Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Pempek Lampung

Date: Fri Oct 29, 2004 9:35 am

Jarang yang tahu bahwa Bandar Lampung juga tidak kalah "lidzat zidan" dalam urusan makanan asal tepung tapioka yang di ramu dengan blenderan ikan air tawar ini. Tak urung Pempek pak Raden membuka cabang di jalan Kupang Teba (tanjakan yang memisahkan kota Tanjungkarang dengan TelukBetung). Tidak tanggung-tanggung mereka mendiami bangunan 3 tingkat sehingga saya berolok lantai atas untuk pasien RSKP alias Rumah Sakit Ketergantungan Pempek. Tapi lupakanlah pempek pak Raden, atau Dempo asal Palembang, bukan apa-apa, ada alternatif bagi pemudik Sumatra - Jawa p.p untuk menyobai masakan dengan rasa Lampung. Pasalnya, para pedagang pempek Lampung juga masih "pernah-pernah" alias keturunan dari Palembang.

Entah latahan dari Bakpia Yogya, atau karena sering membuat password baru internet yang terdiri dari hurup dan angka, maka pemilik empek-empek di Teluk Betung yang terkenal pada hobbi kasih nama tokonya seperti Pempek-75, Pempek-88 dan Pempek Mawar-88. Lokasi jajanan pempek adalah Jalan Salim Batubara - Teluk Betung. Dua kilometer dari garis pantai ketinggian 30 mdpl plus nanjak dikit.

Pempek 75, saya kerap berbelanja disini, namun baru dari KONTAN mengetahui bahwa pemiliknya bernama Ny. Aten 68 tahun, beda tipis dengan pempek Tempo Doeloe yang pakai ikan Air Tawar semacam Belida atau Gabus, maka Ny, Pempek 75 memilih Tenggiri, alasannya TelukBetung Kota Pantai, jauh dari juragan Ikan Air Tawar, jadi mending melakukan terobosan dengan ikan Tengiri. Ada tekwan, lenjeran, telur, pastel, kapal selam. Sehari mereka memblender sampai 5 kilo tengiri.

Berhubung puasa maka rasa cuka yang dibuat dari cuka putih, gula jawa, cabe,kecap dan bawang putih untuk mencocol pempek hangat tidak saya ceritakan. Tapi yang jelas Yummy Yummy. Pempek 75 bisa disebut pempek legendaris, sebab masa kecil saya belum melihat warung ini secara pempekficant.

Pempek 88, tergolong yang "mahal punya" - bukan apa-apa, menurut Zaenuri dia bertahan dengan resep kuno Ikan Belida. Mana ada belida di Teluk Betung kecuali toko ikan hias. Mangkanya mereka mendatangkan bahan baku dari Riau, Kalimantan atau Jambi. Jadi sampai ditangan mereka belida sudah nangkring dengan harga Rp.60.000 per kilo. Pempek 88, yang paling saya favorit adalah pempek bulat seperti bakso. Ada lagi Tahu-Pempek, kenyal dan glek nyemnyem.

Pempek Mawar 88, sedikit berbau mengekor kesuksesan pempek 88, pasalnya mereka dulu pernah berdagang, tapi "ancur", baru dua tahun mencoba bangkit. Sehingga Rika pemiliknya perlu numpang nama yang mirip-mirip beken. Dengan ikan tengiri, mereka sudah berani memblender 15 kilogram Tengiri perharinya. "Pempek kami sudah beken lama, sayang kalau hilang tidak dikenal kalau kami putus jualan GEH"

Orang Teluk berbahasa gaya Jakarta, yang membedakannya mereka suka sekali mengakhiri obrolan dengan GEH sebagai pengganti DONG, mungkin biar tampil beda. Iya Geh!, Boleh Geh!


PEMPEK AYUK..
Ada lagi pempek Ayuk, penjual "ngampung" alias keliling kampung dengan tas anyaman rotan besar yang usang tapi mengkilat lantaran seringnya terkena lelehan minyak. Namanya ATEN, kelompok Hitachi, dia bukan keturunan Jepang sebab konon singkatan HITACHI adalah Hitam Tapi China (maaf teman-teman pembaca dari keturunan, just joke). Saya juga mendapatkan gurauan ini dari Afa, Akiong teman-teman se Grogol. Sekali lagi maaf. Setiap kali melihat kami ada di rumah Teluk Betung, sekalipun kami keluar rumah, dia akan menunggui sampai ketemu. Adik saya pernah halus mengusirnya "Ayuk saya pergi", maksudnya mpok atau mbakyu, maksudnya lagi pasangan monogami saya, sedang keluar rumah. Tapi dia "keukeuh" bertahan sampai ketemu Ayuk (Erni) dan saya. Sebab biasanya dagangannya diborong. Sejak itu kami menamakannya pempek "AYUK" - padahal yang jualan namanya Aten.

Gara-gara si Aten, saya seringkali urung beli Pempek Bakso ala Pempek 88.

Sruput..sruput..cocol.



Hasil Teluk Betung yang kesohor lainnya
1. Kopi cap Bola Dunia (Klenteng)
2. Manisan buah Ling Yen
3. Kalau mo nyoba Bakmi KOGA
4. Kripik Pisang Suseno

Iya Geh, promosi...

1 comment:

hendro umitra said...

saya butuh alamat lengkap daerah pekempek pak raden.

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com