Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 24, 2007

Artikel #887 - Soto Betawi Roxy - H. Darwasa

Soto Betawi – Legendaris

Di Jakarta, tak terhitung kedai penyaji makanan khas Betawi ini yang terdiri santan gurih ditambahkan potongan daging sandung lamur, paru, babat, usus sapi lalu dihidangkan dalam keadaan kuah kebul-kebul berhias potongan tomat kemerahan, daun bawang dan sledri, masih harus digoda dengan gorengan emping yang renyah-renyah sedikit pahit.

Bagi masakan betawi terkenal pemeo berani santen” sekalipun pada kenyataan mereka bisik-bisik bahwa menambahkan sedikit susu akan membuat santan tidak pecah ketika dipanaskan. Belum lagi ada lawan klasik soto yaitu berupa nasi akel bertubuh tinggi langsing, beraroma beras Rajalele bertabur bawang goreng.

Kalau sudah begini iman bakalan jeblok? – belum lagi sepiring kecil, acar, sambal cabe rawit hijau dihidangkan secara terpisah ada disisinya. Bagi saya pribadi, lebih afdol kalau dikecroti kecap benteng bergambar burung sedih.

Yang bikin keder, rata-rata masakan Soto Betawi rasanya hampir standar. Mirip dengan image yang diberikan oleh masakan Padang. Perlu parameter tambahan lainnya seperti pengalaman mereka berdagang dan klasemen pembelinya.

Diantara deretan penyaji makan kelas super harga bemper, maka jajan jalan Biak memang sudah kesohor. Sebut saja Soto Madura “Ngatijo”, Sup Kambing “Sudi Makmur”, Bakmi “Roxi”, martabak kubang ARH. Tapi ini untuk cerita lain kali. Saya ajak anda mengunjungi salah satu cabang jalan Biak yaitu jalan Tidore.

Maka pas di belakang bekas bioskop Roxy yang kini sudah berubah menjadi pertokoan. Saya mengarahkan kendaraan menuju langganan Soto Roxy milik Haji Darwasa. Tepatnya di jalan Tidore no 2, Jakarta Pusat. Saya mengenalnya baru 1978-an.

Ketika sekitar jam 9 pagi saya mendatanginya. Kendaraan baru nongol dari kejauhan salah satu tukang parkir berkaus kutang merah, berambut dicat ala bule, menenteng dua handphone di pinggangnya. Nampak memberi isyarat tempat parkir.

Di pojok kedai sudah duduk serombongan warga Hokian nampaknya baru merampungkan olah raga tenis, terlihat dari pakaian dan raket yang mereka jinjing. Indikasi lain bahwa sebuah kedai jajan itu masuk “okey zone,” adalah jika warga keturunan banyak hadir. Mereka terkenal cerewet dan selektip. Jadi makanan yang sudah lulus uji lidah mereka biasanya tidak perlu dipertanyakan rasanya.

Suasana kedai masih seperti puluhan tahun lalu. Empat puluh kursi plastik bakso merah tersedia buat melayani pembeli pada jam makan siang. Dua pria berumur mengenakan kaos oblong dan celemek merah. Lalu ada istri pak haji dan pak Haji Darwasa sendiri nampak siap melayani para pembeli.

Di bawah meja dagang, tergeletak lima dandang aluminium besar (50liter) sebagian berisikan kuah soto yang masih panas. Setiap sebentar santan dari bawah meja dipindahkan ke atas pertanda satu dandang kuah soto sudah mulai menipis. Sementara di atas meja dagangan tergolek menantang rebusan dan gorengan daging dalam kotak kaca, hidup berdampingan dengan susunan piring beling warna putih polos.

Hitung-hitung menurut pemiliknya, Darwasa, “ade kali barang sekitar anem pulu kilo, semue, sehari ludes,

Dengan menghabiskan sekitar 60 kilogram daging (campuran daging, usus, paru, babat, sandung lamur), maka warung yang buka sejak jam 7 pagi akan ladas (tandas Palembang) pada sekitar jam 16:00 an. Pasalnya setelah jam tersebut jalanan Tidore praktis dikuasai para pemilik lapak.

Darwasa membuka kedai ini sejak 1951, ia masih ingat kawasan Roxy dulu masih banyak kebon singkong, belum ada jalan beraspal. Bioskop Roxy sebagai landmark tempat ini (dulu) baru dibangun pada 1953-an.

Maaf sekarang dua puluh ribu, maksudnya untuk harga sepiring soto, saya sebut sepiring karena disini soto Betawi disajikan dalam piring, bukan mangkok. Ditambah sepiring nasi Rajalele bertabur bawang goreng, “ maklum semua serba mahal”, kata pak Haji tersenyum sambil memberikan kembalian. Saat itu saya langsung memotretnya dengan HP – ceklek, cepat namun hasilnya kurang tajam.

Mungkin pak haji ingin menjelaskan bahwa hukum gravitasi Newton tidak pernah berlaku di Indonesia. Pasalnya pernyataan Newton bahwa benda yang dilemparkan ke atas akan mengalami gaya tarik. Uniknya di negeri ini sekali harga barang terlempar keatas, tidak akan pernah turun lagi.

Oh ya tentang tukang parkir, rupanya satu dari dua kotak HP dipinggangnya adalah sarana uang kembalian parkir.

Mimbar Bambang Saputro

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com