Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

May 07, 2007

Artikel #913 Cambuk dan Palu untuk mengusir penyakit

Kerokan, kerikan (gua sha, Cina) masih dipraktekkan oleh sebagian masyarakat kita. Kendati sudah ke dokter, diberi resep obat patent yang cespleng, tetapi banyak yang baru merasa sehat setelah dikerik kulit punggung, dada dan lehernya dengan sekeping uang benggol kuno (tembaga). Kendati mengerang, menggeliat dan menggelinjang (sakit), habis itu mereka merasa lega. Apalagi kelar dikeriki masih di pijat dengan cara tradisional mandarin "tui na". Mandi pakai air panas, menyeruput sup ayam hangat dan teh hangat. Di jamin masuk angin atau flu ringan bablas. Tidur pulas. Perkara bilur merah padam anggaplah sebagai sertifikat "bebas masuk angin."

Biasanya kalau terlanjur parah, dikerikpun kulit seperti sudah dibius. Alias tidak terasa nyeri. Namun kalau hasil kerokan masih pucat, pertanda "penyakit belum menumpuk parah." - biasanya kerokanpun tidak mujarab. Celakanya yang dikeriki akan merasakan sakit luar biasa.

Tetapi apa yang dilakukan Gao Tanlin seorang tabib Malaysia termasuk tidak lumrah. Ia menggantikan peralatan kerikan dengan rotan dan palu karet dan minyak jaitun. Tubuh pasiennya dicambuki sampai berteriak kesakitan dan kulitnya merah padam kebiruan, sementara bagian wajah yang telah diolesi minyak zaitun segera dipukuli oleh palu agar titik akupressurenya terbuka. Alasannya sederhana "membuang maka racun yang terkumpul dikulit, " kata Gao yang sudah melakukan praktek selama 11 tahun. Pasiennya ada yang berasal dari Amerika, Thailand dan Singapur. Gao mengaku bisa menyembuhkan segala macam penyakit, kalau berjodoh, katanya.

Di rumahnya ia buka praktek sepanjang hari dengan menarik bayaran sebesar 70 ringgit (Sin $31) untuk satu kali terapi. Pengetahuannya ia pelajari saat bertandang ke rumah adik perempuannya yang telah melakukan pengobatan alternatif aneh. Caranya dengan menyabetkan batang sisir ketubuhnya agar muncul efek serupa (bilur).

"Tapi ada juga seorang pasien wanita berteriak kesakitan lalu kabur setelah saya sabeti," katanya enteng.

"Orang harus siap mental untuk menjalani pengobatan saya."

Nyonya Don Yunjiao yang bersuamikan orang Thailand "Merasa baikan dan tidur menjadi nyenyak setelah dicambuki oleh Gao"

"Kebanyakan orang datang kepada saya ketika sakitnya sudah tidak tertahankan. Sakit akibat -siksaan - dari pengobatan saya dianggap cukup toleran dibanding sakit yang menyiksanya selama tahunan, katanya di tempat prakteknya sebuah bangunan miliknya yang berlantai tiga di Petaling Jaya. Tempat prakteknya buka dari jam 11 siang sampai jam 11 malam.

Mula-mula ia menggarap bagian kepala, lalu mulai mencambuki leher, bahu, pantat sampi ke telapak kaki. Untuk satu terapi diperlukan waktu 60 sampai 90 menit.

Seperti biasa, cara pengobatannya mendapat reaksi "negatif" dari pelbagai pihak. Profesor Feng dari perkumpulan Tabib Alternative wanti-wanti bahwa tidak ada satu pengobatan untuk semua jenis penyakit. Sebelum diterapi seorang pasien harus di cek denyut jantungnya dan sirkulasi tenaga "chi" nya. Lalu hal yang sama dilakukan setelah terapi selesai agar bisa diketahui tingkat kemajuannya.

Mr Ma seorang ahli akupuntur menambahkan "membaca akupressure atau menentukan letak titik akupuntur, bukan ilmu yang bisa dipelajari dari membaca apalagi belajar sendiri. " Pengobatan ini harus dihentikan sebelum korban jatuh. Seorang dokter malahan berpendapat "tidak masuk akal ada racun dikeluarkan dari permukaan."

Tetapi selama ada orang sakit dan membutuhkan pengobatan, selama itu pula Dokter atau Tabib sama-sama bersaing. Apalagi kalau sudah berobat ke dokter penyakit belum berakhir, orang biasanya beralih ke pengobatan alternatif. Buktinya ia barusan menyiapkan waktu untuk 14 orang Singapura yang akan berobat minggu depan. Kalau satu orang membutuhkan waktu 90 menit berarti ia akan terpaku ditempat prakteknya selama hampir 24 jam termasuk jam istirahat dan makan.

"Memang melelahkan, tetapi saya tidak ingin mengecewakan pasien yang telah jauh datang lalu pulang dengan tangan kosong, bukan begitu?" kata ayah dari 3 anak yang tak ingin anaknya mengikuti jejaknya.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com