Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

Mencari Kecap di Australia

Wed Jun 22, 2005 12:28 am Subject: Kecap

Hobbi tambahan saya yang norak bertambah lagi. Selama di Rig, doyan melongok tong sampah yang teronggok di kantin.

Apa pasal..?

Cuma mencari produk Indonesia diantara botol-botol minuman, bumbu, bekas saus kalau dilihat kenapa ya belum ada product Indo yang masuk kesana. Saus sambal yang terhidang dimeja - mulai dari Heinz, atau Mae Ploy buatan Thailand, HP Sauce yang nggak ada printernya, atau Tabasco pepper sauce. Sambal cap Jempol apalagi sambal aseli Lampung yang kecut pedas, rasanya nyaris tak terdengar.

Sampai pada suatu hari saya menemukan bekas botol kecap manis, dengan latar belakang berwarna merah riang, Kecap Manis ABC. Rasanya saya jadi makin norak, menyapa botol sambil tersenyum "Hallo kamu dari Indo ya.." - dalam hati, apalagi ia nampak paling jangkung diantara deretan botol lainnya, sayang favorit saya cap Bangau yang kwaliteitnya sudah lama terkenal sampai ada ibu rela pulang kehujanan. Tapi lagi-lagi kalau lihat etiket cap bangau kesepian terkesan sakitan dengan latar belakang warna pucat memang kurang gagah designnya bila dibandingkan logo ABC, misalnya

Koki masak di rig dengan seragam putih ala hotel dan bawahan celana bermotif kotak catur hitam putih, kalau bikin nasi goreng, namanya selalu Nasi Goreng Hokian, atau Nasi Goreng Vietnam atau Singapore. Bikin bakmi juga dengan nama esdea alias samak dengan yang diatas.

Kapan mie jawa nyemek-nyemek ala Gunung Kidul bisa dihidangkan disini? Kapan Nasi goreng ala angkringan yang menjamur di dalam negeri terutama pada malam hari seperti di Jakarta, bisa nampang disini.

Yang saya sering unjal ambegan, koki laki-laki ini kerja sendiri dalam shift 12 jam melayani 100 pekerja. Mulai dari menyiapkan sarapan jam 05:00, penganan kecil dan buah pada jam 09:00, lalu makan siang jam 12:00 - semua dilakukan sendiri dengan sambil rengeng-rengeng dengarin Led Zeppelin, Flatwood Mac. Sesekali datang pelayan kamar membantu korah-korah alias asah-asah piring.

Bandingkan dengan ibu-ibu mempersiapkan masakan di Jakarta, untuk arisan untuk 10 orang yang belum tentu datang semua, akan melibatkan 2 pembantu perempuan, 2 pembantu lelaki untuk disuruh belanja, belum lagi tetangga RT. Sepertinya "herboh" luar biasa. Pesawat tilpun rumah sudah seperti acara quiz interaktip, selalu berdering dan menderingi karena sibuk dengan perintah beli ini, beli itu, kurang ini kurang atu. "Jeng nanti bla--bla blaa, atau mbakyu mengko bla bla bla.."

Peraturan Australia sangat ketat untuk soal sampah. Sampah harus ditumpuk menurut klasifikasi masing-masing. Ada yang dibuang ke laut, jika bahan organik seperti sisa makanan, namun ada yang harus di proses di darat. Kalau sampai mengirim sampah dalam keadaan tawuran antara kaleng, organik, bahan kimia. Maka sesampainya didarat, proses pemisahan akan ditimpakan kepada pihak pengirim plus penalty.

Orang dikantor saya, gregetan kalau ada order satu kaleng anti karat WD40, atau cairan pembersih macam Ajax, Solvol, Yuk Off sebab barang cairan bertekanan ini harus diperlakukan secara khusus dengan biaya yang lumayan tinggi.

Mimbar
North Territory
Tetep dan selalu kecap dihatiku
Kecap Bangget

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com