Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 31, 2007

Artikel #892 - Aturan bepergian sekarang berubah banyak

Disadari atau tidak melakukan perjalanan udara dalam dasawarsa belakangan berubah cepat. Dulu, begitu lepas landas, mata para perokok, hanya mantheng tertuju lampu tanda No Smoking.

Begitu suara "tung" menandai pemadaman larangan merokok, maka sebentar saja terdengar suara jras-jres-jros orang menyalakan rokok disertai hembusan napas lega digelontor asap rokok. Kabin pesawat, sebentar saja penuh asap bagaikan kepulan kemenyan mengiringi pagelaran tarian sakral “Dirada Meta” alias Gajah Ngamuk. Yang tidak merokok boleh pindah tempat ke depan atau terbatuk-batuk dicekik asap nikotin.

Lalu saat seluruh penerbangan memberlakukan Anti Merokok didalam pesawat. Hawa pesawat memang menjadi nyaman. Parfum yang dipakai penumpang bisa tercium aromanya. Bahkan saat pramugrari memanaskan hidangan, bau kuah daging, atau aroma kopi instan mengalir ke hidung.

Yang memanfaatkan kesempatan ini adalah negara cerdik macam Singapore. Mereka memperketat masuknya rokok luar ke negeri mereka. Seorang kerabat kedapatan mengantongi dua bungkus (bukan dua pak) rokok Kediri, terpaksa gigit jari mengeluarkan sekitar 300 dollar akibat didenda (ia tidak mengaku persisnya jumlah denda). Kalau masih keukeuh ingin membawa rokoknya, tambahan cukai 75 dollar per bungkus harus dibayar. Saya pernah diprotes pembaca yang mengaku membawa satu pak besar rokok Kretek, dan aman-aman saja.

Pop-Mie disita petugas

Gara-gara meramal bahwa tiba di Apartemen, Perth sekitar jam lima dinihari, dan tidak akan menemukan abang penjual boti, bubur ayam, lontong sayur, nasi uduk yang mengider ke kampung, maka saya nekad membawa empat bungkus mie instant yang tinggal dikucuri air panas. Barang tersebut saya “declare” dalam formulir keimigrasian. Petugas imigrasi lalu memberi lingkaran merah pada formulir isian. Tidak lama dia meminta temannya memeriksa passport saya. Entah mengapa "beagle brigade" - brigade anjing yang biasa ikut sibuk mengendusi tas penumpang, tidak nampak. Petugas karatina mendatangi saya dan membongkar isi tas. Mie instant yang terbebat dalam stereoform dilihat dibawah lampu khusus. Daftar isi dibaca (untung ada bahasa Inggrisnya).

Cewek Australia ini berbalik sambil bilang “maaf kamu tidak diijinkan membawa makanan ini ke Australia.” – biang resehnya adalah potongan bakso kecil dan suwiran ayam kecil hanya cukup buat slilit gigi. Sambil merelakan barang disita, saya kepikiran kalau tadi barang tersebut tidak di declare, entah berapa ratus dollar saya akan didenda. Rupanya jujur membawa mujur. Lalu ingat beberapa waktu lalu ada teman ke Australia dengan membawa camilan kacang bawang yang ia makan selama dalam pesawat. Lantaran tinggal sedikit, kacang bawang ikut dimasukkan tas dan tidak diberitahukan petugas karantina. Untung ia sempat berkelit. Kalau tidak 250 dollar bakalan lewat.

Memasuki babad teroris perubahan cukup signifikan terjadi, misalnya, peniti, pemotong kuku, obeng kecil dilarang masuk kedalam kabin. Pernah sekali saya ditilpun teman. Rupanya ia membawa pemotong kuku, pinset serba mini hadiah saya kedalam kabin. Padahal cuma setebal kartu PCMCIA, toh barang tersebut disita petugas saat ia memasuki Christmas Island.

Maka matskapai (pakai t) macam SIA sampai “diniatin” menempelkan sepucuk kertas kecil pada baki makanan, sebagai permohonan maaf terpaksa menggunakan sendok dan garpu terbuat dari plastik. Giliran para kleptomania sendok dan garpu pesawat terpaksa gigit jari tidak bisa bawa oleh-oleh untuk dibanggakan didepan keluarganya (mencuri).

