Artikel #889 Panen Rumput

Melihat padang rumput yang maha luas serta ijo royo-royo di Australia Selatan, kadang timbul pertanyaan, apa ya semua rumput ini akan dihabiskan oleh sapi-sapi Ausie? padahal di samping rumput mereka juga mendapatkan menu makanan pabrik dalam bentuk butiran besar yang disimpan dalam lumbung (silo) pak/bu petani.

Suatu pagi yang cerah, saya melihat bu Notman dengan bercelana jean dan berbaju flannel kotak-kotak lengan panjang, bersepatu "gumboat" karet yang setinggi lutut, bertopi cricket warna merah dengan lincah mengemudikan traktor. Sejenak ia melihat kearah camp kami. Lalu saya lambaikan tangan dan segera dibalasnya.

Tak lama kemudian ia mulai bekerja menyabit rumput bak alang-alang ini (hay). Saya pikir akan di bakar dijadikan pupuk seperti layaknya petani tradisional kita.

Setelah beberapa hari rumput dibiarkan dijemur di bawah matahari agar mengering, tidak lama kemudian mereka menebar semacam jaring-jaring plastik. Rumput yang berceceran tadi di gulung rapi seperti nampak pada gambar. Pembebatan rumput kencang-kencang selain memperkecil volume juga bertujuan mengurangi kadar air dalam rumput agar bila disimpan nanti tidak mudah terserang bakteri yang mengakibatkan ternak akan sakit. Bahaya lain, seperti gunungan sampah di Bandung, para bakteri bisa merakit bom yang berdaya ledak menggugurkan gunungan jerami (hay).

Selang beberapa hari kemudian, rumput kering tadi dibebat dalam terpal plastik hitam, lalu disimpan untuk tandon (cadangan) makan di musim kering. Di latar belakang nampak traktor-traktor yang biasanya menarik alat untuk menggulung dan membebat rumput.

Memanen (kalau boleh disebut demikian), tidak boleh sembarangan. Pasalnya bila musim terlalu kering, maka hasil yang diperoleh terlalu banyak serat namun rendah kadar nutrisinya disamping beberapa hewan kurang menyukainya.

Sementara bila musim hujan, rumput memang hijau royo-royo tetapi tidak pas untuk dipanen sebab batang dan daun mudah rusak. Dengan kadar air yang tinggi, maka kemungkinan hay terkena jamur akan lebih tinggi.

Lalu saya ingat di kampung, sapi dan kambing hanya doyan rumput hijau royo-royo. Begitu rumput pernah jatuh ke tanah. Kambing dan Sapi sudah emoh menyentuhnya.



Mimbar Bambang Saputro
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe