Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 06, 2006

Teh Cap Teh Botol

Date: Wed Apr 17, 2002 11:50 am

Sekitar tempat saya berhobby memelihara ikan gurami di Citayam-DEPOK, persisnya (nggak persis bener) komplek Departemen Pertanian ada penjual Sate Ayam yang mangkal disana. Disebelah selatannya berjajar seperti pulau, para penjual penganan yang lain seperti Ayam Goreng, Kue Pukis, Gorengan Singkong dan Bubur Kacang Ijo. Sepulang dari kolam, biasanya hari sudah malam dan waktunya makan malam, sehingga saya menyempatkan diri mampir "mengudap" disana.

Begitu kita melemparkan tubuh ke bangku disana, lalu mendengarkan mereka berbicara dengan dialek mereka, sejenak kita dibawa ke salah satu pulau di Timur Pulau Jawa yaitu Madura. Para penjual disitu hampir seluruhnya dari Etnik Madura, tetapi jangan harap bisa mendengarkan dialog seperti pelawak Kadir. Mereka bercaka-cakap secara cepat dan sulit dimengerti oleh orang yang tak mahir bahasa Madura.

Penjual Sate tersebut, kami memanggilnya cak Pai, sangat ramah dalam melayani pelanggannya sehingga kami harus rela berjajar-jajar antri. Maklum selain harganya miring, dan potongan dagingnya cukup besar.

Sambil menunggu sate dibakar, saya memesan minuman Teh Botol kepada salah satu asistenyan Cak Pai. Menilik wajahnya, nampaknya ia baru bergabung dengan kedai Cak Pai.

"Teh Botol yang dingin!," pinta saya.

Sang asisten menghilang sebentar, lalu tidak lama kemudian muncul dengan sebotol minuman dingin, COCA COLA!.

"Lho saya pesen teh botol kok," tanya saya keheranan.

Sekarang saya melihat wajah sang asisten yang masih seusia anak SMP ini gantian bingung. Tapi sudahlah, lantaran sudah lama menahan dahaga akibat seharian berjemur dibawah terik matahari dikolam ikan, tanpa banyak tanya "Coca Cola" saya teguk, glek,glek,nyem. Ah segarnya.

Beberapa hari kemudian, kembali saya memesan Sate dan Teh Botol. Tapi kali ini untuk menghindari salah ambil minuman, saya jelaskan apa keinginan saya.

"Maaf, jadi Bapak pesen Teh Botol yang Capnya apa?," tanya asisten tadi.

Saya sedikit kehabisan kata-kata, pertama pertanyaan ini lucu bagi telinga saya, kedua saya sedang merekam mimik wajahnya, untuk saya buat cerita.

Untung Cak Pai pandai membaca situasi dan kondisi. Langsung ia bilang, "Bapak ini pesen Teh Botol Cap Teh Botol, yang warnanya Cokelat, yang dingin."

Bocah lugu itu langsung mengangguk tanda mengerti lalu menghilang ke warung sebelah yang menjual minuman. Kali ini ia muncul dengan wajah berseri dia datang dengan sebotol Teh Botol Sosro dingin ditangannya. Sejak itu kalau pesan minuman, saya akan bilang "Pesan Minuman Dingin, Cap Teh Botol, Warenanya Cokelat".

2 comments:

dian said...

cerita ringan di hari berat dan benar2 polos :)
ngomong2 anak sma 2 lampung (bandar lampung?) angkatan berapa mas?

Mimbar Bambang SAPUTRO said...

Saya cabut dari SMA 2 Tanjung Karang pada 1970, Paspasl
Makasih atas komentarnya

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com