Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

July 15, 2006

761-Bintang Kecil - katanya

Tika, bocah dengan kepandaian diatas rata-rata temannya memiliki minat khusus yaitu pelajaran Astronomi. Semua benda ruang angkasa di pelajarinya dengan saksama.

Saat ia berulang tahun ke 6, dan diminta oleh orang tuanya menyanyi, diapun menyanyi sesuai kegemarannya akan benda langit yaitu Bintang Kecil. Hanya setiap menyanyi dia selalu menambahkan kata "katanya" seperti... Bintang kecil di langit yang biru - katanya...

Saya belum menangkap anekdot yang disampaikan mas Edi, seorang Doktor Psikologi, begitu saya memanggilnya. Baru setelah mengetahui bahwa bintang di galaxi ini ternyata ada yang lebih besar dari bumi berpijak langit di biru-in, baru "ngeh" kenapa Tika ragu mewartakan bintang sebagai benda yang kecil dan langit yang sebenarnya jauh dari kecil dan tidak biru.

***

Sore itu saya memang berada diruang kerja Doktor Psikolog ditempat prakteknya yang baru. Ia seorang pengajar dari Universitas Airlangga yang memilih buka klinik sendiri di Jakarta. Posturnya sedang, rambut ikalnya dikuncir dengan kacamata dan senyum mirip pemain lagu lawas NUS. Apalagi memakai baju hitam-hitam ala Leo Kristi. Entoch, dengan uang teramat paspasan ia masih tancap gas sekolah di Akademi Musik, sebagai sambilannya mengambil S3 di Psikologi. Orang tua dan kerabatnya bilang "bocah gemblung sekolah ora uwis-uwis" - saat mahasiswa ia mencari uang sebagai pengamen dan pemijat. Sebagai musisi ia mempertajam telinga dan perasaannya, sebagai pemijat ia mempertajam intuisi. Sebab beberapa pelanggan memerlukan terapi klinikal. Maklum Psikologi sering berbenturan dengan dunia esoteris.

Memasuki ruang prakteknya tidak bakal ditemui puzzle atau pertanyaan semacam test IQ, lantaran DR Edi ini selain kerap berurusan dengan aparat karena sering mengecam pemerintah, juga ia memberontak terhadap "para pengecer teknologi asing" - yang main hantam kromo mengaplikasikan temuan dunia barat, 100% ngeplek dijejalkan kepada orang Indonesia.

"IQ dengan angka itu dulunya untuk militer". Kata ayah dua anak yang sering berbicara di seminar dan diperkenalkan sebagai Musisi yang Psikolog. "Orang ber-IQ tinggi biasanya akan memimpin pasukan. Celakanya memimpin pasukan itu yang badannya besar dan kuat dia yang menang."

Kalau logika ini diterapkan ke anak kita, ternyata kita belum belajar menjadi orang tua. Celakanya lagi anak belum belajar menjadi anak-anak.

Hasil psikotest ala Doktor Edi akan diberi judul Laporan Asesmen Kesumberdayaan Seksi Skolastik. Lalu anak-anak yang diobservasi akan diberi penilaian atas kemampuan Intrapersonal, Spasial, Naturalistik, Musikal, Matematika, Eksistensial, Interpersonal, Kinesthetic, Bahasa dan Intrapersonal.

Kecerdasan Intrapersonal adalah perkara pemahaman dan penguasaan atas perasaan, nilai dan gagasan pribadinya. Cenderung mengambil jarak dan menahan diri untuk tidak bereaksi sebelum kesan itu ditangkap dan dipahaminya dengan baik.

Kecerdasan Eksistensial adalah kecerdasan empati. Menempatkan diri dalam kehidupan kosmik. Berempati kepada penderitaan, kemiskinan, ketakjuban akan fenomena alam.

Herman(m)nya, anak yang sehari-hari matematikanya "D" bisa jadi sebetulnya ia seorang matematikus. Tetapi bosan lantaran diberi pelajaran yang sifatnya repetitip.

Korban pertama dari klinik ini adalah anak dan keponakan-keponakan saya. Anakku Satrio misalnya diberi catatan besar "masih bisa menemukan anak sejujur dia (mahasiswa) di kota besar, adalah suatu keanehan." - jujur ternyata barang aneh bagi para psikolog.

Waktu kami berpisah lantaran masih ada pasien dengan anaknya. Anak Sleman yang sekolah meluncur dari IPA, IPS dan mendekam di jurusan Bahasa ini membisikkan sesuatu kepada anakku Satrio. Papamu itu Satrio orang dengan Intrapersonal tinggi. Ia sanggup bekerja sendiri.

Lho rupanya diam-diam dia mengamati saya bergerak dan berbicara. Ya sudahlah, bayar satu dapat dua. Satu anak saya diamati, kedua bapaknya di-service gratisan.

Sebuah investasi yang perlu dipikirkan jika anda ingin mengetahui sumberdaya putera-puteri anda.

Friday, July 14, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com