Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 19, 2006

14952 Syncope bukan Stroke Bukan Serangan Jantung

Date: Mon Jul 18, 2005 4:56 pm

*** Keseleo ***

Bermula dari keluhan salah seorang famili, 75, tangannya kecethit (keseleo), lalu memanggil dukun-urut langganannya. Sambil duduk dikursi, menjalani treatmen alternatif maka pak urut angkat bicara "ngalor kidul wetan mbali kulon" alias kesana kemari mulai dari keadaan politik, agama sampai daftar orang terkenal yang sudah disembuhkannya selama berpraktek.

*** Pingsan ***

Saat pak urut nyerocos dengan daftar panjang referensi pelanggannya, tanpa disadari pasien sudah jatuh tertelungkup dan "brak" menatap ubin "E" yang diiklankan memang anti gores. Beberapa gigi depannya tanggal sehingga perlu diganti dengan gigi alternatif.

Pak dokter menyebut kasus "serangan jantung atau best possibility - stroke" ringan yang sampai ditelinga awam seperti kami lantas dibuat asumsi bahwa 3 kali serangan yang sama biasanya fatal. Salah-salah tereliminasi.

Gejalanya, diawali rasa pusing-pusing, pasien pucat dan berkeringat dingin, lalu hilang kesadaran, "ngorok" dan muntah. Keluhan ini serupa kalau seseorang berjemur terlalu lama di bawah terik matahari, jaman masih sering Aubade dulu.

*** Stroke atau Jantung ***

Karena TKP adalah di jalan kawasan Grogol yang Jakarta Barat punya, maka lokasi terdekat soal jeroan begini adalah RS terdekat yang dibangun jaman ibu Tien. Anehnya, begitu sampai di RS, hasil Pasien di EKG, di-ECG, dan di-CT Scan tidak menemukan yang aneh-aneh.

Dan kalau sudah kejadian begini, keluarga mulai melakukan seminar kesehatan level "katanya" - mulai dikamar makan, kamar tidur, ruang kerja, ruang tv, ruang tamu dst.

Saya sering ngeledek para pembicara seminar sebagai Profesor-Dokter-Doctor dari Fakultas Kedokteran Universitas Perjuangan Hidup jurusan "Jarene" - alias kata sohibul hikayat. Pasalnya mereka sering over-capacity. Walaupun saya juga sering terimbas "ikut arus"

Apalagi kalau peserta seminar mulai menambahkan daftar panjang pantang makan diluar resep "dokter" seperti pantang minyak, pantang garam, pantang gula, pantang kopi, jangan berolahraga, pantang kacang-kacangan, pantang ini dan itu. Sementara sang pembuat pantangan ngelepus merokok, makan ati ampela, opor telur, belut goreng, soto kambing, soto babat dan areh "santan" dada menthok.

Yang tidak kami sadari adalah walau maksudnya demi kebaikan sang pasien, namun efek samping dari analisa "jarene" sering membuat pasien nelangsa. Merasa invalid.

Serasa sebagian dari nikmat Ilahi hidup mulai dicabut satu persatu.

*** Serangan beruntun ***

Setelah hampir setahun cease-fire dengan serangan yang menakutkan tadi. Lalu pertengahan Juli, serangan ke empat bergulir lagi. Kali ini di TKP Jakarta Barat. Seperti bisa ditengarai, waktu kejadian sepertinya bisa diramal sekitar jam 8:30-9:00

Pasien dibawa ke RS yang "kebetulan", harusnya saya mengucap "sial bener" kamar rawat penuh terpaksa ditampung di Unit Gawat Darurat "UGD". Bersamaan dengan itu seorang pasien (50) masuk dalam keadaan tak sadar karena stroke. Dokter langganan sedang keluar kota sehingga ditangani oleh dokter jaga 2 orang.

Ketika ditensi, dan dilakukan observasi lewat monitor alat merek Agilent, denyut pasien nampak normal (turun sedikit), tidak ada kejadian abnormal.

Sambil tiduran, oleh dokter jaga, kaki dan tangan disuruh angkat setinggi mungkin, lalu saat anggota badan terangkat, tangan dokter yang sak-bithi-bithi (gemuk dan besar) menekan dengan arah berlawanan.

Dalam pertarungan ini ala panco ini pak dokter jaga saya taksir tingginya sekitar 170 cm dengan bobot saya perkirakan 100-an, dengan usia paling banter sekitar 30-an. Lalu versus sang pasien 162 cm dengan bobot 65 kilogram dengan usia 76.

*** Panco guna diagnosa Stroke" ***

Hasil pertarungan terang saja tak berimbang. Turunlah diagnosa "kaki kirinya lemah waktu ditekan- ada dugaan stroke level ringan"

Lalu sesuai dengan SOP, pasien menjalani CT-Scan dan hasilnya tidak ada tanda-tanda stroke seperti perdarahan diotak. Tapi tim medik tetap keukeuh dengan motto "sekali diduga stroke, harus stroke."

Terang saja pasien jadi murka, dasarnya memang pemberang dari sononya. Berkali-kali ia mencoba bangun dari ranjang sehingga mentriger mesin Agilent dan Siemens S6, untuk menaikkan amplitudonya. Dokter jaga agak kewalahan sampai-sampai meminta bantuan menenangkan pasien agar mau dirawat di RS.

Tapi pembangkangannya justru membuat pihak keluarga yang tadinya setelan "apa kata dokter dah", langsung tarik cuk, pindah ke departemen "percaya nggak percaya".

**** SEMPAT NGAMBEK ****

Semula pasien bersikap cooperatif. Namun lambat laun sikapnya berubah. Kalau tadinya pertanyaan dokter mengenai alamat rumah dijawab pasien dengan lengkap termasuk RT/RW dan Kecamatannya plus KodePos, rupa-rupanya setelah sekian kali ditanya hal yang sama dia cuma jawab sepaah kata GROGOL. Bahkan ketika ditanya nama-nama anaknya ia berubah ketus, "Biar tidak melahirkan anak, saya tahu nama-anak saya bahkan tahun kelahirannya..."

Padahal maksud dokter siyyyHHH mencari ketidak konsistenan jawaban sehingga bisa ditarik justifikasi "nah stroke bener kan eloo"

Sementara seorang pasien disebelahnya, yang terkena entah jantung entah stroke beneran hanya bertahan 2 jam, lalu mesin chart merek Siemens jenis S6 mendisplay graphic sinusoide yang datar. "tiiit panjang" lalu senyap. Tanpa ditunggui oleh keluarganya kembali ke alam baka. Saya tidak sempat tanya apakah beliau sempat menjalankan "batuk bikinan" seperti yang beredar di milis. Pasalnya orang kena serangan jantung biasanya sudah tidak bisa ingat urutan 1, 2, 3, 4, lagi. Apalagi disuruh pura-pura batuk. Kata iklan "mana sempet"

**** PULANG PAKSA ****

Lalu mulailah timbul ide mencari "second opinion" - sakit jantungkah pasien yang sejak muda sangat rutin berjalan kaki, atau stroke. Mengingat dalam usia 76, ndex kolesterol atau asam urat menjauh dari pria kelahiran lereng bukit Jabalkat ini. Prinsipnya "one walk hour a day, doctor away"

Alasan lain, maklum jaman kalabendu begini kalau Universitas seperti kata pengarang Eko dari Yogya, "Orang Miskin Jangan Sekolah" - maka Rumah sakit punya slogan serupa "Orang Miskin Jangan Sakit" atau yang mengkuatirkan adalah MalPraktek.

Maka dengan sedikit lobby dan paksa, keluarga berhasil mengeluarkan pasien setelah menandatangani surat perjanjian ini dan itu. Sampai dirumah, wajah pak tua seperti seekor kucing hitam jantan dewasa
menelan anak ayam baru menetas.

*** KONSULTASI NEUROLOG ***

Pakar neurologi yang didatangi keesokan harinya malahan tidak melihat ancaman "stroke", mereka melihat sebagai Syncope, suatu gejala dimana seseorang mengalami ketidak sadaran sementara sampai total (pingsan).

Syncope terjadi saat gangguan irama jantung memompa darah ke otak. Biasanya ditemui pada anak-anak sekalipun usia lanjut ditemui dalam kasus 3% saja. Kalau serangan ini ditangani dengan baik penderita dalam hitungan menit atau jam akan kembali pulih seperti sedia kala.

Syncope bisa terjadi akibat sampingan konsumsi obat yang diminum penderita. Atau akibat stress, kelelahan, dehidrasi atau kesakitan. Sampai saat ini belum diketahui obatnya.

Saran dokter, bilamana terjadi gejala syncopy seperti keluhan pusing, keluar keringat dingin. Segera berbaring dengan posisi kaki ditinggikan dari tubuh. Kalau terjadi dalam kendaraan, tekuk kaki seperti bayi, yang penting posisi kaki lebih tinggi daripada tubuh.

**** PENCEGAHAN ****

Makanan yang bergaram, dan banyak minum air putih.

(Dan jangan berhenti berolah raga, mungkin saja kita terkena stroke dan serangan jantung, namun olahragawan biasanya lebih bandel dalam hal pemulihan"

Mudah-mudahan syncope-lah penyebab sakit pak tua ini. Kalau sempat divonnis Jantung atau Stroke, selain jerohan dikoyak-koyak, tak urung dompet, deposito juga ikutan ambur adul padahal obatnya hanya sederhana, tiduran.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com