Posts

Showing posts with the label visa

Masukkan PIN Kartu Kredit anda

Bandara Changi Singapore contoh menarik melakukan transaksi, beli sepotong sikat gigi, sebatang coklat, cukup gesek kartu kredit anda, lalu tanda tangan. Transaksi beres. Di Glodok atau pertokoan Jakarta, misalnya anda akan membeli HP, pertama pemilik toko melihat anda dengan menyiagakan seluruh aparat intel dalam tubuhnya. Mencorong melalui pandangan menyelidik. Lalu keluar kata sakti " kena tiga persen charge ," - itupun belum cukup, anda masih ditilpun oleh penyedia kartu kredit anda untuk meyakinkan bahwa anda tidak akan menipu mereka dengan berbelanja satu juta rupiah. Tapi yang dialami Andrew lebih unik. Sebagai warga Australia dia sering ditugaskan ke negara lain termasuk Inggris sampai berminggu lamanya. Selama ini ia tenang-tenang saja bepergian. Urusan pembayaran hotel, makan semua dipercayakan pada uang plastik ajaib bernama kartu kredit. Maka bagai disengat lebah ketika kartu emasnya ditolak di beberapa pertokoan Inggris termasuk pom bensin dan restoran waralaba t...

Artikel #929 Jangan Bilang Aku Jadi Pekerja Rig, Temanku Mengira Aku Direktur (2)

Pensiun tanpa sepengetahuan keluarga. Kata orang bijak bekerja itu seperti masuk warung Nasi Kapau. Di meja sendiri terhampar rendang sapi berwarna coklat kehitaman entoh tergoda daging cincang dipiring teman. Selalu ada tawaran lebih menarik untuk pindah juragan. Supaya jangan bingung, panteng saja rendang-ditangan. Akibat peribahasa tersebut setiap ada tawaran kerja yang lebih menarik (tentu dengan resiko dan tanggung jawab lebih besar), saya cenderung bergeming. Apalagi kalau meminta pendapat keluarga. Bisa dipastikan mereka bakalan keukeuh tetap setia dengan perusahaan lama dengan harapan siapa tahun tahun mendatang terjadi perubahan lebih baik. Tentu mereka tidak paham saat boss dengan muka ditekuk macam kerah baju kurang kanji memanggil saya ke ruangnya. Setelah menutup pintu lalu meminta sekretaris agar tidak mengganggu atau menghubunginya. Sudah seperti "rumus" - boss umumnya memanggil karyawan untuk urusan yang "tidak enak" bisa berupa kesalahan pegawai, ke...

Mengurus Visa ke Australia

Date: Thu Aug 19, 2004 2:28 pm Kantor Australia sudah setuju untuk mempekerjakan saya dengan skedul rotasi 28 hari kerja di Australia dan 28 hari cuti di rumah. Kontrak sudah dikirimkan dan perintahnya segera ke Perth untuk menjalani pelatihan penyegaran. Tentu yang diutamakan adalah Visa. Namun mengurus Visa untuk bekerja di Australia jelas bukan perkara membalik tangan. " Urus sendiri Visa ke Australia, saya bisikin ya, reseh! . Bakal bolak-balik kedubes. Apalagi penampilan sampeyan semi Arab Tegal, biasanya tidak gampang.. " " Mahal dikit tapi profesional. Modal mereka cuma Kop Surat, lainnya diisi oleh mereka. Pokoknya Terapel(ep) Biro(k), zonder birok-krasi.. " " Kalau mau datang saja saat jam makan siang. Petugas yang sedingin kuburan Cina (marmer) saat di belakang loket surat menyurat, bakalan berubah ramah kalau diajak "cincay" soal pengurusan Visa ." Begitu komentar teman-teman ketika saya bermaksud mengurus Visa ke Australia. Mendengark...