ini dengan adanya perhatian berupa pendampingan dalam kurun waktu tertentu untuk mengembalikannya ke situasi seperti semula.

Umumnya, kondisi mental korban secara perlahan menuju kekeadaan seperti semula membutuhkan waktu antara 4-6 minggu, bilamana mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Siapa saja yang bisa merasakan akibat bencana?

  1. usia bayi-prasekolah
  2. usia sekolah
  3. usia remaja
  4. usia dewasa

Mengapa akibat terhadap mental dan sosial setelah bencana perlu diketahui?

Agar tidak terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat yang berlanjut, serta dapat terhindar dari kondisi yangmenyulitkan lagi.

Ada beberapa reaklsi perilaku umum sebagai reaksi dari seseorang yang mengalami bencana, yaitu;

  1. Reaksi melawan yang didorong oleh perilaku agresif, menyakiti, atau melukai orang lain
  2. Reaksi menghindar seperti pergi ketika diajak berbicara, atau tidak ingin bertemu dengan orang lan.
  3. Reaksi diam atau cenderung tidak bereaksi sama sekali.

Bagaimana cara kita menghadapi individu yang mengalami bencana?

  1. Membina hubungan yang baik
  2. Bersikap tenang dan santai yang menunjukkan sikap berteman
  3. Menunjukkan sikap perduli terhadap yang dirasakan oleh orang lain/korban dengan mendengarkan apa yang dikatakannya
  4. Percaya akan kemampuan diri untuk menolong didorong sikap sabar
  5. Bagi para korban, sikap menghargai dan peduli antar sesama perlu dipertahankan.

Ada Berbagai Macam Bentuk Perilaku dan yang Dirasakan Orang Akibat Bencana Maka Diperlukan Cara yang Sesuai untuk Menghadapi.


Usia Prasekolah (1-5 tahun)

Reaksi Umum

  • Mengompol
  • Mengisap jempol
  • Takut kegelapan
  • Takut tidur sendiri
  • Mimpi buruk dan mngigau
  • Sering menangis
  • Tidak mau makan
  • Sakit perut
  • Susah tidur
  • Gagap berbicara
  • Cemas
  • Ketakutan
  • Marah tanpa sebab jelas
  • Kesedihan, menarik diri
  • Tidak mau mendekati rumah
  • Tidak mau berpisah dari orang tua/orang dekat

Cara Menghadapi:

  1. Membuat perasaan tenang melaui: berilah belaian dan kata-kata yang menenangkan serta meyakinkan bahwa anak-anak akan baik-baik saja karena orang tua selalu berada dilingkungannya; misalnya menjelaskan tentang gempa sebagai kejadian alam biasa.
  2. Usahakan agar anak dekat orang tua/orang yang dikenal
  3. Hindarkan gangguan dari berita-berita di radio, tv tentang gempa dan keadaan pasca gempa
  4. Tidak memarahi anak karena hal ini akan membuat semakin takut
  5. Dorong penyaluran emosi melalui aktivitas bermain, menggambar, atau melalui metode bercerita

Usia Sekolah (6-12 tahun)

Reaksi Umum

  1. Agresif – menyerang orang lain
  2. Ngamuk
  3. Hiperaktif tidak bisa diam
  4. Gangguan makan
  5. Sakit kepala
  6. Sakit perut, tidak bisa tidur
  7. Mimpi buruk dan menigau
  8. Takut mendengar suara keras
  9. Gagap atau diam saja
  10. Menarik diri tidak mau bergaul
  11. Takut kegelapan
  12. Mengalami kemunduran dalam kemampuan atau berperilaku kembali seperti bayi.

Cara Mengatasi:

  1. Beri perhatian yang lebih dengan mendengarkan apa yang dirasakannya
  2. Yakinkan bahwa dia aman dengan penjelasan konkrit
  3. Jangan dimarahi karena akan membuat anak semakin cemas
  4. Bangun suasana yang lebih santai dengan mengajak melakukan aktivitas bersama, menggambar, bercerita, atau kegiatan sehari-hari
  5. Beri peluang untuk mengekpresikan secara emosi secara aman dan sehat misalnya memberi kesempatan untuk melakukan kegiatan yang disukai

    Remaja dan Dewasa

    Reaksi Umum

  1. Merasa kosong, bengong serta tidak mengerti apa yang harus dilakukannya
  2. Gampang panik
  3. Menangis tanpa sebab
  4. Mengasingkan atau menarik diri
  5. Keluhan somatis, pusing dan gemetar
  6. Jantung berdebar keras
  7. Susah nafas
  8. Susah makan
  9. Sedih
  10. Ketakutan akan terjadi gempa lagi
  11. Peka akan bunyi suara keras, bunyi kendaraan, pintu atau benda berat jatuh
  12. Kelelahan yang luar biasa
  13. Putus asa dan tak berdaya
  14. Merasa bersalah
  15. Sulit konsentrasi dan mengambil keputusan
  16. Mudah tersinggung, kecewa, cepat marah.
  17. Cemas akan masa depan.

    Cara mengatasi:
  1. Mendengarkan keluhannya
  2. Beri dukungan verbnal kata-kata serta non verbal berupa gerakan dan ekspresi wajah
    Pendekatan agama
  3. Bantu mengekspresikan emosi
  4. Memberikan berbagai macam kegiatan
  5. Beri rasa aman melalui informasi tentang bencana
  6. Bantu jalur untuk mencari kerabat
  7. Untuk kasus yang berat, dibantu untuk dirujukkan ke ahli


    Dikutip dari selebaran:
    Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak
    Yogyakarta
Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

Ten Car Come, Ten Car Go

Sebuah kecelakaan lalu lintas dilaporkan oleh seorang pendatang baru berlidah Asia sebagai berikut:

"Sir One Accident, one car come one car go, braaak!
Many car come.
Ten car come, ten car go.."

Kalau anda diposisi seorang polantas Australia. Maka baris pertama mudah dimengerti bahwa ada tabrakan adu kepala yang melibatkan dua buah kendaraan.

Biasanya karena adanya kecelakaan maka banyak kendaraan diperlambat jalannya untuk melihat, atau memberikan pertolongan seperti diperlihatkan pada kalimat kedua.

Namun, kalimat ketiga yang bikin pak Polantas garuk-garuk dagu dan belakang kepala. Mengapa harus mobil sepuluh datang mobil sepuluh pergi.

Rupanya sang pelapor masih terpengaruh bahasa negerinya. Konon tanda "palang" pada aksara Cina akan dibaca sebagai "sepuluh" - Padahal maksud pelapor ada mobil "ambulan" datang lalu membawa korban ke rumah sakit.

September 13, 2007

Hanya gara-gara sekedar bertanya

Dia mirip tokoh iklan rokok yang berotot liat, namun lebih gemar mengadu napas dengan harimau dan mengelus bulu elang.

Bedanya, Santanu adalah Raja yang memiliki tanah Kuru. Kaya raya, cuma masih jomblo sampai sampai para peserta senam sekaligus arisan di RT wayang bergosip, "jangan-jangan ada kabel massa aki yang nempel di tempat lain.."

Begitu jumat sore menunjukkan pukul lima "theng" - prabu Santanu sign out dari laptopnya dan langsung membawa peralatan berburunya, sebuah olahraga yang dia teramat mahir memainkannya.

Cuma herannya, hutan seperti kawasan remang-remang mendapat bocoran ada "garukan", semua penghuni bisa sepi "nyenyet" sehingga Santanu bertanya kepada asprinya, apakah pembalakan liar juga sampai dinegaranya sampai binatang pada habis.

Belum sempat menjawab pertanyaan sang raja, seketika hutan diliputi angin puting beliung dan halimun bergulung. Bukan itu saja, rajapun terpisah dari rombongannya. Para pengawal pribadi yang disumpah akan menelan anak panah yang dilepaskan kearah Rajanya terancam bahaya, malahan sudah lama tiarap ketakutan.

Ketika badai reda, celakanya ia seperti berada ditempat yang asing, dan herannya ada seorang wanita cantik berdiri didekatnya. Berkemben mirip tanktop generasi awal. Maka mulailah Santanu menebar siasat. Dari mulai menanyakan arah ke kerajaan, sampai akhirnya tukar menukar informasi pribadi. Akhirnya kesempatan menembak datang juga "Dik, maukah engkau menjadi ibu dari anak-anakku..."

Kok ya "motherboard" sang perempuan hutan ini tersedia „slot“ yang tidak bakalan konflik dengan "device" yang lainnya. Cuma syaratnya aneh. "Jangan tanyakan asal beta, sekalipun kepada rumput yang bergoyang, kedua, kalau memiliki putra atau putri, mau dijadikan hijau atau hitam adalah urusan ibu yang melahirkan dan hal ini pantang untuk ditanyakan....“

Anda sudah bisa menebak, cerita kalau pakai „jangan makan ini jangan minum itu,“ buntutnya pasti akan dilanggar.

Kembali ke Tanktop.

Kelihatannya Santanu sudah mabuk kepayang melihat "batuk kelimis" sang putri, permintaan berbulu „ngayawara“ alias aneh-aneh ini langsung di setujui. Padahal banyak perempuan dengan casing GSM, tetapi dalamnya CDMA. Boros baterei, feature terbatas. Putripun dibawa ke Istana untuk menikah.

Singkat cerita kehidupan asmara kedua pasangan memang luar biasa. Saat malam pertama, kemampuan lajang Sentanu yang kalau diibaratkan komputer mula-mula terbatuk-batuk pada kecepatan transfer sembilan koma enam ka be pe es (KBPS), tetapi setelah diberi akselerator oleh sang Dewi, makin lama kemampuan olah asmaranya meningkat menjadi 56 KBPS dan dalam seminggu menembus kecepatan broadband dan tidak pernah DC (ngedrop). Juga Sentanu yang mabuk kepayang, masih belum sadar bahwa sang Dewi ini sepertinya memiliki Operating Sistem berbeda platform.

