Migrasi atau Evakuasi

Date: Fri Jan 6, 2006 11:24 am

Melanjutkan kasus SMS-4444 - saat di gerai CDMA "parabola-alam" saya mendengarkan keluhan seorang bapak yang karena tuntutan kerja ingin memutasikan CDMAnya dari Surabaya ke Jakarta. Saya tidak tahu apa kerja bapak ini (EGP), tapi dia memang sempat mengeluh mengapa pelayanan Customer Care justru menghindari hari SABTU - mengingat orang kantoran macam dia, ijin seharian untuk mengurusi handphone "rada diluar nalar para manajernya". Sudah itu pas dia dan saya datang am 10:00, petugas mengatakan komputer down sehingga tidak bisa melayani pelanggan. Pelangan terpaksa keluar tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

Di luar gerai, bapak sebut saja Anton mengangguk ramah kepadaku nampaknya ingin berbagi jengkel.

Hal yang sekarang mulai langka. Orang Jakarta, kalau diajak ngobrol biasanya langsung merapal aji "tolak bala, tolak hipnotis, tolak tipu-tipu" - tapi bapak muda ini keluar Gerai dengan wajah jengkel sambil mengasongkan handphone silvernya flip kepada saya.

"Masak mau ganti nomor injeksi dari Surabaya ke Jakarta, saya harus mengurusnya di Surabaya dulu baru surat cerainya di tunjukkan ke Jakarta, berapa tuh biaya dan waktu yang harus saya keluarkan. Belum dapetin ijin dari bos, ngomongnya gimana?"

Waktu kami bicara, seorang pedagang asongan minuman dingin menawarkan Es Teh Manis dalam glas plastik bertutup, saya ambil satu dan bapak Surabaya menolak tawaran minum dari saya. "Bagus pak, di Jakarta jangan sekali-kali menerima tawaran minum, bisa dibius..."

Seperti diketahui untuk tilpun CDMA dikenal dua sistem. Pakai sistem kartu SIM yang namanya adalah RUIM dan ada yang nomornya dibakar kedalam handphonenya (tanpa kartu SIM), istilah mereka di (in)jeksi.

Lalu saya tawarkan bantuan gratis, saya bawa dia ke langganan di Roxy Mas. "Koh, ini teman saya butuh bantuan. Bisa tidak "nimpalin" nomor CDMA bapak ini untuk di (in)jeksi dengan nomor Jakarta"

Sekali lihat, si-engkoh langsung bilang, "Gampang saya jeksi pakai (ia menyebut satu nomor), bisa."

"Ini bukan mutasi tetapi evakuasi," kata saya bergurau..

Melihat muka sumringah bapak Anton Surabaya, bahunya saya tepuk. "Urusan kita selesai, saya permisi dulu karena ada urusan lain."

Kami bersalaman dan saya mulai mewawancari gerai lain... Enaknya ada milis, mengubah nyesek menjadi "plong" lantaran ada bahan cerita.

Bekasi 6 Januri 2006
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe