Kopi Eva Riwayatmu Kini
Dalam perjalanan melalui darat dari Jakarta, menanjak di Bedono, Ambarawa kami menyempatkan diri beristirahat di sebuah tempat persinggahan legendaris, Kopi Eva. Pada masa Narayana (muda)1970-an, sebelum memarkirkan Honda S90Z, saya harus tepuk paha 3x untuk meyakinkan bahwa isi dompet masih bisa bertahan sebulan menunggu kiriman wesel orang tua selanjutnya. Begitu " jleg " rem tangan diangkat, segera saya menuju peturasan yang langsung diikuti oleh seorang petugas berbaju putih. Rupanya begitu WC dipakai, mereka langsung menyiramnya mengingat kebiasaan sementara kita sekalipun air berlimpah ruah, tangan tinggal memencet tombolpun sering rasanya menyerahkan urusan "sentor-menyentor" kepada orang lain. Masih terlalu sore untuk makan malam sehingga saya tidak mencoba Gudeg Manggar yang sering dibicarakan penulis kuliner. Gudeg "manggar" tidak dibuat dari buah nangka melainkan bunga pohon kelapa. Kopi segera kami pesan dan tidak lama kemudian sudah terhidan...