Lantaran sering terjadi “hubungan pendek" tapi mesra, sang istripun mulai menunjukkan gejala hamil.

Saat anak pertama dilahirkan, baru saja Sentanu membuka manual DigiCam yang dibelinya tadi siang untuk mengabadikan jabang bayi, jebul pada malam hari sang istri mengendap-endap jalan belakang istana sambil membopong bayinya. Perbuatan ini diikuti oleh Sentanu yang memang piawai mengendap mangsa lalu hampir ia menjerit saat melihat bayi dimasukkan kedalam sungai, tanpa kotak seperti dalam cerita kuno.

Kelahiran kedua, ketiga sampai ke tujuh istri yang luar biasa subur ini selalu melakukan ritual yang sama. Bayi yang dilahirkannya selalu di larung ke sungai Gangga.

Akhirnya pada suatu malam, Sentanu kawatir, kalau begini terus kapan ia memiliki keturunan sementara usia makin merambat naik. Surga saja katanya sampai lapis ke tujuh, bagaimana dengan anak ke delapan, apa mau dimusnahkan juga. Belum pertanyaan para tetangga mengapa tidak pernah ada acara ulang tahun di kerajaan?. Tim paduan suara kerajaan sudah latihan lagu "Panjang Umurnya dan Potong Kuenya," namun belum kebagian order.

Lalu ia beranikan diri bertanya dengan didahului “maap ya dik, bukan tidak percaya, tetapi maap ya..” persis Sinetron Bajuri..

“Kanda lupa janji kita," antara sedih dan gembira. Gembira karena berkumpul dengan darah murni, sedih karena harus meninggalkan keluarga Muggle.

“Kanda mengerti tetapi kalau mengorbankan nyawa anak sampai tujuh orang darah dagingmu sendiri, bisa-bisa saya dianggap mengawini KM Senapati,” kata suami mencoba membela diri.

“Ketahuilah, alam saya memang sepintas kejam, membuat lindu, membakar hutan, membalikkan bumi, tetapi inilah rahasianya...”

“Hamba adalah Dewi Gangga, satu saat aku bertemu sekelompok para penghuni kayangan sedang bermesu diri melakukan meditasi. Demikian hebatnya meditasi mereka untuk mencapai kehidupan kekal, sampai menimbulkan pusaran angin. Dan celakanya angin pusaran ini sempat menyibakkan pakaian sehingga mempertontonkan betis hamba.

Nampaknya ada seorang kesatria yang terganggu dan tak berkedip memandang tubuhku sampai meditasinya terganggu karena ia mencapai klimak hanya dengan melihat saya dari kejauhan.”

Saya lalu diusir dari kayangan menjalani hukuman akibat perbuatanku. Kelak kalau sampai dinikahi seorang, lalu sampai satu saat orang tersebut bertanya asal muasal hamba, maka saat itulah saya bisa kembali ke kayangan. Tapi tugas lain yang harus kujalani adalah membantu orang dalam kesusahan.

Di dunia hamba bertemu delapan wasu (setengah dewa setengah manusia) yang juga menjadi narapidana dengan di buang kedunia lantaran mereka berani mencuri lembu keramat milik seorang petapa sakti. Lembu memang dikembalikan karena hanya ingin diperah susunya, namun petapa sakti Wasistha yang pemberang sudah keburu marah dan mengusir mereka ke dunia. Syarat kembali ke kayangan kalau mereka roh mereka menitis ke tubuh bayi yang dilahirkan oleh seorang dewi. Caranya dengan mempersatukan mereka di aliran sungai Gangga.

Kenapa air yang dipilih sebab Dewi Gangga adalah peri air.

Ketujuh wastu sudah berada dikayangan masing-masing, melalui rahim hamba, namun yang kedelapan, adalah sang pemimpinnya yang paling cerdas dan sakti, dan paling lama dihukum tanpa PK apalagi remisi. Pasalnya sebab dialah yang memprovokasi teman-temannya agar mencuri. Namun, gara-gara pertanyaan suamiku, ia urung kembali ke kayangan.

Pelan wadag Dewi Gangga mulai menipis, dan disertai angin putting beliung ia melesat keangkasa sambil membawa tangis. Namun sebelum berpamitan ia meminta agar anaknya kelak diberi nama GanggaData atau Bhisma.

Catatan...
Dalam cerita pewayangan versi Indonesia, GanggaData kelak bernama “Bhisma” seorang selebat, manusia setengah dewa yang tidak bisa mati oleh senjata apapun, kecuali…. (bersambung)


Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

Perempuan dan buku harian

Perempuan dan Museum
Kamis, 13-09-2007 18:50:39 oleh: Mimbar Saputro Kanal: Gaya Hidup

Perempuan Perancis ini tergolong bandel. Diam-diam ia merayap menyelinap kedalam kapal Uranie. Padahal tujuan kapal berangkat pada 17 September 1817 adalah dalam rangka melakukan ekspedisi ke negara di belahan bumi lain yang penuh resiko. Seperti penyakit menular, diterkam badai atau dibantai perampok. Toh semua itu tidak menggoyahkan tekad Rose.

Rupanya untuk merealisasikan nafsu berpetualangannya Rose menjalin kisah asmara dengan seorang ekspeditor bernama Louis-Claude de Freycinet agar dapat menyelinap sebagai penumpang gelap.

Ekspedisinya sendiri berhasil gemilang. Namun yang membuat Pemerintah Perancis menggeretakkan gerahamnya lantaran diantara laporan tersebut terselip lukisan tenda yang didirikan oleh ekspedisi Teluk Hiu Australia dengan Rose didampingi seorang anak lelaki Mauritania, duduk didepan tenda. Sepertinya Rose menemani sang opsir (mungkin suaminya) yang sedang asik mengolah peta.

Merasa dikelabuhi dengan adanya penumpang gelap, pemerintah Perancis mengeluarkan lukisan resmi misi ekspedisi Uranie di Teluk Hiu bedanya dalam lukisan ini Rose dan anak Mauritania sudah disetip. Tinggal seorang perwira Perancis asik dengan peta dan penemuannya.

Untung saja selain bandel, Rose memiliki kebiasaan menulis buku harian. Ia bertutur perjalannya dari Geographe sampai Australia. Juga perjalanan melalui Papua Nugini sampai Hawaii.

Disini ia menceritakan bagaimana kebakaran terjadi pada kapal yang sehari terjadi sampai 20 kali. Lalu untuk mengatasi kejemuan berlayar ia bermain gitar, menyulam, dan belajar bahasa Inggris. Untuk tidak mencoreng muka pemerintahnya, tulisan Rose diterbitkan setelah ia meninggal dunia pada 1832.

Atau masih ingin membaca buku harian Mary Watson.

Pada usia 21 Mary menikah dengan nelayan Queensland Australia bernama Robert di pulau Cicak. Bulan September rupanya laut kurang bersahabat. Ikan sukar dijaring sehingga Robert terpaksa berlayar jauh meninggalkan istri dan seorang anak bayinya pada September 1881.
Begitu suaminya pergi, kediaman Mary diserang oleh kaum Aborijin yang berang lantaran mereka dianggap menghina tempat suci mereka dengan mendirikan bangunan di tempat yang keramat. Dalam serangan ini pembantunya Ah Leong tewas dihujani tombak.

Dua hari setelah kejadian, penduduk asli kembali menyerang rumah Mary. Dalam buku hariannya Mary menulis. Penduduk aseli menombak Ah Sam. Satu dikanannya dan tiga tombak dibagian kirinya. Buku harian ditulis pada 1 Oktober 1881 ini ditemukan di reruntuhan rumahnya yang ditinggal mengungsi secara mendadak.

Dengan seorang bayi yang lemah dan Ah Sam yang terluka parah mereka melarikan diri menggunakan perahu. Semua serba terburu-buru, apalagi salah satu pembantu (nama tidak disebutkan) yang ditugaskan mengambil air ternyata tidak pernah muncul. Dugaan kuat pembantunya ikut disergap para Aborijin.

Hari ke empat setelah terombang ambing dalam ketidak pastian dan kehausan sejauh 60 kilometer, mereka sampai di sebuah pulau tak berpenghuni. Ternyata airpun tidak ditemukan di pulau ini. Lalu ia menulis "Ferier (nama panggilan anaknya) saya benamkan kedalam laut - sekadar mendinginkan suhu badannya lantaran haus sudah sangat menyiksa. Akupun demikian. "

Sehari kemudian ia menulis lagi, Ah Sam sudah tewas karena luka dan penderitaannya. Ia masih menulis "tiada air, bakal mati kehausan.."

Empat bulan kemudian, sebuah kapal layar melihat mereka. Ah Sam mati dalam kantong tidur, Mary dan bayinya mati bersebelahan. Buku hariannya disimpan dalam sebuah kotak kayu tak jauh dari mayatnya. Saat ditemukan separuh badan perahu terisi oleh air hujan. Sesuatu yang datang setelah mereka tak membutuhkannya.

Kedua buku harian ini bisa diintip pada museum di Perth.

sumber gambar:http://jacbayle.club.fr/livres/Femmes/Rose.html

August 31, 2007

Jurus Jemput Bola

Jurus Jemput Bola

Jumat, 31-08-2007 12:28:29 oleh: Mimbar Saputro Kanal: Gaya Hidup

Bagi Andri, pemilik sebuah gerai optik di kawasan Grogol, pengunjung yang sepi bukanlah alasan baginya untuk berkeluh kesah. Tempat usahanya terletak di jalan yang tumplek blek akan kucuran sumber kemacetan. Dari barat sampai ke timur berjajar Universitas Tarumanagara, Trisakti, Pasar Grogol, RS Sumberwaras, perlintasan kereta api yang tak pernah sepi barang dua atau tiga jam sekali, Roxy Square, Roxy Mas, Carrefoure Harmoni.
Ia pun sadar lokasi yang dipilihnya pernah terbakar dalam kerusuhan 14 Mei sepuluh tahun lalu. Bagi sementara orang, lokasi niaga demikian sudah kehilangan daya pancarnya. Andai dibangun kembali, dewa keberuntungan sudah kepanasan, dan merat dari sana.

