Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 03, 2007

874 - Sekoci Penolong Kita (Kalau tidak macet)


Seperti nampak pada gambar pertama, sekoci (warna orange) tergantung pada ketinggian 25meter dari permukaan laut. Bila kapal terkena torpedo, kebakaran, ada semburan gas yang mengharuskan penghuni kapal untuk dievakuasi, kami (setelah pakai jaket pelampung) memasuki kapal yang bermuatan 50 orang ini. Lalu secoci yang hanya tergantung pada seutas kable diturunkan. Saat diturunkan perlahan-lahan bagi yang tidak biasa di perut ada sensasi “mak nyer” seperti anda nail Jet Coaster, lalu biasanya sekoci terombang ambing diudara, sebelum “byur” mendarat di permukaan laut, dan terombang-ambing di laut. Sampai disini sebagian penumpang sudah ada gejala akan “hoek”. Serius. Repotnya, kalau melihat satu penumpang hoek, penumpang lain bisa ketularan hoek juga.

Sesampainya dilaut sekoci yang mampu menerobos lautan api lantaran memang sudah dirancang berbentuk kapsul tertutup dari bahan tahan api, lalu dihidupkan. Sementara itu para pengungsi harus menelan pil anti mabuk laut (harus).

Dalam gambar ini satu sekoci mampu memuat 50 penumpang. Ada 4 sekoci tersedia sehingga kalau penghuni kapal berjumlah 100 orang, masih tersisa banyak. Asalkan masing-masing penghuni sudah tahu stasiun masing-masing (Sekoci) sehingga tidak saling berebutan. Apalagi masih tersedia beberapa Rakit Apung, perahu aluminum segala.

Gambar kedua adalah petugas yang merawat sekoci, memeriksa inventaris isi sekoci seperti obatan, peralatan pancing, air minum, antimo. Pengalaman kami, kalau kapal ini beroperasi di Indonesia, jangankan jaket pelampung, radio HT bisa ghoib, sebab masih belum tumbuh kesadaran bahwa benda yang sekarang nampak sepele akan menjadi penolong saat keadaan darurat.

Masalahnya hanya ABK yang boleh mengoperasikan penurunan dan pelepasan sekoci dan hanya ABK yang mempunyai SIM untuk mengemudikan sekoci. Hidup kita sangat tergantung keahlian mereka. Lha kalau ABKnya tidak kompeten mengoperasikan peralatan milik sendiri atau malahan terjun sendiri laut. Kan repot.

Mudah-mudahan kita masih mau mengingat kejadian buruk yang menimpa belakangan ini.

Mimbar Bambang Saputro

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com