Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 19, 2006

Jalan yang menghilang

Kalau saya berolah raga jalan kaki di Jakarta, kadang saya "mblandang" memasuki kawasan kota sambil belajar mengingat nama gang, nama bangunan tua dan menghubungkannya dengan peristiwa bersejarah. Kadang saya berhenti dihalaman bekas Gedung Arsip Nasional di jalan Gajahmada, sebuah bangunan yang masih terpelihara.

Dihalaman depan, para penghuni sekitar berolah raga, jalan kaki sekitar taman, membaca koran, main badminton dan ini dia tak lupa adat bangsa membuang bungkus nasi uduk, tumpahan sambel, bakmi dihalaman gedung yang asri. Itung itung melestarikan budaya "seenak udel buang sampah".

*** JALAN YANG HILANG ***
Salah satu peta Jakarta terbitan tahun 2003 menyantumkan nama jalan Ketentraman (JK). Rasa ingin tahu ingin merasai lewat JK tersebut ternyata tidak kesampaian. Pas melewati Jalan Ketentraman "JK", saya mulai tertegun sebab sosok gang kecil, yang dimuaranya biasanya bergerombol para pengojek, ternyata sudah raib berganti Hotel Mediterania. Plang JK sendiri masih utuh tertancam di salah satu pagar beton bangunan hotel. Tidak ada jaminan kalau plang jalan ini rusak dimakan usia, apakah pihak hotel atau pemda bersedia membuatkan penggantinya.

Melihat "fasad" bahasa yang dipopulerkan GATRA sebagai "fisik" bangunan yang dijaga Satpam, sulit bagi pemakai jalan akan keluar masuk bangunan hotel seperti sebelum hotel ini dibangun.

Tapi itulah modernisasi, penghuni sekitar JK yang umumnya berkulit terang, nampaknya enggan untuk menempati kawasan sepetak yang kumuh, gelap, sempit seperti nenek moyangnya tempo dulu.

Hal yang sama terjadi di Grogol. Dulu ada Jl. Rawabahagia (JRB) 1 sampai 10, namun sesuai dengan kemajuan jaman, anda sekarang hanya menemukan JRB 1 sampai 6, lalu melompat 9 dan 10 sementara 7 dan 8 sebagian (kecil) jadi Madrasah dan SD, sebagian besar jadi RUKO. Persoalannya adalah pilih mana, mempertahankan cagar budaya yang ribet karena keluar ongkos pelihara, atau serahkan ke developer, dijamin kocek penuh, lahan bermanfaat, bebas pusing. Nampaknya pilihan kedua inilah yang digandrungi. Dan selamat tinggal bangunan kuno Jakarta.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com