Daripada ikutan menyalahkan sebab akibat kejadian masa lampau, ia "cancut taliwanda" - menggulung lengan bajunya. Depot bril yang sepi ditunggui oleh asistennya yang rata-rata berkulit gelap, sementara Andri melakukan gerakan yang ia sebut "jurus menjemput bola"
Kepada pelanggan yang tidak sempat berkunjung ke gardunya lantaran malas untuk datang kawasan tempatnya berniaga sedang diaduk-aduk oleh proyek pekerjaan jalan layang yang terbatuk-batuk jalannya, Andri tak segan mendatangi kediaman mereka. Dengan sabar mendengarkan keluhan pelanggan sambil tersenyum, lalu menawarkan pengukuran kemampuan penglihatan. Semua dilakukan di rumah pelanggan.

Dalam tiga hari, kacamata sudah dibawa oleh para asistennya ke alamat pemesan.

"Kalau tidak begini, saya sudah bangkrut pak. Pesaing ramai, pengunjung sepi," katanya sambil corat coret ukuran plus 2.50 dan minus 3.25 pada dua mata saya yang kiri dan kanan. Satu lagi, "minus mata keranjang," kata saya bergurau.

Senyampang transaksi selesai bisa dipastikan sebuah pesan singkat mampir di HP anda sebagai ucapan terima kasih, "Terimakasih telah mempercayai kami, masih ingat kepada kami, semoga Tuhan memberkati bapak/ibu sekeluarga besar.."

Sebuah pesan singkat, murah, tepat guna. Tak heran usaha Andri tidak ikutan gulung tikar seperti teman-teman lainnya.


Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

Gajahmada

GajahMada
Jumat, 31-08-2007 09:23:57 oleh: Mimbar Saputro Kanal: Gaya Hidup

Sebuah lintang kemukus (komet) dengan ekor panjang dan terang nampak menyeruak dikedinginan malam di langit Majapahit. Malam itu embun tebal luar biasa menyelimuti Majapahit. Teriakan burung gagak yang menclok di wuwungan istana di malam hari bukan peristiwa biasa. Lampu minyak, obor yang menerangi pelataran kerajaan seperti "mendrip-mendrip" kalah perkasa.

Ki Dipo Rumi dan Wongso Banar, peronda kebetulan menguasai dalam "ilmu titen" - kemampuan menandai suatu peristiwa dilihat dari kejadian-kejaidan sebelumnya. Mulai gelisah dan bertanya-tanya. Pertanda apalagi akan menimpa Majapahit. Dengan usianya ia mengalami peristiwa saat Tumapel, di bawah kendali operasi Ken Arok menggempur Kediri, atau saat Singasari dilibas pasukan Jayakatwang sehingga berakibat Kertanegara pralaya.

Ini tahun 1319.

Sementara Gajahmada yang kala itu masih "krocuk" berpangkat bekel, di bawah wringin kurung (beringin), mendapat bisikan dari sosok misterius bertopeng mengaku "manjer kawuryan" -artinya bulan bercahaya terang , bahwa beberapa "resimen" pasukan melakukan latihan "baris pendhem", menyusun gerakan dari "sapit urang", "dirada metha" atau "cakrabyuha" - kelihatannya latihan biasa, namun keseriusan dan kerahasiaannya perlu dipertanyakan.

Ada tiga resimen di Majapahit. Jalapati dibawah Tumenggung Rakrian BanyakSora, lalu Jalayuda di bawah Tumenggung Panji Watang dan terakhir Jalarananggana di bawah komando Temenggung Pujut Lontar.

Teka-teki, misteri tokoh dijalin mulai dari halaman pertama menjebak rasa penasaran. Sama misterinya ketika lintang kemukus menyeruak di tengah keganjilan embun yang seperti uleng-ulengan -bergelut dengan awan.

Satu-satunya pemimpin yang sama gelisahnya adalah Mahapatih Majapahit Arya Tadah - namun mahapatih ini sudah uzur, batuk "kemekel" mulai menghiasi napasnya.
Gajahmada ditugaskan mencari anasir makar. Sekalipun kadang secara pribadi ia sering berseberangan dengan kebijakan Kala Gemet nama kecil Prabu Jayanegara yang oleh sementara pihak dinilai cuma sosok gemar bersolek, "thuk-mis" dengan perempuan cantik, di samping kegemarannya mengadu macan dengan orang. Namun tugas menepis kekacauan adalah lebih utama dari pamrih pribadi.

Konflik mulai terjalin dan mencuat ketika para Temenggung menganggap remeh laporan Gajahmada, atau malahan sebagian diantara mereka sengaja mengacaukan laporannya. Apalagi di antara pasukan telik sandinya Bhayangkara, terdapat orang "minger keblat" alih-alih jadi pagar malahan menjadi predator tanaman.

Lalu seperti mengajak pembaca mengingat bagaimana ketika pasukan pemberontak Rakian Kuti mampu mendesak Jayanegara sampai terbirit-birit diselamatkan oleh seorang prajurit rendahan berpangkat bekel Gajahmada, sehingga negara praktis tanpa penjaga, terjadilah ontran-ontran. Penjarahan, perkosaan, pembakaran toko-toko, dan kediaman milik orang kaya atau sekadar pelampiasan dendam.

Ternyata cerita Nagasasra dan Sabukinten, Api di Bukit Menoreh, Pelangi di Singasari, Bayang-bayang suram, sudah membuahkan inspirasi menulis novel yang berselanjar di situs sejarah.
Penulis Langit Kresna Hariadi mampu mengajak pembacanya membuka lembar demi lembar kisah GajahMada dengan pasukan elitnya yang kecil namun cupat trengginas dan nggegirisi kemampuannya.

Apalagi semacam jendral Lintang Waluyo dan Wijoyo Suyono ikut menyarankan kita membaca sejarah tanpa belajar menghapal sejarah.

Saya sengaja mempopulasikan beberapa istilah "era-majapahit" dalam buku tersebut. Buku yang susah diletakkan setelah mulai membacanya.

Judul Buku GAJAH MADA Penulis: LK Hariadi
****
Tulisan ini hasil cuci gudang di blogger saya.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

Mendadak digempur Martware

Mendadak Digempur MartWare
Jumat, 31-08-2007 13:37:38 oleh: Mimbar Saputro Kanal: Gaya Hidup

Bermula dari kebiasaan para tetangga menitipkan tabung elpiji kosong kepada kami, untuk diisikan saat mobil gas milik Jaya Gas, lalu timbul niatan para pimpinan kabinet KTKW (Kanca Tidur Kanca Wingking) untuk menjadi penyalur gas. "Ini peluang," katanya meyakinkanku dipaksa sebagai pemilik modal.

Waktu itu hanya satu perusahaan penyalur gas masih terbilang separuh tangan. Yang bonafid
yaitu Jaya Gas milik group Ciputra sang pengembang property. Jaya Gas dipilih karena saat itu dia tidak pernah berselingkuh dalam soal isi tabung. Sementara yang lain ada yang tega mengisi dengan air, mirip dengan kasus AVTUR campur air penerbangan Batavia Air di Kalimantan.
Untuk menjadi penyalur Gas di Grogol membutuhkan ketekunan, diplomasi. Kadang bertemu staf bertingkah sok preman. Yang harusnya menerapkan falsafah "what can I do for you" sudah tergelincir menjadi "what you can do for me"

Singkat cerita kami berhasil menjadi agen gas . Minggu pertama laku 10 tabung elpiji itupun dengan bonus mulut sampai kebas (baal) bin meniran lantaran promosi ke mana-mana. Lama-kelamaan 50 tabung bisa laku dalam sehari, belum lagi usaha sampingan menservis kecil-kecilan kompor gas rusak yang sebetulnya cuma selang gas mampat oleh kotoran.

JADI PENYALUR AQUA
Eh kok kebetulan para snobis Grogol mulai "titip" lagi tabung AQUA untuk diisikan manakala mobil AQUA lewat. Kesempatan inipun kami genjot menjadi penyalur AQUA, sampai-sampai saya dipiknikin ke Gunung Salak dan fasilitas penyimpanan AQUA.
Maaf, tolong ya, bayangkan beberapa tahun ke belakang saat cara para bala-Indonesia umumnya berpikir "cuma air mentah saja kok mahal" - ke menjadi ketergantungan ARRRQUA (ini kata orang Madura), memerlukan usaha lama lho.
Dulu ada pemeo "cuma orang kurang satu strip yang mau minum air bening, tidak direbus, mahal pula" .

Belakangan para salesman yang memang tajam pengendusan bisnisnya, dari satu orang akhirnya sampai berjamaah menawarkan jasa seperti Kacang 2K (ini bukan versi window), kwaci, es krim, anggur cap orang tua, sampai akhirnya toko berubah menjadi mini market.
Sejak itu kaos saya selalu "BERMEREK", maksudnya merek Kacang Garing, Kacang Pilus, kacang kutub, Es Krim. Sekali cuci langsung tumbuh bulu pada kaos murahan tersebut.
Lalu perusahaan besar semacam susu IndoMilk, IndoMie ikut masuk memasok dagangan dengan harga "konsinyasi" - alias kalau laku dibayar, kalau rusak akibat ngengat atau tikus langsung diganti, kalau barang kadaluarsa bisa ditukar. Semua datang mengetuk di depan pintu.

SANG PENYELIA CANCUT TALIWANDA
Lalu para supervisor turun tangan membantu kami, mengasuh pengusaha kecil agar bisa bertahan maju diderasnya persaingan. Betah "sejem dua jem" ikut menyusun display barang dagangan kami, terutama produk berawalan INDOXXX. - masih diiming-imingi penampilan terbaik mendapat hadiah menarik (kalau masih ada stok).