Polisi anti "barang" bajakan.

Seorang Australia bercerita, ketika tiba di bandara Charles de Gaulle, Paris baru-baru ini dengan anaknya dia heran mengapa tidak diberi formulir isian imigrasi, bahkan passportpun cuma sepintas dilihat. Maka mereka betapa leganya setelah enam tas besar berhasil lolos pemeriksaan. Tidak disangka diujung sana seorang polisi “mode” menyetopnya dan menginterogasi apakah pakaian yang dikenakan anaknya berasal dari Thailand – yang dikenal jago meniru merek dari Paris semacam Louis Vuitton atau Chanel. Rupanya bagi bangsa yang sering diolok “pangeran Kodok”, soal isu melindungi hak cipta mereka jauh lebih penting dari isu presiden Bush.

Tetapi, polisi “mode” juga kecolongan. Seorang anak muda yang berpakaian keluaran rumah mode Diesel tapi aspal dari ujung rambut sampai ujung kaki, ternyata malah lolos dari radar dan sensor pengamatan mereka.

Dari Paris mereka merencanakan liburan ke Bangkok. Untuk meyakinkan bahwa tidak ada larangan bepergian ke Bali, ia mendatangi Konsulat Australia di Bangkok. Pihak konsulat mengatakan, tidak tahu, sebab mereka tidak memiliki akses untuk itu. Akhirnya setelah berdebat cukup lama, cewek konsulat mencari tahu melalui internet. Ia kembali dengan jawaban, “anda tidak boleh ke Bangkok sebab ada bom meledak di Bali!,” katanya setegas menyanyikan lagu "Nenek Moyangku Orang Pelaut."

Tapi Bali bukan Bangkok!. Dan pelajaran ilmu bumi ini memerlukan waktu lama untuk ditransfer ke cewek konsulat Australia bahwa sekalipun sama-sama ‘BA’ pada awal nama kota, tapi sejarahnya lain. Sampai di Bangkok anaknya minta belanja ke MBK (Mah Boon Krong). Padahal dia baru saja stress diiterogasi soal barang aspal. Setengah teriakia menolak: "jangan pernah berfikiran beli barang tiruan, sekalipun di Bangkok."

Ceritanya, usai berlibur di Bangkok, yang herannya ‘hare geneh ’ ada supir taxinya hanya kenal aksara pisau (maksudnya mirip pisau disusun) sehingga terpaksa harus minta tolong petugas hotel untuk menuliskan alamat yang dituju. Mereka berniat pulang ke Australia.

Di Bandara Bangkok, sudah dalam pesawat, tiba-tiba awak kabin melalui pengeras suara mengumumkan “bagi yang bernama Al Aziz...., mohon menemui awak penerbangan..

Setelah setengah jam berlalu, dua kali dipanggil, tak seorangpun mengaku nama “Al...Aziz..” Penumpang saling toleh kiri kanan, cemas. Jangan..jangan merupakan komplotan teroris.
Pikiran buruk mulai menghinggapi mereka.

Akhirnya pilot menyatakan keberangkatan pesawat tertunda untuk membongkar muatan yang menyurigakan. Pada saat yang kritis, seseorang muncul mengaku itu nama panggilannya, dan ternyata ia membawa barang bebas pajak untuk 10 orang.

Gara-gara plot bom di London, memasuki tahun 2007, bukan benda tajam dan benda gas yang dilarang masuk kabin. Benda cairpun mulai diharami. Buktinya ada peraturan mengatakan bahwa membawa air aqua sekalipun hanya boleh 100 cc, itupun harus masuk kantong transparan spesial yang bisa di zip. Tak heran para wanita mulai repot melihat volume eyeliner, maskara, parfum. Jangan-jangan selama ini melebihi ketentuan 100 ml.

Sebatang lipstik tumpul yang katanya tidak diujikan kepada binatang, bebas merkuri, masih dianggap sama berbahaya dengan ujung pisau belati?

Bepergian sekarang sudah berubah. Tapi itulah romantika hidup

Mimbar Bambang Saputro

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com