Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 20, 2006

Lebih baik Harakiri daripada tiba dini

Date: Fri Dec 30, 2005 1:06 pm

Perusahaan Kaos Hang-Ten Singapore memiliki kode khusus bagi pelanggan dari Indonesia yang dikenal main borong seenak udel. Bagi mereka kedatangan orang Indonesia ke gerai mereka akan disambut dengan wajah sumringah. Untung besar terbayang di depan mata.

Kalau dulu mereka menyingkat dengan "Indo-customer" - sekarang istilah di ubah menjadi "Keluarga Papanya Onel". - Sebetulnya berbau ledekan yang dipanggil "Onel" memang berbakat "sales" lantaran kerap menggiring papanya, mamanya, Oom, Tante, Pakde, Bude, bahkan eyang-eyangnya yang berkunjung ke Singapore untuk membelanjakan sebagian harta di jalan HangTen (baca Hengten). Saya malahan menjadi "test drive" kaos kaki keluaran mereka.

Kosok-Baline (kebalikannya, Jawa) - ketika perusahaan ini buka cabang di Indo justru angka penjualan tak seperti diharapkan. Pelototi saja gerai yang sepi pengunjung di Citraland, Semanggi Plaza dan beberapa tempat lainnya. Usaha mendongkrak penjualan seperti menghadapi jalan buntu. Menjelang Lebaran putaran uang sekitar 600 juta rupiah (tapi duwike Tauke). Nomor yang masih jauh dari diharapkan.

Lantaran "judek" alias mati langkah, sang Tauke lalu bilang ke Singapore, "kirimi kita pakar marketingnya dong, siapa tahu kita bisa mengejar ketinggalan" - lagi-lagi ketinggalan dikejar-kejar sampai berhasil (tertinggal) dari yang lain.

Lalu Onel yang saat itu berada di Hongkong, ditugaskan ke Jakarta untuk melakukan "studi banding" - atas kerendetan usaha di Indonesia. Saya wanti-wanti sejak dini soal hambatan psikologis dengan pemegang mahzab "status quo" - Saya hanya menyoba mengingatkan pengalaman ayahnya bahwa mengubah status quo ibarat menggempur batukarang. Pasalnya kita terlena-kulina dengan "zone-nyaman" sehingga setiap perubahan selalu ditanggapi sebagai "siksaan tanpa bentuk."

Gebrakan pertamanya adalah turunkan harga saat orang "euphoria" belanja. Menjelang lebaran atau natalan atau tahun baru adalah momentum yang sip-maglesip..

Namun pemilik gerai menolak dengan berkilah. Di Indo, kalau bisa justru naikkan harga dinaikkan sebab pada baru terima THR. Tak heran pelanggan yang terbiasa shopping di Singapore, terherman-herman (baca terheran heran) melihat harga barang di PIM, dan Giant lebih mahal ketimbang di Singapore. Juga kartu diskonto yang biasa berlaku semua negara, masih bisa diakali dengan kata-kata, tapi Indonesia tidak termasuk lho.

Menjelang kembali kekesatuannya sang konsultan sempat membacakan laporan dan rekomendasinya dan saya yakin tidak akan disukai sang pemilik modal. Mau tahu isinya, "pegawai disini lebih memilih harakiri kalau tiba di kantor jam 8 tepat, bisa tiba di kantor jam 10.00 adalah prestasi." - sementara di Singapore, Hongkong, telat masuk kantor sampai dua kali dalam sebulan berakhir pemotongan gaji, disamping
peringatan keras. Sekalipun semua maklum era perdagangan bebas kalau cuma dibibir alamat kita bakal terpinggir.

"Agenda rapat tidak pernah tepat waktu, bertele-tele, dan banyak yang tidak hadir." - begitu dalam laporannya.

"Pelayanan perlu dilatih agar lebih efisien," pasalnya dia pernah melihat pramuniaga membentak pelanggan lantaran jengkel ditanya berkali-kali "kaos ini buatan mana mbak?" - lalu si mbak mencuit "Sudah dibilang Amerika-Amerika, kok nggak percayaan sih.." tentunya dengan nada mendekati resonansi peluit kereta api. Pertama, kaos tersebut buatan Taiwan, kedua, tidak seharusnya marah dengan pelanggan yang jelas tidak bisa disamakan dengan keponakannya yang bandel....

Dengan laporan demikian "door stood" saya yakin, tauke di Indo akan mempersona-non-gratakan konsultannya. Ibarat PSSI, ditempa dengan pelatih dan pemain Asing yang jempolan, kalau materi dan moril masih sama, ya lembek juga hatsilnya. Paling gampang, salahkan Pelatihnya.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com