Belakangan, sang supervisor yang mukanya mirip pelatih nasional kita "bola tepok" dengan mobil Katana Putih (ini tahun 1985-1990-an bung), sudah tak nampak lagi, padahal biasanya dua hari sekali usai pulang kantor ia rajin menyambangi kami.

Ternyata sebagai gantinya, ia sudah memarkirkan Katananya di lokasi lain, bukan sebagai Supervisor melainkan "owner". Mereka mendirikan IndoMart, CeriaMart, hantublauMart yang kemudian diikuti oleh para clowner lainnya.

Jelas kami usus-buntu ditandingkan dengan predator model Indomart lengkap dengan ruang berpendingin udara, dan ajaib harga dipatok lebih miring dari sekedar "jigo, gocap,cepek" - tak ayal pelanggan berpaling. Apalagi kompetor lain Grogol juga "berselancar" buka agen gas, agen Aqua, bahkan sekarang air isi ulang. Akibatnya usaha dipangkas tinggal Elpiji dan Aqua, mengingat pelanggan memang masih belum berpaling.

Kalau di dunia mayapada kita kenal Spyware, AdWare. Praktek di marcapada mengenal MartWare, yaitu orang yang "baik, ramah, sempurna, tanpa pamrih" datang membantu kita padahal sejatinya adalah "spy" para Mart atau SuperMart yang mengawasi gerak-laku, taktik-bisnis pesaing, untuk dilaporkan ke perusahaan induknya.

Persaingan dagang biasanya berakhir dengan bertekuk lututnya sang pemilik modal pas-pasan akibat bujuk rayu ala "anak asuh"Threre is no free lunch in the real world....Jadi mengkeret hendak berbisnis ? Jangan kuatir, besok anda bangun pagi, semua sudah lupa kok.
****
Tulisan ini hasil cuci gudang yang lain.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

August 21, 2007

Terpaksa Hampir Malam di Bali

Yang membuat hati mongkok (menggelembung) ketika pesawat dari Perth bersiap mendarat ke Bali, adalah wajah para turis Australia semangkin (ng) cerah, Bali..Bali, Indonesia kata mereka. Saya membayangkan mereka pulang membawa kenang-kenangan kaos Bir Bintang. Ketika mereka sibuk menurunkan papan selancar dari tempat pengambilan bagasi, saya ngelonyor ke loket keberangkatan dalam negeri. Maklum masih menggembol tiket cadangan ke Jakarta.

Melihat panjangnya daftar penumpang cadangan GA 727, Denpassar - Jakarta. Harapan saya seperti melaporkan kehilangan HP ke kantor polisi. Kemungkinan berhasil keangkut cuma tersisa setipis pisau cukur. Untunglah petugas menerbitkan harapan "bapak sendirian?, tidak bawa bagasi?"

Kontan saya jawab "Yes", mau rasanya menyodokkan siku saya kebawah seperti yang diperlihatkan di filem olah raga. Paling korban sebuah pemotong kuku dibuang agar tidak mengalami hambatan di pemeriksaan barang kabin nantinya. Biar lebih "yes" lebih menggigit, saya keluarkan kartu Frequent Flyer.

Tapi peraturan yang berlaku, harus menunggu setengah jam sebelum waktu terbang tiba. Padahal itu berarti masih dua jam lagi.

Maka sasaran saya pertama adalah Kedai, nama sebuah restoran Indonesia dengan logo mirip rumah makan Padang Simpang Ampat.

Saya memesan Soto Betawi yang dihidangkan dengan piring melamin kotak, mirip gaya kedai masakan Jepang. Ruangan ber AC, dipenuhi para anak-anak muda dan orang tidak muda yang memiliki kesamaan yaitu Merdeka untuk Merokok ditempat tertutup. Merdeka untuk tidak perduli banyak anak-anak kecil dalam ruangan tersebut. Uhuk, saya terbatuk batuk [habis esmosi (s)]

Rasa masakan biasa-biasa saja. Wes Pokoke, Caputauw - lumayan, apalagi perut memang sudah lapar lagi. Lalu didepan saya ada loket penjual es. Saya pesan es Kacang Merah, rasanya lebih kacau beliung sebab kacang merah bantat yang terhidang.

Waktu mulai dipangkas dengan duduk manis membaca novel Messiah sampai selesai. Lalu saya tarik majalah. Ada artikel Kelapa Bakar membuat "greng", sayang saya sudah kehilangan "krentek" untuk membacanya sebab ditengah semilir angin pantai dan seliwerannya para pelancong di Denpassar, saya sempat tertidur di kursi dan terbangun saat mencium harumnya kapucino. Lalu disebuah kafe, saya memesan minuman ini, yang dilayani oleh seorang mbak yang entah kenapa kalau berbicara desibel suara "cempreng" yang dihasilkan selalu mengingatkan pemain sinetron perempuan pesolek di Office Boy atau si kembar dalam Cinderella.

Tigapuluh menit menjelang keberangkatan pesawat saya temui petugas, bahu langsung terkulai dan kepala tertunduk, tempat penuh pak. Lalu saya mengotak atik maksud pertanyaan petugas " bapak sendirian, tidak bawa bagasi," mungkin maksudnya, ngapain eluh buru-buru pulang ke Jakarta. Sial bener.

Dan ini liburan panjang sehingga praktis penginapan papan atas, tengah, bawah di Bali ini penuh semua. Lalu saya lancarkan, rencana "B" - namun keponakan yang saya hubungi hanya menjawab "maaf pakde saya sedang jadi kumendan (u) pedang pora teman menikah, baru bebas jam 8 malam nanti."

Terpaksa menunggu Hampir Malam di Bali...

August 20, 2007

Gulai Petai di Perth, Nyasar di toko Pinky

Selasa, 21-08-2007 14:43:31 oleh: Mimbar Saputro

Kadang rindu juga akan masakan Indonesia. Maka TKP di jalan Barrack, Perth menjadi sasaran utama. Dengan tajuk Indonesia Indah, House of Rendang, maka jangan buru-buru memerintahkan enzym dalam perut bahwa anda akan menemukan cita rasa bak Sari Bundo, Simpang Raya atau Sederhana, sebab bagaimanapun pemilik kedai harus menurunkan standar bumbu agar tidak terlalu "merendang banget" sehingga bisa dinikmati perut "Mat Sale" alias bule.Ketika arloji menunjukkan pukul sembilan belas malam, saya sudah berada di mulut pintu masuk. Karena letaknya di lantai dasar, diperlukan tangga untuk menuruninya.

Di ujung anak tangga terakhir, sensor elektronik meraba tubuh saya dan langsung berteriak nyaring sehingga seorang anak muda keluar dari dapur. Sambil celingukan. Lalu ia masuk kembali kembali bergumam "kok orangnya tidak ada?," Padahal sosok setinggi 163cm bobot 82 kilo sudah berdiri "ngejogrok" didepan bufet masakan. Mengingat saya belum mendalami ilmu panghalimunan (menghilang), anak tangga saya lewati sekali lagi untuk membangunkan alarm, kali ini berhasil soalnya saya teriak dalam bahasa negeri "beliii .."

Beberapa jenis masakan kelihatannya ludes, termasuk rendang. Yang tersisa adalah gulai daun singkong bertaburkan petai, capcai kampung, gulai otak kambing dan ayam pop. Saya pilih semuanya terutama daun singkong, lalu anak muda ini menawarkan "ada ati dan ampela ayam pak," yang tentu saja tidak saya tolak kesempatan emas ini. Sebab di resto MatSaleh, mana ada ati ampela dan otak diperdagangkan untuk manusia.Maka sambil duduk dibawah songsong gaya Bali pandangan menebar suasana resto yang didekor oleh pajangan wayang kulit, wayang golek, lukisan gunung Merapi yang memang diusahakan mirip dengan suasana Indonesia. Saat itu saya satu-satunya pengunjung direstoran tersebut. Lalu dibelakang, terdengar CD diputar "Bersama Bintang," mendayu-dayu dari Drive. Lho kok yang terbayang adalah Sinetron Cindy. Tontonan prioritas utama Sinetron yang para Kitchen Kabinet, nun 1600mil jauhnya.

Tiba-tiba saya seperti terlempar dalam kesendirian, sementara diluar sana kafe-kafe memperdengarkan kesibukan dan keriuhan seperti anak sekolah ditinggal guru rapat ke ruang kepsek.

Mohon maaf, kepingin melankolis.

Kedai ini letaknya di bawah jalan Barrack. Uniknya lantai pertama diisi oleh toko orang dewasa yang menjual pernik uborampe urusan selang [bla bla bla]. Dengan dekorasi bernuansa pink, ada logo hati, kadang siluet kepala bertanduk dan berbuntut tombak, maka kerapkali habis makan kuterus nyasar ke toko selang [bla..bla..bla] ini.

Kadung mengaku sering kesasar, harga sekeping cakram DVD minimal 60 dollar (hampir setengah juta rupiah). Tapi pesan sekarang, seminggu baru tersedia. Jadi sistem penjualannya mirip inden punya.

Ini kesasar atau kesasar?

August 15, 2007

Dessertarian

Pradep sehari-hari berprofesi sebagai "dokter lumpur" pada rig pengeboran ini termasuk pemangsa sayuran sedari kecil. Maklum didesa asalnya di Bombay mereka dilarang menyantap daging mahluk hidup. Namun susu dan telur diijinkan sebagai pengganti pasokan protein. Yang tidak nahanin, kadang dia kecomelan, "protein bisa diperoleh tanpa daging" - yang biasanya saya jawab enteng kalau makan protein dari tumbuhan saya cepat lapar. sementara susu kurang hopeng dengan perut saya.

Tanpa disangka di bawah tenda pada ketinggian 2600 meter di hutan liwang-liwung, Papua Niugini, dengan angin dan halimun dingin mengiris tulang, saya malahan di bombardir debat beliung soal pro dan kontra vegetarian.

Kecomelan yang lain dia heran melihat saya sehari-hari memakan talas, seperti cara makan sebagian orang Papua Niugini. "Heran kamu tidak makan nasi atau roti kalau sarapan." Komentarnya.

Teman dari India memang sangat taat kalau sudah bicara mengenai makanan. Morali, misalnya, dengan lawe (benang) putih menyilang dari pundak kanan ke pinggang kiri. Setiap jam makan, dia hanya muncul sejenak di kantin. Wajahnya kusut seperti drill kurang dibesut. Kalau sudah begitu ia menuju tempat penyimpanan es krim sebab jenis itulah yang disantapnya sehari-hari dengan kacang-kacangan.

Sekali tempo saya tanya bukankan tersedia banyak sayuran yang bisa dimakan tanpa takut ada berbau daging. Alasan Morali sederhana. Ia kurang suka sayuran Australia alasannya tidak se nikmat sayur dari Bombay. Mungkin ia kangen negerinya atau sekedar menunjukkan kepatriotannya.

Akhirnya pemuda santun ini saya panggil "Icecreamtarian" pasalnya menjelang tidur, ia menggembol eskrim dalam gelas styrofom.

Ada lagi, Sandip. Dengan garpunya, ia cungkili setiap satu mili persegi piring mencari daging tersembunyi diantara sayuran.

Maka setiap makan selalu ada sisa cungkilan daging atau sayur yang tertuduh sebagai daging, berserakan dipiringnya. Kalau saja di sekitarnya tersedia suryokonto (kaca pembesar), dia tak akan segan mencari biang kerok bernama daging.

Namun dengan garam dapur, dia malahan terlalu intim. Bayangkan teh hangat, alih-alih diberi gula, ia malahan menuangkan garam. Tidak terkecuali makan daun salada, tomat, kubis, wortel. Sarapan paginya, yoghurt masam juga tak luput dari kecrotan garam. Maka Sandip saya panggil Saltarian.

Rupanya dia menunggu saat untuk membalas. Saat makan malam saya hanya mengambil Kue Pie, langsung dia menyerbu "dessertarian.." - padahal rencanaku setelah melahap kue lezat ini baru menyendok nasi dan daging.

Pentil Becak

Warna Teks


Mungkin masih ingat masa kecil bermain balon terbang yang diisi gas karbit. Lalu keesokan harinya balon tersebut "ngepleh" tidak mampu terbang lagi. Padahal tidak bocor.

Di rig pengeboran, kami sering mengisikan gas yang keluar dari mulut lubang bor, kedalam balon-balon karet tadi. Lalu gas balon kami masukkan kedalam alat khusus gas. Dari analisa gas hidrokarbon tadi bisa dilihat watak sumur yang bersangkutan. Misalnya sudah mengandung banyak air (tak disukai), gas kering atau kondesat.

Teknik menyampling gas ini cukup merepotkan dengan ketepatan rendah, sebab terjadi dekomposisi gas sehingga hasil pembacaan menjadi meragukan. Padahal jarak mulut sumur dengan laboratorium sekitar 20 meter panas (lebih sedikit), dengan jarak berjalan kaki tidak sampai satu menit. Toh gas yang dianalisa seperti mau mengatakan bahwa sumur yang dibor bakalan mandul.

Belum lagi kalau balon yang hijau keburu meletus sebelum sampai laboratorium. Pasti hatiku amak(k) kacau.

Seorang teknisi dari perusahaan IsoTech, Amerika, mengamati bahwa saat udara dimasukkan kedalam ban sepeda, maka volume udara tersebut tetap. Artinya ban tidak kempes. Rahasianya tentu pada pentil ban yang memfasilitasi aliran satu arah kecuali kalau bannya digembosi dengan cara menekan ujung pentil.

Ahli tadi lalu memotong pipa aluminium, dan kedua ujungnya dipasang pentil ban sepeda. Sekarang ia memasukkan gas alam kedalam potongan aluminium tadi dan ternyata komposisi gas tidak berubah banyak.

Lalu mereka menjual tabung aluminium berkapasitas 110 cc, dan sekalipun mengandung gas, uniknya tetap boleh dibawa masuk pesawat. Asalkan... kotak Hazmat yang disertakan saat membeli tabung tadi tetap dikirim balik.

Untuk menjaga agar pentil tidak sengaja tertekan, mereka juga menjual tutup pentil sekalian dengan bonus sebuah ballpoint.

Selain menjual tabung, menjual bungkusnya, dan menerima pelayanan jasa laboratorium untuk menganalisa gas.

Yang uniknya, kardus pembungkus tabung gas tadi sepintas seperti karton biasa. Tetapi pihak penerbangan mana saja mengijinkan kardus sakti tadi dan gas masuk kedalam pesawat.
Kalau tabung sudah selesai dipakai segera didaur ulang sehingga mereka bisa menyombongkan produk yang punya perhatian terhadap lingkungan. Tapi kalau jangan coba-coba menawar dengan mengisi ulang tabung tadi, ancamannya setengah juta dollar atau lima tahun penjara.

Hazmat= Hazardous Material

August 13, 2007

Kutangkap dikau lalu kulepaskan


Pak Petrus ini pada bulan Juni 2007 lalu memancing di sungai Ropa. Mula-mula ia pikir cuma ikan kecil saja yang menggigit umpannya. Ternyata seekor Barramundi besar menarik-narik joran pancingnya. Lihatlah bagaimana repotnya pak Petrus menggendong ikan untuk diajak berfoto bersama.

Setelah cukup lama berfoto. Ikan segera dilepaskan sebab, ikan sebesar itu masih dibutuhkan kelompoknya untuk berkembang biak. Pak Petrus hanya gemar memancing, itupun dengan teknik agar tidak terlalu menyakiti ikan tangkapannya.








Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

Berkenalan dengan alam gaib - dua anak kecil hilang

Hari pertama Lebaran begini baru sadar ketika hendak bersilaturahmi kerumah kerabat, jarum penunjuk perut mobil menunjukkan tanda nyaris kosong. Terpaksa ketika orang lain menikmati opor ayam hangat kemebul (asap), ketupat sekel-cemekel (padat), saya dan adik mendapat tugas membeli bensin.

Ternyata didalam kota Kotabumi, Lampung Utara, setelah diubek-ubek, semua penjual bensin pada tutup. Sehingga kami mencari pom bensin yang berada diluar kota, biasanya melayani angkutan seperti bis atau truk lintas Sumatra. Saat melewati sebuah permukiman para transmigrasi, Poncowati, saya melihat dua anak perempuan kecil berusia antara enam dan empat tahun berdiri seperti menunggu angkutan. Maklum sekali lagi ini lebaran pertama mereka nampak berdandan habis. Baju merah tipis dari cita kasar, menggunakan selop (terompah) mungkin buatan Tasikmalaya. Tetapi karena berbeda jurusan saya hanya melirik selintas.

Kembali dari pom bensin yang juga tutup, sial bener, anak tadi masih berdiri disana, kepanasan diantara semak alang-alang dan pohon karet yang tak terurus. Saya dan adik lalu turun. Tanpa banyak cingcong, anak saya angkat duduk dibelakang saya. Baunya? maaf jangan berfikiran jauh, seperti kulit terbakar matahari.

Saat mobil baru melaju pindah dari gigi satu, baru ingat bahwa kami belum menanyakan tujuan mereka. Lagian anak kecil begini mau kekota (Kotabumi) apakah bisa hapal jalan pulangnya?. Baru saja kepikiran begitu, serentak saya dan adik melihat kebelakang. Kedua anak tadi entah bagaimana dalam hitungan detik raib dibelakang kami.

Saya saling lihat lihatan dengan adik saya. Lalu saya bilang "Agus, sebelum menghakimi sebagai orang bunian (mahluk halus) atau apa saja. Sekarang tugas kita mencari dia mungkin masih sekitar alang-alang ini." -

Kamipun turun kembali dari kendaraan. Sia-sia, diobok-obok maupun diubek-ubek alang-alang tak kami jumpai bocah berdua tadi. Sialnya tidak ada rumah penduduk terdekat untuk ditanyakan apakah mereka mengenal mereka.

Saya masih belum putus asa. Di kantor polisi terdekat dan melaporkan kejadian tersebut. Siapa tahu anak tadi berhasil loncat dari kendaraan yang berjalan dan terluka. Lalu saya berikan alamat dan nomor tilpun saya. DI dalam mobil, tertinggal adalah sepotong kelom Tasik. Namun saya tidak mau beresiko, apalagi masih menyandang sebutan mahasiswa, maunya serba rasional, tak kepingin mendengar soal gaib yang menurut saya tidak masuk akal, kendati sering kepentok juga dengan dunia "uka-uka."

Kelom memang akhirnya kami bakar sebab ada orang yang membisiki saya bahwa "andai, sekali lagi andai kelom tersebut datang dari kerajaan Bunian, tentu punya maksud gaib. Tetapi bukan tidak mungkin niat baik tadi akan dihalangi kelompok bunian lainnya. Daripada syerem, maka kelom geulis saya bakar dan yang tersisa adalah "bagaimana saya akan menjelaskan kepada teman atau kerabat, jam sepuluh pagi, tahun 1977, dua anak kecil meloloskan diri dari mobil tertutup, padahal ketika dipersilahkan naik sendiri saja kaki mereka tidak sampai melangkah ke mobil.


Teorema lain mengatakan, seandainya waktu itu saya tidak menyetop kendaraan lalu mengajak anak tersebut ke kota (sekitar 15km jauhnya), bisa jadi kami akan mengalami kecelakaan fatal sekalipun jalan sekitar desa Poncowati tersebut lurus dan beraspal mulus.


Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

August 11, 2007

Menulis gara-gara diledek teman

Nama samarannya Tjiptoning. Pria sepuh berbaju batik dengan kacamata tebal dan rambut putih menghias kepalanya ini adalah penulis yang saya kagumi. Sekarang ia duduk didepan kami, para peserta seminar Pendidikan Pers Mahasiswa, disebuah gedung yang kini disulap menjadi hotel mewah di Yogyakarta.

