Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 02, 2007

872 - Menyalakan Lampu Hazzard, Tepatkah Tindakan Itu?

Tadi pagi sekitar jam 10:30 saat berada di ruas jalan tol Dukuh 1 langit Jakarta nampak digelayuti mendung gelap. Ramalan BMG mengatakan bahwa akan ada serangan lesus, puting beliung dengan kecepatan 5-15 knots (setara dengan 9-28 km/jam).

Begitu membayar di Ramp Dukuh-l, hujan mulai mengguyur lebat sehingga wiper saya hidupkan dengan kecepatan sedang. Tapi mobil belum juga beranjak di samping loket pembayaran.

Kendaraan di belakang saya sudah menglakson sebab dipikirnya saya arisan dengan kasir, padahal pertama saya harus menunggu petugas Jasa Marga, menyeberang jalan sambil membawa uang hasil penukaran dengan tetangga sebelah. Kedua saya harus menunggu petugas Janitor menyeberang jalan sambil membawa sapu dan ember peralatan pel. Nampaknya petugas Jasa Marga pun harus diajak menghargai privasi pengguna jalan tol. Atau mempersiapkan diri sebaiknya sehingga tidak perlu hilir mudik menukar uang.

Bungsu saya mengatakan “lampu hazzard mengapa tidak dihidupkan..” Sebuah pertanyaan klasik karena menjadi darah-daging para pengemudi bahwa saat hujan lebat, berkabut, maka lampu hazzard diaktifkan agar kedua lampu signal kiri dan kanan menyala berkedap kedip secara bersamaan.

Kalau semua kendaraan melakukan hal sama (lampu hazzard) di saat jarak pandang terhalang, lalu tiba-tiba kendaraan di depan kita berbelok kekiri atau kekanan. Darimana kita atau pemakai jalan yang lain akan tahu? Ini jelas SOP yang salah kaprah.

Mungkin hazzard diterjemahkan sebagai bahaya, lalu diplesetkan dengan arti hati-hati sehingga menafsirkan lampu hazzard sebagai isyarat untuk berhati-hati. Mengendarai dengan cara demikian, di Australia akan mengundang Polantas untuk menilang kita sebab membingungkan pemakai jalan lain.

Hujan semangkin lebat sehingga laju kendaraan di jalur arteri semangkin saya lambatkan. Beberapa kendaraan mendahului saya.

Kadang saya lebih melambatkan kendaraan karena semburan air yang dihajar roda kendaraan di jalur Jagorawi di sebelah kanan saya. Saya lirik dari balik kaca semakin deras hujan semangkin kesetanan mereka memacu mobilnya. Mereka bukan tidak tahu bahwa basahnya kampas rem, mengakibatkan hilangnya daya cengkram ban terhadap jalan yang basah, mengharuskan mereka memperlambat kendaraan.

Saya memang jadi orang jompo kalau sudah di jalan raya. Menjaga jarak kendaraan minimal 20 meter agar kalau terjadi hal mendadak didepan, menghindari tabrakan beruntun karena ada waktu untuk mengerem. Eh, kendaraan lain malahan menyalip didepan saya, meninggalkan asap knalpot seakan melecehkan “kesian deh elo, di metropolitan macem kagak punya gas”

Belum selesai saya menularkan ilmu “safety on the road” 30 meter didepan saya terjadi atraksi di luar skenario. Di ruas tol Jagorawi, sebuah sedan hitam dengan kecepatan tinggi berputar sambil menyenggol sebuah minivan warna perak, lalu kehilangan kendali, memotong ke kiri tegak 90 derajat sambil menjebol pagar pemisah antara jalan Jagorawi, lalu masuk ke ruas jalan arteri dan dengan manisnya bertatapan muka dengan kendaraan saya. Secara reflek saya mengeluarkan suara “ouch ouch” sambil menyoba berkelit menghindari tabrakan. Berhasil!, tanpa drama. TKP langsung saya tinggalkan sebab bisa dipastikan sebentar lagi kongesti bakalan terjadi.

Bungsu saya, Satrio, langsung menarik napas lega “Kalau tadi Papa sedikit ngebut, 10 detik lebih cepat, maka tabrakan yang mungkin memakan korban sudah terjadi.”

Herannya pasangan Wan-Poligami saya, yang selalu maunya duduk di depan di samping pak Kusir, entah hari Sabtu, Minggu ataupun hari lainnya, malahan baru sadar, “Papa nabrak orang sampai mobilnya berputar ya?”– Lha piye iki? kalau nabrak orang, bunyinya lebih “poliponik” disertai dentuman "kirara baso" bukan seperti ini Nek!. (Tiga hurup dengan tanda seru, yang mrucut adalah Yang, muna juga saya.)

Begitu cepatnya kejadian, saksi mata saja sampai tidak sadar peristiwa nyaris aksiden baru saja lewat.

Mungkin saja pak pir sedan hitam (entah apa yang terjadi dengan mereka saat mobil “mbabit” memutar 180 derajat, mencoba menghindar lantaran bingung melihat mobil di depannya berganti arah namun semua lampu sein menyala (hazzard), atau karena licinnya jalan ditambah kecepatan tinggi membuat tumbukan antara air menggenang dengan ban membuat mobil lepas kendali.

Padahal kalau mau jalan lansam sedikit saja. Cerita mungkin lain. Atau seperti kecelakaan lalu lintas lainnya kita menyalahkan "cuaca buruk?"



Mimbar Bambang Saputro

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com