Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

HUET - Helicopter Underwater Escape Training

Date: Sat Jan 29, 2005 10:51 am

Orang minyak biasanya dibekali ilmu bela diri seperti pertolongan pertama pada kecelakaan, penanggulangan bahaya kebakaran, cara melarikan diri dari kapal yang mengalami gangguan seperti blowout yang sudah tak tertanggulangi. Untuk penyegaran, kami tetap diberikan pelatihan setiap dua tahun sekali.

Di rumah, atau di hotel setiap kali saya memberikan arahan "manajemen bahaya" kepada anak-anak kalau terjadi kebakaran, kalau kapal tenggelam, maka tindakan utama adalah bla..bla..blaa. Biasanya ibu atau para orang tua sering memotong "ora ilok, kecelakaan kok diomongin" - lha kalau ada bahaya "gimana nanti"

Minggu lalu saya berkesempatan ikut serta dalam pelatihan di IFAP, Fremantle, sebagai bagian dari Manajemen Hazard Centre yang kondang di dunia. Jadwal kursus selalu padat, dan instrukturnya memang kalah tipis dari Baywatch.

Semula saya berfikir ah paling segitiga penyebab kebakaran, buka pen tabung pemadam, arahkan ke api dan selesai. Ternyata saya lupa bahwa panas api yang (bisa) membakar tubuhku, tidak sama jenis obat dan perlakuannya. Ternyata saya juga kagok ketika racunnya sudah pas, api makin membara. Bahkan dalam satu latihan mengatasi lidah api yang "mbulak-mbulak" dari sebuah kompor minyak, saya masih tersengal-sengal, takut panas, kurang PD.

HANYA 4-8 MENIT

Beberapa filem laboratorium memperlihatkan bahwa furniture sofa yang dibakar dalam waktu 4 menit sudah mampu merambat keseantero ruang, meledakkan kaca, botol, meja dan seterusnya. Asap yang nampak sedikit, tidak berarti api masih kecil. Untuk realitanya diputarkan sebuah filem tragedi kemanusiaan, menayangkan pertandingan sepak bola di Inggris ketika salah satu tribunnya terbakar. Hanya dalam 8 menit, api menghabiskan seluruh tribun. Polisi yang bertumbangan kehabisan oksigen setelah menyoba menyelamatkan penonton terperangkap. Bahkan ada yang mengalami halusinasi.

Tragisnya para hooligan masih bersorak-sorak kegirangan bahkan meneriakkan yel-yel. Maklum mabok!. Yang tidak disadari, 56 tewas sudah beberapa hari kemudian. Kesalahan lain, pintu stadion terkunci rapat untuk mencegah penonton gratisan berusaha masuk. Katakan anda berada disebuah hotel atau kantor bertingkat. Pernahkan anda mengingat letak tangga darurat? Pernah dan gampang? okey. Namun keadaan akan berbeda, jika tiba-tiba listrik padam, asap mengepul menyesaki rongga pernapasan, suara sirine meraung-raung, dan supaya lebih merasakan lagi mata ditutup, hidung ditutupi bantal untuk menjegah asap masuk hidung, sambil berjalan jongkok (menghindari asap yang umumnya melayang diketinggian setinggi badan), meraba dalam gelap mencari jalan keluar. Itulah "tambahan" pelajaran yang saya dapatkan dari institusi ini.

HARUS MENGINTIP.

Saat menemukan "pintu" peserta tidak boleh gegabah main buka saja, pasalnya saat terbakar terjadi gelobang panas dan tekanan yang api dari luar bisa. Untuk itu pintu yang ditemukan secara raba-raba harus dibuka secara sedikit dan dengan menggunakan punggung tangan. Bilamana benjolan engsel pintu terasa, maka pertanda pintu dibuka dengan cara menariknya perlahan. Namun bilamana engsel berada diluar, maka pintu harus didorong keluar. Peserta diiberi stress dengan hitungan mundur 5 menit harus sudah bisa keluar ruangan. Kok ya 10 menit masih mbulet disitu-situ saja.

ADA MAYAT

Selain "gelap gulita menyesakkan" sering dibuat penghalang, drum misalnya tidak boleh ditabrak atau digulingkan karena menghalangi jalan (simulasi kalau itu bahan kimia). Yang repot kalau ternyata instruktur memasang boneka manusia sebagai korban, harus dicek pulsa, masih harus ditelungkupkan. Saya gagal ketika menuruni tangga yang berputar-putar, pasalnya saat menemukan tangga kita harus berjalan mundur dengan menginjak tangga sambil pura-pura menguji injakan tangga. Rupanya saya mengalami disorientasi (kehilangan arah). Lalu ketika ada teriakan "body" - saya teriak balik "dead body" - maksudnya nggak usah repot mau diapakan, yang penting selamat dulu. Moral cerita, ternyata kalau ada krisis nyawa lalu ada orang yang masih mau berkorban menolong orang lain. Dia sejatinya pahlawan. Dan kalau sudah lama tidak berlatih, mudah bingung.

Pesan lain, kalau punya uang berlebih. Investasi "smoke detector" dalam jangka waktu panjang akan menyelamatkan harta dan jiwa.

Fremantle 24/1/05

1 comment:

sari said...

Om, kalau training Boset atau Huet, kudu bisa renang ndak?

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com