Setiap jam enam pagi, saat koran lokal Kedaulatan Rakyat sudah diantar ke pelanggan masing-masing, maka pembaca pertama adalah ibu Kost, 70, dan selalu terkekeh sambil menggumam dalam bahasa Belanda. Ditangan kanannya Suryokonto - kaca pembesar ia ayun ayunkan kedepan seakan-akan hendak memukul gemas sang penulis.

Pemandangan bertahun tahun saya saksikan manakala ibu Atmo, induk semang saya, usai menyelesaikan kolom Tjiptoning. Saya sendiri menunggu serial SH Mintardja "Api di Bukit Menoreh." berdebar menunggu lanjutan pertarungan apakah Kiyai Gringsing memenangkan pertarungan dengan cambuknya yang nggegirisi - menakutkan.

"Siapa sih nama sebenarnya Tjiptoning ini, Bu?" - lalu beliau menyebut nama seorang Pemimpin Redaksi Harian Kedaulatan Rakyat yaitu alm Bapak Wonohito.

Maka ketika bapak Wonohito selesai berbicara dan kesempatan tanya jawab digelar, saya seperti mendapat durian sultan runtuhan. Pertama kali maju dan menanyakan resep menulis agar menarik perhatian dan bisa dimengerti pembaca. Bapak Tjiptoning alias Wonohito yang berkopiah dan mengenakan baju batik, hanya menurunkan kacamatanya, lalu menjawab, "berikan kepada orang rumah, bisa ibu atau nenek, lalu tanyakan apakah beliau mengerti yang kita tulis."

Kalau mereka masih membetulkan letak kacamatanya, pertanda tulisan harus dirombak agar dapat dimengerti. Nasihat lain, jauhkan dari penggunaan kalimat asing, sebab kita tidak ingin menyiksa pembaca dengan menjejalkan istilah yang hanya bisa dimengerti oleh sekelompok masyarakat tertentu.

Pembicara lain dalam seminar yang menginspirasi saya adalah Ashadi Siregar. Nasihatnya sederhana, menjadi penulis perlu menyetel rasa peka agar lebih tajam daripada biasanya.
Tentu peserta seminar bertanya "caranya bagaimana?"

Kalian perhatikan saja di koran, manakala ada orang putus cinta, patah hati. Kebanyakan orang akan memberikan nasihat "cari yang pengganti yang lain dunia tak selebar daun kelor...." - padahal kata-kata ini penyakit kronis. Anda akan mati rasa dengan penderitaan orang lain.

Seorang penulis, akan terhanyut emosi bersama perasaan sang patah hatiawan atau patah hatiwati sebab dari situlah digali sebuah karakter atau bahan untuk membuat artikel. Itulah sebabnya kebusukan masyarakat umumnya dibongkar oleh wartawan karena mereka memiliki sensitivitas yang tajam dan terlatih.

Maka, pulang dari seminar, rasanya saya sudah siap menulis. Mesin ketik portable Brother dengan pita dwiwarna hitam dan merah sudah saya pegang berjam-jam. Tapi ternyata tak sepotong hurup muncul untuk sebuah artikel. Menulis masih terlalu sukar bagi saya, akhirnya hasil seminar berlalu begitu saja terlupakan.

Sampai datang seorang teman, dia meledek, percuma buang waktu menghadiri seminar kalau tidak pernah menghasilkan tulisan. Bisanya kok menulis untuk Suara Pembaca.

Saya biarkan teman ini menyerocos. Lalu kami berdiri makan angin didepan rumah kos-kosan yang terletak di jalan Dr. Sutomo, Yogyakarta. Tiba-tiba "sreeng" melintaslah teman-teman dari kos-kosan putri dengan menggunakan motor bebek. Selesai "uluk salam" - alias ber hai-hai - saya merasakan sesuatu yang mengganjal.

Indri, Titik, Tatik, Ninuk dan teman-teman tadi keluar asrama dengan menggunakan daster, sandal jepit dan gulungan rol rambut dikepalanya.

Bujug Buneng .. apa-apaan ini maka merucutlah gagasan menulis mengenai etika berpakaian. Mengenakan rol rambut, memborehi cream di wajah, adalah sarana mempercantik diri, namun kalau mejeng dijalan dengan pakaian dan cara dandan seadanya, lalu bagaimana akan dibilang cantik?

Tulisan itu saya ketik, bahkan ketika sohibah saya yang crigis (cerewet) datang, naskah disembunyikan dari pandangannya.

Pokoknya sedang menulis artikel untuk koran. Padahal dalam hati ragu naskah diterima redaksi. Maklum para penulis di Yogya kalau pakai gelar kesarjanaan berlapis-lapis, bisa memenuhi garis pinggir kartu nama dari margin kiri sampai margin kanan. Ditambah konon untuk laik muat di koran, diperlukan usaha berulang ulang.

Ada dua hari saya mengebut menyelesaikan naskah sampai tengah malam. Pembantu sempat komplin dipagi hari karena suara mesin ketik sampai jauh malam. Naskah saya masukkan kedalam amplop dan saya serahkan sendiri ke redaksi Kedaulatan Rakyat.

Ternyata seminggu kemudian, artikel tersebut dimuat di edisi Minggu Pagi, dengan judul dan beberapa kalimat diperbaiki sana sini. Suenangnya(e) luar biasa. Maka orang pertama saya traktir makan honor menulis, ngiras jajan Bakso Tahu Plempung di jalan Solo adalah sang pengkritik sekalipun menulis surat buat kekasihnyapun ia minta tolong.

Sementara Indri dan gengnya tidak tahu siapa jati diri penulis sebab saya menggunakan nama samaran "Mimin."

Berkenalan dengan (Mungkin) Mahluk Negeri Asing.. Cacing Terbang

Berkenalan dengan (Mungkin) Mahluk Negeri Asing.. Cacing Terbang
Sabtu, 11-08-2007 08:48:42 oleh: Mimbar Saputro Kanal: Gaya Hidup

TKP - sebuah jalan di kota Serang Banten. Usia saya sekitar 4,5 tahun masih TK. Sepulang sekolah saya menyempatkan diri bermain di halaman depan rumah. Favorit bermain adalah dibawah beringin rindang sambil menikmati keteduhan dan berharap bisa menikmati mengalirnya angin. Maklum udara kemarau terasa menyengat.

Maka ketika tiba-tiba ada angin berputar bak mini puting beliung sambil mengangkat daun-daun kering beterbangan keatas bersama debu halaman, bagi anak kecil pemandangan tak sehat ini justru menimbulkan kegembiraan tersendiri.

Hanya ternyata saya tidak sendirian, sebab mendadak diantara daun tadi seekor cacing atau ular mirip cacing bergelung seperti tumpukan tali kapal dan "terbang" kesana kemari mengikuti kemana saya pergi.

Saya pikir cuma halusinasi sehingga malahan menambah keingin tahuan tujuan mahluk "terbang" ini. Ternyata dia terbang sejajar dengkul kanan. Tidak ada pagutan atau darah kecuali sentuhan terasa dingin.

Saya masih berharap diatas pohon beringin ada anak kecil nakal menarik cacing pakai tali lalu mengajak saya bermain. Sayangnya, diatas pohon yang tidak mungkin orang dewasa mampu memanjat saking besarnya batang, apalagi iseng main yoyo berbadan cacing.

Setelah yakin tidak ada yang "ngerjain" saya dekati cacing terbang ini, ternyata kalau ditangkap ia mampu menghindar dari tangkapan saya.

Bosan bermain dengan mahluk ini, lama-lama muncul rasa takut sebab ia kerap kali menghilang dan tahu-tahu muncul didepan.

Akhirnya saya berlarian pulang masuk rumah dan menceritakan apa yang terjadi. Reaksi ibu seperti yang saya duga "fantasi anak kecil, sekarang cuci kaki, tangan lalu tidur siang." - tentu dengan tambahan pelajaran ilmu hewan - ular tidak bisa terbang, apalagi cacing. Bagaimana sih rasanya kita ingin jujur bercerita, ujungnya dikira berhayal. Kepingin rasanya jadi penulis, kalau sudah begini.

Ibu dan bapak. Jika seandainya melihat putera-puteri bercakap dengan teman tak kelihatan, atau mengaku melihat seseorang, janganlah langsung divonis "fantasi." Dunia itu menurut saya memang ada, namun kemampuan menembus batas alam tersebut akan menghilang sejalan dengan waktu.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

August 03, 2007

Cara Kenyang Ala Lupin


Bagaimana menghasilkan makanan yang kaya akan protein, rendah karbo hidrat dan mengandung serat. Begitu pertanyaan dikepala Dr. Jonathan Hodgson dari Universitas WA, Perth. Pertanyaan ini direalisasikan dalam bentuk penelitian sejenis tanaman Lupin. Semula hasil panen bijian Australia 800.000 ton per tahun ini dikhususkan untuk ternak. Namun Hodgson dan teman-temannya melihat kemungkinan lain. Lupin bias dijadikan roti alternative roti tawar biasa, mengenyangkan dan rendah kalori.

Bermula dari Oktober tahun lalu, Jonathan dan teman-teman dari UWA School of Medicine melakukan penelitian terhadap enam belas relawan. Selama empat pekan mereka diminta mengganti roti tawar untuk sarapan dan makan siangnya dengan roti lupin.

Cerita sukses datang dari nona Jones yang kehilangan bobot empat kilogram dalam empat pekan. "Rasanya roti lupin juga tidak terlalu buruk, bahkan ada rasa kacang didalamnya," begitu pengakuannya. Berbeda dengan temannya, maka relawan Jarvis mengaku tidak kehilangan bobot sama sekali, sekalipun tidak juga bertambah. Ia menyukai rasa Lupin apalagi "mampu menyetop keinginan mengemil," katanya gembira. Mohon dicatat studi ini dilakukan pada usia rata-rata 58.6 tahun dengan tubuh bongsor 31,3kg per meter persegi. Usia yang memang sulit untuk mengerem laju pertambahan lemak di perut.

