Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 19, 2006

Koran Australia, dan Nelayan Indonesia

Date: Mon Oct 3, 2005 11:43 pm

Koran Australia rata-rata dua kali tebalnya koran Kompas kita. Apalagi edisi minggu yang penuh dengan bonus sisipan, mendekati setengah kilogram lebih beratnya. Dengan membaca sambil berdiri dan memegang koran tersebut sekitar 200 kalori sudah dihabiskan. Berita olahraga saya lewatkan soalnya kalau bukan pacuan kuda, hoki, atau football. Nggak ngaruh lah cerita tim football "Cowboy" memenangkan pertandingan “Football” alias bola sepak campur bola tangan dalam kompetisi tahunan.

Kalau sepak bola ala bonekan, disini namanya Soccer. Anak kecil juga tahu. Lantas kalau mau cari berita tentang Indonesia, biar cepat lihat gambar ayam. Salah satunya memperlihatkan bagaimana segepok ayam diikat kakinya, lalu dijungkirbalikkan dibelakang sepeda motor sampai wajah ayam yang aselinya kemerahan berubah putih pucat, sebagian malahan mati dijalan. Tak heran setelah ikatannya dilepaspun ayam tersebut sudah tidak sanggup berjalan jauh. Flu burung sepertinya diasosiasikan dengan Indonesia. Sial bener. Gambar kedua biasanya pembakaran ban yang dilakukan oleh para perally yang disini diterjemahkan demo. Mungkin ada baiknya juga kalau spandoek demo ditulis dalam bahasa Inggris, sebab meringankan beban saya untuk tidak berlaku sebagai penerjemah, lalu memberi klarifikasi ala Natalegawa. Ketika tulisan ini diketik, Bom Bali II belum meletus.

Salah satu judul koran setempat adalah seperti dibawah ini…

“Empat kapal pencuri ikan dari Indonesia menyerah setelah ditembaki oleh patroli Australia.”

Coba bayangkan tengsin saya ketika segepok koran setempat memblowout pencurian tersebut, lalu para politikus oposisi ikut menyambut bara panas dengan mengatakan, yang tertangkap hanya empat perahu lantas sisanya pasti sudah lolos. Politisi oposisi dimana-mana sama dimana ada bencana disitu ada jalan cari dukungan sambil ngehook lawan politiknya. Persoalan pencurian ikan “karang” sebanyak 15 ton plus beberapa ratus sirip ikan hiu yang di Australia dilarang diperdagangkan mungkin tidak menarik perhatian banyak publik. Namanya orang cari makan.

Tetapi ketika dilaporkan bahwa para nelayan tersebut bahkan sudah sempat berkemah dipantai, menggali sumur air, maka drama mulai digelar. Pasalnya disana dilaporkan selain berkemah dan membuang sisa makanan disembarang tempat (mungkin termasuk tas kresek, dan potongan plastik tempat sambal) mereka juga membawa binatang peliharaan seperti unggas. monyet dan anjing yang katanya sempat diumbar dipantai-pantai yang sepi penduduk.

Lalu muncul issue bahwa kemungkinan besar binatang tersebut membawa penyakit yang kemungkinan besar menyebar di Australia, barulah persoalan dipandang serius. Ledakan bom alamak keciiiil bila dibandingkan kematian akibat Avian lho bouw, kata para alarmis Australia. Apalagi gen Flu burung sekarang sudah bermutasi. Lalu agar keadaan menjadi tambah runyam, ditambahi keterangan, kalau iya pelanggar batas murni mencuri ikan, bagaimana kalau ngedrop teroris khataman Malaysia lewat perairan Australia. Apalagi Australia sangat yakin seyakinnya bahwa sasaran para terorist adalah negara mereka.

Lalu saatnya untuk meminta tambahan tenaga pengawasan terpadu di pantai, terjadi debat diparlemen. Maklum perairan Australia Barat, misalnya hanya mempunyai 7 orang penjaga pantai, terang saja dengan mudah kecolongan disana-sini.

Belum lama ini seorang analisis pertahanan Australia rada mencak-mencak mengomentari penandatanganan pembelian pesawat tempur Rusia, Sukhoi. Mereka bilang kalau terjadi dog fight (adu moncong), antar Australia dan Indonesia, sudah dipastikan mereka akan keteter abis sebab postur Sukhoi memang kampiun untuk urusan pertempuran diudara lawan pesawat tempur Australia yang sudah ketinggalan jaman. Berita inilah yang walau saya baca dalam hati namun menimbulkan ngakak (dihati), “eh kekuatan militer kita masih disegani orang." Nggak heran para milter asing dibantu informasi dari para pro-demokrasi tak henti-hentinya mencoba mempreteli kekuatan militer kita.
15135

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com