883- Polisi Marak Main Tembak?
Suatu pagi di Sukabumi tahun 1957, saya berusia 4 tahun. Ibu nampak sudah berkemas tidak seperti biasanya. Rambut saya yang berjambul hitam lebat (belum botak), disisiri sampai membentuk jambul tinggi. Agar lebih kokoh bergeming diterpa angin, rambut saya diolesi pomid (pomade), parfum para pria dulu yang dikemas dalam kaleng lonjong, bertuliskan Pomade dengan aroma Lavender. Bergegas kami menuju Balai Pertemuan Prajurit di Sukabumi. Hari itu, ayah baru menyelesaikan masa pendidikan lanjutan kepolisiannya di SPN (Sekolah Polisi Negara). Rupanya saat yang dinantikan adalah pembacaan surat keputusan penugasan para siswa baru kepolisian. Para istri polisi pada berkumpul mengikuti jalannya pembacaan dengan wajah tegang. Kalau seorang suami medapat penugasan di Jawa, wajah yang diberi tugas nampak sumringah seperti kucing menelan anak ayam. Mereka bersalaman satu sama lain. Tiba giliran kami ditempatkan di Kertapati Palembang , tiba tiba pecah tangisan. Ibu tersedu-sedu. Apalagi...