Kini di Australia sudah diproduksi roti lupin anti lapar. Cukup menjadikan roti Lupin sebagai pengganti roti tawar yang biasa anda hadapi sehari-hari. Rasanya beda-beda tipis dengan roti tawar biasa, dan yang jelas lebih irit kalori sampai sepertiga dari kalori yang dihasilkan ole Roti Tawar Gandum.

Roti ini bertajuk "Slimmer's Choice, " diproduksi dari suatu tempat di Freemantle, Australia Barat dan mulai bias diperoleh di supermarket seperti IGA. Dalam seratus gram bahan pembuat Lupin, orang akan menemukan 886 kj energy, 25.3g karbohidrat, 9.5 g serat, 15.8gr protein dan 3.6g lemak. Bandingkan dengan roti tawar biasa yang umumnya mengandung 1030kj energi, 45.3 karbohidrat, 5.1 serat, 8.2gr protein dan 2,2 lemak.

Pesaing berat Lupin adalah Kacang Kedelai dalam soal protein. Namun sayangnya tidak semua orang suka akan bau kedelai yang konon "langu."

Dua belas bulan kedepan, Dr. Jonathan Hodgson akan meneliti para konsumen Lupin lagi. Kali ini ia membutuhkan 160 relawan dan pengecekan akan dilakukan terhadap level kolesterol dan kesehatan jantung para pemangsa Lupin.Anda berminat menjadi relawan. Tilpun +61-8-92240344
Foto from sare.org

August 02, 2007

Buku Harian (bekas) Peternak Gurami - Mendadak Dukun

Saya tengok arloji mengarah pada jam dua jam sebelum tengah malam. Seharian penuh saya mengontrol kolam gurami, tak terasa hari sudah malam. Kulit leher dan bahu mulai merasakan sengatan matahari yang semula tak diindahkan. Hasil kebun Citayam berupa Daun singkong, daun pepaya muda, singkong sudah dimuat kedalam kendaraan untuk oleh-oleh tetangga di rumah Grogol. Kalau tidak ingat besok harus ke kantor rasanya berat untuk melepas dingin malam, suara air yang saling memecah, terkadang kecipak air yang ditimbulkan ikan Gurami yang berkejar-kejaran.

Namun diantara gelapnya malam, sesosok tubuh tinggi kurus nampak mendekati kami. Rupanya bang Manaf seorang pekerja serabutan mengabarkan bahwa adik iparnya mengamuk sampai harus diikat. Rupanya sang adik sudah lama menderita sakit, lantaran kehabisan uang dan si sakit tak kunjung sembuh, ia dijemput balik oleh keluarganya dan bermaksud diterapi oleh orang pintar. Sampai di rumah ia malahan mengamuk sehingga menghebohkan se RT-RW Citayam. Sepertinya sudah tidak ada harapan hidup, kata bang Manaf. Ada pengapuran di kaki dan beberapa penyakit komplikasi. Lho bang Manaf, sekedar pengapuran kenapa harus pasrah.

Boleh jadi lantaran iba melihat mimik muka Bang Manaf yang sudah jauh datang dari desa SasakPanjang, saya sempatkan untuk membesuknya (sambil bawa uang sekadarnya). Kendaraan sampai terseok-seok menerobos jalan merah menuju rumahnya. Jleg, sampai disana, saya melihat banyak warga duduk diluar rumah. Pemandangan ini tepatnya terjadi kalau ada seseorang mendekati akhir hayatnya.

Begitu turun dari mobil, tiba-tiba kumpulan orang yang berkumpul seperti memecah dan menepi memberi jalan bagi saya dan Jreng .... hanya berlapiskan kasur diatas papan, tergeletak seorang wanita, separuh baya mungkin saya salah taksir usia sebab wanita desa sering berwajah boros ketimbang usia sebenarnya dengan rambut awut-awutan dan tangannya di cencang. Mukanya, tangannya barut penuh luka cakaran. Disekelilingnya para kerabat ada yang mengaji, sementara bau kemenyan tercium samar-samar.

Tolong diobati istri saya ini pak (h) Aji, dia ngamuk terus, udah dipanggilin dukun kemana-mana, belon baek juga,” kata seseorang yang mengaku sang suami. Belakangan saya dengar, kalau mereka tidak salah hitung sudah hampir sepuluh tabib alternatif didatangkan.

Lho saya bukan dokter pak,” kata saya mulai kecut sebab pertama saya bukan haji, kedua saya sekedar kuli minyak. Sempat menyesali diri, mengapa tanpa banyak pertimbangan menuju tempat ini.

Ya pegimana aja lah, didoakan gitu..” kata suaminya lagi. Mau tidak mau saya harus mengelus dagu. Nampaknya tidak ada jalan mundur..

Akhirnya saya berjongkok dan bersila, tentu menjadi pemandangan aneh seseorang pakai T-Shirt, bercelana jin, bersila sambil mengelus tangan dan kepala sang pasien yang nampaknya tertidur. Lalu saya minta tangan dilepas dari ikatan (saya tidak tahu mengapa berbuat begini), kepalanya saya elus sambil tentunya berdoa untuk kesembuhannya.

Perlahan dia membuka matanya, beberapa lelaki berloncatan mendekati sang pasien berjaga-jaga kalau dia mengamuk. Ada yang menyatukan telunjuk dan jari tengahnya lalu menorehkan tulisan ke telapak kaki si sakit. Saya sendiri sudah pasrah kalau dia mengamuk atau menerkam saya. Cuma mungkin karena kecapekan, mak Imah hanya melihat kearah saya lalu menunduk kepada tangan saya, pandangannya memang nanar, tak lama kemudian ia membalikkan badannya, tertidur miring membelakangi saya.

Lalu kaki yang katanya keropos tulang saya uap dan tak hentinya berdoa. Saya sudah lupa kalau saat itu menjadi pusat perhatian puluhan orang sekampung. Untungnya saya pernah melihat pengobatan alternatif dengan memberikan air “berjampi” kepada pasien. Juga pernah dua kali pertemuan mengikuti meditasi ala Reiki sekalipun tidak pernah berlatih.

Kata orang pasien mengamuk begini gelombang magnetisnya berganti arah bolak balik. Kalau anda meletakkan tangan sekitar 5 cm diatas kulit, kadang-kadang terasa ada hawa yang mendorong tangan. Konon ahli chikung mendeteksi ada “gangguan energi” di kawasan tersebut.

Tapi saya sekedar ahli meniru.

Eng ing eng…

Saya minta air kemasan, permintaan agak aneh untuk keluarga sederhana begini sehingga bekal air kemasan yang selalu tersedia di mobil diturunkan. Selama di kebun perut saya sering “belagu” mules saat minum air setempat sehingga terpaksa membekal air kemasan. Saat berkonsentrasi memohon kesembuhan melalui media air tadi saya sempat terganggu ada suara “waduh si Manaf bawa dukun dari kota, berapa bayarnya yah. Pasti mahal

Roman-romannya bule, kali yah, dukunnya.," Nah yang berkomentar ini mungkin calon pasien katarak.

Sepertinya ada setengah jam lebih saya bersila disekitar sisakit. Kaki mulai terasa kesemutan. Apalagi pasien kelihatan tenang. Waktunya untuk berpamitan. Tapi sang suami berkeras agar saya duduk disampingnya “ngopi-ngopi dulu napa?,” akhirnya saya penuhi permintaannya namun menolak kopi karena saya sudah minum ramuan hitam pekat itu selama berada di kebun.

Sang suami lalu mengucapkan terimakasih namun tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada saya. Lalu saya hanya tersenyum sampil menepuk bahunya, “jangan perdulikan soal itu pak, yang penting istri bisa waras.”

Eh dia menyambung lugu. “Saya punya anak laki sekolah kagak mau, tani kagak bisa, bawa saja biar kerja di Pertamina, jadi apa juga kagak napa-napa, pokok kerja.” – Coba, siapa membuat isu saya bekerja di Pertamina. Bagi mereka kalau ada kata minyak berarti Pertamina.

Ada setengah tahun saya tidak mendengar berita tersebut. Sampai ketika bersua, Gendok, anak bang Manap yang menyebutkan, “pasien” sudah sembuh, kemarin ia melihatnya memetik daun singkong , jalannya sekarang semper (pincang).

Mungkin doa para tabib alternatif, keluarga, bersama doa saya kali ini dikabulkan.
Terimakasih Tuhan.


Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

July 28, 2007

Buku Harian (bekas) Peternak Gurami - Ikan Mas

Judulnya ikan Gurami mengapa yang diceritakan ikan mas. Menurut para penasihat dadakan, ikan gurami membutuhkan masa pelihara lebih panjang ketimbang ikan mas (tombro), jadi saat menunggu gurami besar dan siap panen, kami sudah bisa memanen ikan mas empat kali. Dari buku para ahli ikan mas, disebutkan bahwa dalam waktu 3 bulan ikan mas yang dipelihara secara intensive akan siap dipanen dan dijual ke pasaran. Lalu pendapat ini saya uji silang kepada teman-teman dikantor yang terlebih dahulu bergerak secara kelompok membesarkan ikan di di karamba (jaring terapung) di danau. Sambil memperlihatkan wajah penuh optimis mereka menambahkan "pokoknya tidak akan rugi, ikan berapa ton akan dilahap pasar.." - coba siapa yang tidak menabuh semangat empat lima kalau sudah begini.

Maka pulang kantor saya banyak berendam di kolam TKP Citayam. Membeli berkarung-karung pakan pabrik berupa butiran (pelet) di Parung, Bogor dan kolam ikan mas mulai dibombardir dengan pakan bermutu tinggi dengan harapan tiga bulan kemudian sudah bisa dipanen. Maksud bermutu tinggi didalam pakan paling tidak ada separuh kandungan protein untuk tumbuh kembang sang ikan.

