Mengaku Dosa di Kereta Senja Utama
Masa sekolah dulu saya menggunakan kereta Senja Utama Jakarta-Yogya, dari stasiun Gambir yang masih belum semegah sekarang. Entah apa yang dimaksud Utama di sini, mungkin utama dalam berdesakan, atau utama dalam memberikan pelayanan extra terhadap penumpang. Janjinya berangkat jam 6 senja, diberi extra menjadi jam 21 malam. Sekalipun demikian untuk generasi yang masih mengalami naik sepur "kluthuk" dari Yogya, Magelang, Ambarawa, Semarang dengan bonus abu arang batu melekat di baju, kadang berlubang kecipratan lelatu hasil pembakaran mesin ketel uap yang terbang bersama angin. Maka pantas saja kereta bermesin diesel diberi julukan Utama. Duduk didepan saya seorang bapak sudah berusia di atas lima puluhan, lalu membawa seorang ibu muda berkulit terang, dan anak bayi berusia dalam bulanan sehingga masih menetek ibunya. Karena kereta jengglang-jenggleng mendadak berhenti menunggu "pruisan" dengan kereta lebih mewah lainnya (dulu BIMA), atau ada kereta lain yang langsir...