Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 20, 2006

Banting Stuur

Date: Sat Jan 7, 2006 10:08 am

Perusahaan bahan bangunan GajahSora berdiri sejak tahun 1960-an. Tatkala pendirinya Sumarwi (80-an) membangun bisnisnya, ia tidak pernah berfikiran "njelimet bin memet" - tentang bagaimana bentuk Simbol (saya yakin tahun 60-an belum ada istilah logo), misi dan visi perusahaan, bahkan nama usahapun ia ambil sekenanya dari cerita Nagasasra dan Sabukinten-nya SH Mintardja dan ditulis berdialek Jawa "GAJAHSURO" - bukan GajahSora seperti yang dikehendaki sang pengarang.

Soal Geomantis, penataan letak, arah toko menghadap baratdaya atau bukan, pendeknya pernik-pernik Fengshui, tidak ada dalam kamusnya. Ia hanya mengambil "sasi gede" yaitu bulan baik bagi orang Jawa, yang entah kenapa malahan diambil masa "sirikan" orang Jawa yaitu Suro dimana orang menyetop kegiatan penting.

Di belakangan hari ketika membuat stempel untuk kwitansi, nama Gajahsora disingkat menjadi GS - dan "de facto" menjadi logo. Cuman, repotnya, di luar sana sudah ada merek aki mobil dengan nama dan singkatan serupa. Lantaran tidak dipatenkan, maka hadirlah "kembar-kembar" di belantara niaga kita.

Sumarwi memiliki karakternya keras, meski hatinya lurus, namun kalau bicara bernada "barking" - ala menyalak (maaf). Pembawaan mirip tokoh rekaan SH Mintarja yang bernama Gajahsora sebagai kepala Perdikan dari Banyubiru. Kebiasaan ini terbawa alur kerja ketika berhadapan dengan pekerja bangunan dimana perintah dilontarkan singkat dengan satu dua kata dan bernada keras. Kalau kecewa tak jarang lepas kata senggakan "Goblok Luh.." - biasanya si anak buah cengar-cengir.

Tatkala masih muda, Sumarwi bekerja pada sebuah perusahaan penerbitan OBOR, namun tamatan STM ini menyadari bahwa penghasilan dari gaji sebagai lulusan SMU untuk tinggal di Jakarta dengan 3 anak jelas tidak cukup. Lalu dia banting "stuur" meninggalkan pekerjaannya dan berkecimpung di bidang material yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Halangan tentu saja berjibun. Sudah jadi "aambtenaar" - ke kantor berpakaian necis berdasi, "numpak montor uduk" - alias moge yang bunyinya "duk uduk uduk" tiba-tiba ingin pindah jurusan "bakul" - apa nggak salah nih?.

Mengapa tidak menunggu setelah "renta" atau pensiun baru lari ke bisnis ?. Dia menjawab dengan nada tinggi "emangnya dagang itu urusan panti jompo? tunggu tua untuk memasukinya" - Sumarwi memang rada nekad. Baginya membangun rumah, bahkan menikahpun tidak perlu sampai keadaan sempurna, menurutnya sempurna itu tidak ada. Mau nikah, mau bisnis, mau bikin rumah, kerjakan sekarang juga.

Setiap kali ada proyek pembangunan entah rumah atau pertokoan, ia datang mendekat dan menawarkan supplai bahan bangunan dengan harga "asal jangan rugi". Dari sekedar "perantara" - Gajahsora mulai memiliki beberapa truk angkutan sendiri. Ternyata masih belum cukup untuk mmenuhi kebutuhan sehingga melalui teman dekatnya yang aktip di kesatuan, ia menyewa armada tentara (betulan) "dump truck" yang cari obyekan. Daripada truk nongkrong di pool.

Kok ndilalah, rumahnya di jalan Kebon Sirih - Jakarta Pusat digusur untuk dijadikan Departemen Agama (sekarang ini), sehingga mereka pindah ke Grogol, yang saat itu masih tergolong "remote area", cuma diisi orang gila dan nyamuk malaria. Namun sisi terangnya adalah tersedianya tanah yang lebih luas untuk menimbun pasir, bata, semen dan pernik bahan bangunan, sehingga berdirilah kios GajahSuro. Dengan TKP jalan Muwardi Raya no 23, Grogol.

Rupa-rupanya, kisah suksesnya membuat sang sohib seorang Kapten tentara sahabatnya, yang semula menjadi perantara "dump truck" kepincut berbisnis dan segera menanggalkan seragamnya, pensiun, lalu berkecimpung menjadi pengusaha jual beli tanah, sewa tenda hajatan dan sukses.

Belakangan sang kakak, yang Sarjana dan Tentara, tidak ketinggalan melepas pangkat ketentaraannya, pensiun, terjun bebas dan sukses dalam usaha supply batik sembari mengajar di perguruan tinggi.

Pemilik Gajahsora memang bukan pembicara ulung, satu-satunya akal dagang yang ia terapkan adalah memenuhi kebutuhan ketika pasar membutuhkannya. Dalam hal ini ia memilih menjadi penyalur bahan bangunan ketika Jakarta sedang demam membangun. Dan ia tidak menunggu "pensiun" dulu baru berbisnis, melainkan menjemput pensiun secara awal, dan tancap gas.

Bekasi 7 Januari 2006

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com