Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

May 06, 2007

Artikel #912 Semua Orang Lumba-Lumba

Yang membuat kuping lalu berdiri, suara musik ini terdengar di kaki apartemen di satu negeri kecil yang sekalipun hanya satu jam setengah dengan penerbangan, bisa menunjukkan suasana berbalikan dengan kota tanah tumpah darah saya.

Saya lirik arloji masih menunjukkan sekitar pukul 10 pagi di hari Minggu, ketika dari pengeras suara terdengar suara mikrofon diketuk-ketuk dan ditiup sehingga menimbulkan suara mirip letupan bom.

Lalu organ tunggal mulai dipencet mengiringi suara penyanyi membawakan lagu "lima menit lagi ah ah..." Maaf bagi bukan pengamat dangdut, lagu "lima menit lagi" dipopulerkan oleh Neti Herawati ini lumayan populer sekalipun belum selaris manisnya lagu Mandi Madu atau Bang SMS.

Rupanya inilah cara "keriaan" berupa resepsi pernikahan dikalangan keturunan Melayu. Konon sekaya apapun orang Melayu, soal perkawinan mereka memilih tempat di kawasan apartemen. Bukannya pelit tetapi kuatir ada diantara para sanak kadang, kerabat justru urung hadir jika keriaan diselenggarakan ditempat mahal.

Uniknya acara keriaan ini zonder kata sambutan. Padahal di tanah air beta, acara resepsi perkawinan yang paling memolorkan waktu adalah potret bersama teman kantor, teman arisan, teman RT, klabing, alumni dan entah teman apa lagi yang hanya dinikmati oleh yang memang agak-agak berbakat Narcis. Pihak syaiful hajat (tuan rumah) sama sekali tidak memerlukan waktu untuk mengucapkan kata sambutan. Pendeknya, bertandang, angpau, menyanyi, menuju menu terhidang, lalu pulang.

Saya sering mendengar lalu dangdut begitu populer sampai menohok masuk ke Malaysia, Sarawak, Brunei. Namun masih sempat kaget-terkaget juga melihat kenyataan bahwa komunitas orang Melayu di Singapore juga menyenangi lagu dangdut. Lagu Indonesia yang lain yang dinyanyikan adalah lagu Melayu tempo dulu saat kejayaan penyanyi Said Effendi. Kadang mereka juga meyanyikan lagu Kris Dayanti seperti "Menghitung Hari" - tentunya dengan cengkok Melayu.

Lalu beberapa lagu "aseli sono" - yang mendayu-dayu sedih tetapi manakala masuk ke melodi, suara gitar meraung garang, melengking, melompat meninggi seperti hendak meraih sesuatu lalu mendadak "deg" hilang. Celakanya ketika diisi vokal justru suara sedih dengan tempo lambat yang diperdengarkan. Persis makan Roti Prata disambung Gudek Plengkung Wijilan. Cara jitu menyiksa lidah agar stress berat.

Seorang tamu (minus goyang) membawakan lagu Penasaran-nya Rhoma Irama. Saya sempat tersenyum sendiri mendengar bait dilantunkan "semua orang berlumba-lumba (pakai u), untuk mendapatkan kasih sayangnya..."- lha ini lidah melayu sehingga tidak dibedakan antara Lomba dengan Lumba-Lumba (nama mamalia air).

Malam hari ketika saya melewati tempat ini, meja kursi sudah tidak nampak lagi. Sisa pesta hanya terlihat beberapa plastik hitam gendut berisi sampah teronggok menunggu diangkut petugas kebersihan. Sementara anak-anak kembali bermain sepeda, berlarian di halaman yang lapang.

1 comment:

Bali said...

Terimakasih saya sudah bisa mampir untuk baca-baca, DSalam kenal

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com