875 - Dikira menggunakan "Joki-Tiket" di Singapore

Ketika berada di stasiun MRT di Singapore, anak saya yang menuntut ilmu di negeri Singa ini untuk membeli tiket MRT untuk saya. Penjual tiket tidak banyak bertanya langsung memberikan tiket dengan harga pelajar, sebab dilihatnya tubuh anak saya yang mungil. Tidak disangka, perbuatan ini dianggap menggunakan "joki anak-anak". Hampir saya berurusan dengan para "hamba Wet" Singapore.

Joki, semula hanya ditujukan penunggang kuda balap. Lalu melebar
kepada penunggang kuda besi yang membantu para pemilik kendaraan
akal-akalan menetak aturan pembatasan penumpang three in one. Istilah
ini juga ditujukan penumpang gelap yang membantu seseorang ingin masuk
test perguruan tinggi favorit tapi otaknya paspasan. Belakangan joki
dipergunakan untuk merebut beras Operasi Pasar agar bisa dijual
kembali ke pasar dengan harga penuh. Lain kata, joki adalah perbuatan
melanggar hukum namun sepertinya dianggap bagian dari kecerdikan
bangsa memanfaatkan celah lemah suatu peraturan.

Saat di Singapore mengunjungi anak, setelah berkali-kali naik turun
MRT (Mass Rapid Transportation) alias kereta listrik dan bis umum
dengan menggunakan kartu yang sama, mau tidak mau kartu sepuluh
dolaran tadi ternyata nyaris terkuras habis.

Lalu kubiarkan putri saya antri beli kartu baru , maaf mohon ijin:
saya mau bangga. Orang tua tidak minta banyak, lihat anak antri berani
antri dinegeri orang sudah senang. Apalagi ada dibarisan wisudawati,
rasanya dada membuncah, aliran darah seperti lumpur magma Lapindo.
Tidak bisa ditanggulangi apalagi sekedar pakai telur naga beton.
Rasanya impas sudah jungkir balik susah payah jadi TKI untuk
membeayainya sekolah. Maaf jadi melantur.

Begitu kartu ditunjukkan kepada saya entah darimana seorang lelaki,
dari jangat (kulit) dan brengos (kumis) nampaknya keturunan India
mendekat sambil mengambil kartu dan berkata "You are violating
seriously," dan saya baru ngeh bahwa saya mendadak tertuduh
menggunakan "joki" untuk belikan tiket MRT dewasa harga pelajar.
Pertama saya berlagak "tak cakap English lah." Namun melihat petugas
mulai menanyakan student card anak saya. Lalu terbayang bahwa bakalan
berhadapan dengan hukum.

Untung otak masih jernih. Akhirnya saya menjelaskan duduk perkara
kepada petugas bahwasanya anak saya membeli untuk dirinya sendiri
(padahal tidak), dan mendemokan bagaimana cara membeli tiket kepada
saya yang kurang gaul di negeri orang. Kok untungnya mereka masih bisa
menerima alasan saya. Dan diiringi pandangan Inspektur Thakur (saya
selalu menyebut orang India dengan sebutan demikian), akupun masuk
antrean yang memang cukup panjang.

Joki atau "suspect joki" apapun bentuknya di negara ini menjadi urusan
masuk bui atau bayar denda mahal. Tidak ada ruang untuk bermain dengan
aturan. Tapi ini sayangnya di negara sana, yang disini ...auuuuk.

1 comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Meditasi Lilin bikin PeDe

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten