Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

Belajar jadi Pilot di ruang tunggu

Date: Thu Mar 3, 2005 7:46 pm

Hari masih pagi tatkala saya tiba di bandara Biloela, Queensland. Sebuah bandara teramat sederhana. Membayangkan kalau crew change di pulau MATAK (Natuna). Maklum jenis pesawat yang berdatangan disinisetara dengan Twin Oter. Ada peringatan cabin maximum satu tas dengan berat tidak boleh lebih dari 4 kilogram, itupun harus sesuai dengan "maal" yang disediakan. Celaka, laptop saya kalau telanjang memang cuma 3,5 kilogram tetapi kalau sudah pakai bungkus membengkak jadi 7 kilogram. Bagaimana ini.

Di pojok ruang seorang remaja putri sedang asik membaca peta, mengeluarkan garisan mirip busur derajat, lalu mengukur jarak satu titik dengan titik lainnya.

Sementara itu di landasan, dari kejauhan sebuah pesawat jenis gelatik, sedang persiapan mendarat. Pilotnya perempuan, dua penumpangnya anak seumuran 6 tahun dan adiknya 5 tahun. Begitu mendarat, sang kakak yang kurus membuka pintu pesawat, bocah baois putih ini melompat "huup" dari sayap pesawat dan mendarat ditanah dengan entengnya. Adiknya sedikit chubby dan lebih berhati-hati menuruni sisi sayap dengan merayap dan nggelosor turun.

Muncul kemudian pilotnya, yang cewek tadi. Rambutnya dikepang, wajahnya memerah dengan bintik jerawat remaja. Di ruang keberangkatan sekaligus kedatangan, rupanya kedatangannya ditunggu gadis berbusur derajat. Mereka lalu mojok, mengeluarkan peta dan mulai menghitung. Astaga pilot tadi rupanya instruktur mengemudi pesawat, dan titik rendezvouze nya ya di ruang tunggu. Hari itu nampaknya diisi dengan cara membaca peta dan menentukan jarak penerbangan....

Bagaimana dengan bocah lelaki?, nampaknya cukup dengan masing-masing 1.40 dollar, kedua anak menjajagan uangnya untuk beli minuman bersoda. Sudah itu mereka asik main sendiri dan tidak diwarnai kampleng-kamplengan, seperti layaknya dua kakak beradik laki-laki
setelah setengah jam bermain. Hampir setengah jam kemudian, kedua wanita saling sun pipi, kaka berjerawat dan adiknya kembali ke pesawat.

Selesai sudah satu sesi kursus, dengan cara yang amat ciamik dan inovatip. Kata orang kalau memang mau belajar dimana juga bisa..

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com