Malam itu cuaca kota Perth masih membangkitkan gairah api ngilu di lutut saya seakan kapsul suplemen Glukosamin seperti sudah tidak mempu menahan dinginnya udara yang menurut siaran radio yang disetel dalam Taxi Swan mencapai 18 derajat selsius. Yang repot, tiupan angin kencang membuat muka seperti dikaploki pasukan Jepang satu peleton. Serius, bibir saya sempat berdarah karena panas dalam. Maka tak heran ketika teman sebangku di pesawat, seorang Akuntan asal Tirtodipuran Yogyakarta, Nona Andrianto, yang datang 1875 mil dari Perth untuk menghadiri pernikahan familinya di Jakarta, meminta segelas Anggur Merah. Apalagi ia memilih menu masakan ikan sehingga wajar kalau ditemani segelas Anggur untuk menghilangkan rasa amis pada masakan. Dengan sigap dan profesional sang pramugari menuangkan botol anggur, lalu berlalu melayani penumpang dibelakang kami. Selesai makan malam, kulirik mbak Andri mengunyah permen karet sambil siap-siap membaca buku saku. Lalu saya iseng bilang, “ anda yang mi...