Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 09, 2006

Bangsa Kasihan

Pernah dengar salah satu syair lagu Koes Plus: "tanah kita tanah surga, tongkat kayu jadi tanaman.." Saya nggak jelas apa anda sudah lahir pada saat lagu ini populer. Sebagai catatan, Koes Plus sempat masuk boei lantaran ia ada menyanyikan lagu yang dikuatirkan merusak moral bangsa ini. Lagu apa yang dinyanyikannya, lagu the Beatles semacam "I saw her standing there".

Sekarang kita bisa tertawa, tetapi dulu barang siapa menyanyikannya lagu tersebut bakalan didemo oleh kelompok PKI sebagai anti revolusioner. Tak kurang pemuka agama, pemuka masyarakat melampiaskan kepandaiannya di publik menentang Koes Plus.

Saya masih ingat asal sepatu ujungnya lancip, lehernya diatas mata kaki, langsung disita oleh polisi. Dan adik-adik ipar saya yang rata-rata lulusan Akabri Kepolisian masa kini tidak percaya bahwa sepatu pembagian yang mereka pakai adalah sepatu yang dikala 1960-an adalah di"haramkan"

Kalau rambut disisir membentuk poni, atau menggunakan celana yang ketat, maka nilai kesusilaan anda dipertanyakan. Ukuran celana ketat adalah bisa tidaknya sebuah botol kecap melewatinya. Kelihatan konyol tetapi sejarah pernah mencatatnya.

Dulu saya menyanyikannya (dengan fals) tetapi penuh semangat. Tetapi setelah umur makin uzur, terbetik pikiran apa maksud syair tadi Tanah air kita ini karena Kasih Tuhan, atau karena Tuhan Kasih(AN). Maksudnya sudah dikasih tanah subur saja masih berantakan, apalagi dikasih tanah tandus. Kira-kira begitu maksudku.

Contoh lain lagu "Nenek moyangku orang pelaut dst..."
Anda nyanyikan lagu ini hari, besok anda baca di koran, ada kapal membawa sarat penumpang, tenggelam dan sekian penumpang tewas tenggelam. Lantas jiwa baharinya tadi mannna....?

Pernah dengan lagu Bimbo lama sekali, tentang tanah Pasundan. Sam Bimbo bilang, "waktu Tuhan tersenyum jadilah Pasundan." nah ini senyumnya nggak jelas, senyum kecut atau bagaimana. Sudah dikasih tanah subur, iklim sejuk sampai jadi Paris Van Java, dirusak dengan tata kota yang nekad.

2 comments:

hujanbiru said...

saya suka membaca tulisan anda. Membuat saya tergelitik ingin belajar menulis dengan gaya semacam Anda. Dapatkah saya diajari cara menulis yang menggelitik semacam itu? terima kasih

acep

Mimbar Bambang SAPUTRO said...

Tiada lain hanya terus menulis mas. Mungkin awalnya agak kagok, tetapi terus saja. Kalau ingin mencoba meniru gaya orang lain silahkan. Sebab perlahan akan bergeser ke gaya kita sendiri. Salam. Mimbar

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com