Bulan pertama, catatan pengeluaran pembelian pakan, gaji pegawai, uang preman, uang pembangunan jalan, listrik jalana, masjid sudah mulai membengkak. Bulan kedua saya mulai memonitoring kartu tumbuh kembang para ikan. Maksudnya mengambil beberapa contoh secara acak lalu diukur panjang badan dari ujung kepala sampai ujungkaki. Darah mulai mengalir deras ke otak, sesuatu terjadi diluar rencana. Saya saksikan kecuali napsu makan yang tetap semangat, ikan tetap tidak banyak berubah.

Bulan ketiga kesabaran mencapai strip terendah. Kolam kami keringkan dan dihitung. Ternyata sinyalemen penduduk benar, selain ikan tetap kontet, jumlahnya tidak berbeda banyak dengan saat membeli kloter pertama. Jadi kemana jumlah ikan yang dimasukkan pada kloter kedua?.

Lalu saya panggil sang penasihat merangkap pemasok ikan yang nakal. Mereka berkelit, "dimangsa burung Pak," seberapa banyak burung sampai ratusan ekor hilang. Ah, dia tidak kalah lidah "namanya ikan di air, nasibnya siapa tahu?."

Wah repot juga memiliki partner kalau sekedar mau mendapat keuntungan dengan sistem pukul sesaat begini. Apa mereka tidak memikirkan berbisnis lebih panjang lagi?. Karena jengkel ikan -ikan pygmi ini akhirnya saya berikan kepada teman yang hanya sekedar hobbi memelihara ikan untuk hobbi. Dua tahun kemudian saya berkunjung ke kolamnya, ternyata yang saya temui adalah ikan fitness saking langsingnya.

Pelajaran yang saya dapat adalah mendapatkan bibit ikan harus dari pemasok yang terpecaya sekalipun harganya sedikit mahal namun mutu terjamin. Kemudian, jangan membeli pakan pabrik di penjual sembarangan sebab anda akan mendapatkan kualitas pakan nomor dua yang rendah proteinnya dan berakibat ikan lambat tumbuh kembangnya. Saya juga baru tahu bahwa pakan palsu beredar dimana-mana.

Namun ada kejadian diluar "script."

Pemasok yang nakal tadi tiba-tiba sakit konon sampai kesurupan. Ia mengoceh bahwa saat berdiri dikolam melihat orang berpakaian hitam-hitam pangsi Betawi yang menyuruhnya pergi. Sejak kejadian tersebut badannya meriang. Paranormal lokal yang mengobatinya menyarakan sisakit untuk menyembelih kambing dan membuat selamatan. Tetapi si sakit mencoba menimpakan problemnya ke pundakku. Saya hanya bilang, biar saja yang berpakaian hitam-hitam menemui saya, bisa lewat mimpi atau apa saja, nanti kami berdialog. (padahal merinding juga Bleh). Jangan-jangan si sakit merasa bersalah lalu stress.

Teror lain, Rocky sakit, katanya sekali lagi ada penunggu pohon karet dan minta korban. Ketika teror mistik belum berhasil, datang seorang aparat desa. Hobinya berbaju ala militer. Selalu mengaku dengan nama ala saudara kita di Sumatera Utara.

Dia memasuki pekarangan saya, lalu menebang pisang karena katanya dulu dia pernah menanam pisang disana, sebelum tanah tersebut kami miliki. Lalu saya tegur. Harusnya saya yang minta pajak kepada bapak, karena menanam pisang ditempat saya. Sehari-hari memang pekerjaannya menjadi timer di stasiun Citayam. Dia, sebut saja Tagor, tidak pernah muncul lagi namun pisang selalu lenyap pada malam harinya.

Merasa dipermainkan, akhirnya seluruh pohon pisang saya perintahkan untuk dibabat habis sampai ke akar-akarnya. Ternyata ketika kita menggeram dia keder juga. "Wah bapak tanpa kompromi, rupanya.."

Kadang saya berfikir untuk apa semua yang saya lakukan ini. Tetapi ketika melihat ada beberapa keluarga menggantungkan hidup sekedar numpang makan kepada kami maka niat mundur dari usaha beternak saya tunda. Apalagi ini proses awal. Ibarat pertandingan bola baru babak penyisihan. Karyawan dan pemasok yang nakal satu persatu akan tersingkir nantinya. Semoga.

Helm

Tahun 1975-an saat mendapat kesempatan kerja praktek di Pertamina Wilayah Jawabarat, Cirebon saya berkesempatan menyaksikan sebuah operasi yang dinamakan penyemenan. Yang kira-kira mirip mengelem pipa besi dengan lubang bor yang tanah agar kedudukan casing tidak mudah goyah dan bocor. Semen yang dipakai disini agak khusus karena harus mampu bertahan pada temperatur bumi yang panas. Yang dipompakan hanyalah campuran semen air dan beberapa bahan kimia dan tidak ada campuran pasirnya sehingga asli bubur semen encer berwarna keabu-abuan. Dengan campuran bahan kimia, semen bisa mengeras setelah tiga jam
Truk-truk bercat jingga, berupa mesin pengaduk semen beserta pompa pendorong bubur semen bertekanan tinggi sudah siaga dengan pipa-pipa panjang berdiameter tiga inci melintang disana sini bak tentakel raksasa.

Pekerjaan ini beresiko, sebab kalau terjadi gangguan operasi, bisa-bisa semen mengeras didalam pipa-pipa saluran dan biaya operasi akan membengkak.

Hari masih belum beranjak dari pukul sembilan pagi saat operator Cement berdiri dengan seragam jingga dan menggunakan baju kerja coverall serta topi proyek yang terbuat dari aluminium berkilat diterpa sinar pagi. Hari itu ia menjadi selebriti sesaat di panggung kecil lokasi pengeboran. Semua mata bergantung pada keahliannya.

Saat mesin sudah meraung, perseneling masuk untuk melakukan persiapan menyemen yang disebut uji tekanan (pressure test), biasanya dipompakan air terlebih dahulu dengan tekanan tinggi untuk barang seperempat jam lalu mesin dimatikan dan tekanan tetap dipertahankan sambil dimonitoring dari waktu ke waktu. Saat pipa bergetar lantaran menahan tekanan tinggi mulai terdengar nyanyian khas pengeboran. Pipa-pipa ini saling bersenandung mirip suara ring seker motor yang oversize. Namun kami harus menjauhi tempat tersebut sebab senandung tersebut tidak jarang berakibat maut bila ada salah satu sambungan pecah ataupun putus.

Tetapi nampaknya operasi tidak berjalan seperti yang dikehendaki. Beberapa kali "uji tekan" dilakukan dengan tekanan 1500 psi (10atmosfir), pipa masih bocor dan celakanya lokasi kebocoran sulit diatasi sehingga operasi penyemenan belum bisa dilakukan.

Saat itu pak Isak seperti kesurupan jin iprit dari pohon aren dibelakang truk. Diatas panggung truk, ia menyumpah-nyumpah dalam bahasa Inggris yang belum saya mengerti maksudnya saat itu. Klimaknya helm aluminium dibantingnya keras-keras lalu helm menggelinding dari ketinggian satu meter lalu jatuh tertelentang tak berdaya. Jelas helm malang ini makin bertambah penyoknya. Pak Isak lalu turun dari truk dan mengenakan helm kembali. Ajaib ia nampaknya mengalami helmgasmic, terbukti wajahnya cerah kembali setelah meluapkan kejengkelannya entah pada siapa.

Saya melihat episode singkat dari kejauhan, sempat sekok (shock), maklum seumur-umur belum pernah melihat kejadian banting helm. Akibatnya suara aluminium beradu dengan besi baja, dan kilatan balik pak Isak mengamuk masih segar dalam ingatan saya. sampai sekarang, sepertinya kok gagah betul..

Saat itu pemakaian topi pengaman berupa aluminium masih dibenarkan. Celakanya para mandor pengeboran berlomba-lomba membawa helm mereka ke Tjokrosuharto - Yogyakarta untuk diukir oleh para pande perak disana, padahal memodifikasi peralatan keselamatan hukumnya haram.

Namun setelah beberapa kecelakaan akibat listrik yang menjalar melalui helm baja, pemakaian tersebut dihentikan. Jadi saya agak heran ketika bapak Presiden kita masih sambil tertawa mencoba menggunakan helm logam pada sebuah peresmian proyek. Dan ini disorot kamera dunia. Duh...

Ternyata helm yang terbuat dari plastik memiliki masa pakai. Biasanya hanya 3 tahun setelah masa produksi (tertera pada sertifikat atau label), maka helm dan jaring didalamnya wajib diganti. Apalagi kalau helm mengalami modifikasi seperti di cat, diukir, dilubangi. Praktis kekuatannya berkurang. Menurut para ahli, ada retakan mikro dalam helm plastik yang menyebabkan mampu menghantarkan listrik. Lagian helm kalau sudah lebih 3 tahun wajahnya sudah babak bundas (babak belur).

Pertanyaannya mengapa dunia pertambangan termasuk perminyakan sangat ketat diberlakukan peraturan keselamatan. Faktanya kecelakaan fatal terjadi hampir lima kali lipat dibanding kecelakaan lalu lintas di Australia. Selama ini orang berpendapat bahwa kecelakaan lalu lintas memegang porsi terbanyak dalam mencabut nyawa manusia, ternyata masih belum seperlimanya dibanding kejadian di industri perminyakan.

Lalu iseng saya melihat helm saya yang dulu di toko khusus hardware Jakarta. Jenis TuffMaster III buatan Australia ini dibuat pada 1995 padahal saya beli pada tahun 2004. Kalau terjadi kecelakaan berkaitan dengan helm, bisa saja pihak asuransi berkelit tidak membayar santunan dengan alasan helm saya tidak laik pakai lagi.

Jadi bukan susu kemasan saja yang memiliki tanggal kadaluwarsa.

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My Photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com