Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

May 09, 2007

Artikel #915 Tiang "Bendera" bermasalah di Singapur

Salah satu pemandangan yang unik di Singapur adalah banyaknya rumah susun (rusun) atau apartemen yang menjulang tinggi guna menyikapi keterbatasan akan lahan permukiman. Namun ada sedikit pemandangan yang mengganggu lantaran diantara jendela para penghuninya kerapkali berkibar "bendera" yang merupakan jemuran.

Melalui-tiang bambu jemuran tersebut dijulurkan melalui jendela belakang, lalu ditancapkan pada penyangga yang terbuat dari sepotong besi berongga bergaris tengah 3/4 inci tertancap pada dinding luar apartemen menyudut 60 derajat. Dari sini "bendera" berkibar dengan megahnya.

Diperlukan keahlian dan tenaga untuk mengeluarkan jemuran basah (dan berat) dengan panjang bambu yang terbatas, apalagi bagi anak-anak dan orang tua jelas memerlukan bantuan orang lain. Belum lagi saat pemilik keluar untuk bekerja, misalnya, mendadak turun hujan lebat, maka baju kembali basah dan biasanya mengeluarkan bau tidak enak sehingga harus dicuci ulang. Atau pejalan kaki tiba-tiba ketetesan air yang berasal dari jemuran celana dalam misalnya. Bagi pemerhati jemuran pajangan ini bisa memberi tahu jumlah, dan jenis kelamin penghuninya.

Kadang tiang bambu patah karena lapuk atau terpaan angin kencang, atau sekalipun sudah dijepit, jemuran mampu melepaskan diri dan melayang entah kemana. Beberapa kejadian nahas, bambu dan cuciannya jatuh menimpa pejalan kaki dibawahnya.

Belakangan diketahui bahwa tiang penyangga (pole holder) yang terbuat dari besi sering dibiarkan tidak tertutup manakala sedang tidak dipakai. Akibatnya saat hujan air mengisi pipa dan bersamaan dengan tamu tak diundang yaitu nyamuk demam berdarah (DBD). Bahkan saat menjemur pakaianpun air cucian mengalir mengikuti kemiringan batang bambu lalu masuk kedalam mangkok penyangga.

Pada 1998, ada 11% nyamuk demam berdarah ditemukan pada mangkokan ini. Jumlah ini meningkat menjadi 20% pada akhir tahun 2000. Ada 29 sampai 34 kasus demam berdarah di kawasan Chai Chee dan Marine Parade. Setelah dilakukan penyelidikan ditemukan jentik-jentik demam berdarah 117 ekor pada serangan pertama (29 penderita) dan 137 pada serangan kedua (34 penderita)

Maka sibuklah departemen Kesehatan Singapur mengecek setiap apartemen untuk memastikan bahwa tidak ada air tergenang didalam rumah, termasuk memberikan penutup pipa (dop) agar nyamuk tidak bersarang disana.

Perlahan-lahan peran galah jemuran "ngablak" digantikan dengan memasang galah dalam rumah dan pemandangan tak sedap sedikit berkurang. Masalah yang timbul adalah minimnya sinar matahari yang menerobos kamar apartemen membuat masa pengeringan jemuran menjadi lebih lama sebab cucian hanya diangin-anginkan.

Soal menguras bak mandi, karena pemilik apartemen umumnya menggunakan shower (pancuran) untuk mandi maka penghuni rusun agak bebas dengan urusan menguras bak mandi.

Penggemar tanaman air, masih diperbolehkan memelihara kesayangannya dalam rusun mereka, syaratnya permukaan vas diberi sejenis jelly yang menutup permukaan air namun tidak mengurangi keindahan tanaman. Tentu saja setelah diberi bubuk abate.

Urusan cucian kalau tidak berhati-hati kadang merembet ke masalah mesin pembunuh bernama demam berdarah. Tidak salah isi salah satu selebaran mengatakan "Pastikan Tidak Ada Tamu Lain Yang Hidup Bersama Anda"

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com