Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

May 23, 2006

PNG Factor



Berapa lama sih seperampat jam itu?.
Kalau anda bangun pagi lalu duduk di Toilet maka 15 menit itu sebentar. Tapi kalau shower yang rencananya air hangat ternyata kita membuka keran air panas terlalu besar, maka "15 menit is hell"

Lantas, kalau anda membuka Yahoo, di PNG dan setelah 15 menit baru muncul tulisan Yahoo sementara jatah email anda sudah expire karena dihitung per 15 menit 15 kina (lima puluh riburupiah), atau 3000 rupiah per menit, maka itulah PNG Factor. Saya terpaksa harus log-out lalu mengulangi login disebuah hotel yang mengaku berbintang gemerlapan.

Di Singapore maupun Darwin, memang dikasih jatah 10 menit (free), namun kualitas pita lebarnya tergolong ciamik...bila dibanding PNG.

Di PNG, ada istilah PNG factor. Maksudnya jangan pernah berharap mengerjakan sesuatu pekerjaan secara efisien. Pasalnya keadaan cuaca, topologi, sikap "nyantai bouw" saling terkait di PNG sehingga agenda yang disiapkan matang-matang, menjadi berantakan karena ada gangguan yang diluar perhitungan.

Contoh, cuma ada pesawat dua kali seminggu dari Moresby ke Singaporeyaitu hari Senin dan Kamis. Namun gara-gara cuaca, bisa jadi yang semula harus berangkat pada hari Senin, lanaran ketinggalan pesawat sehingga harus menunggu hari berikutnya yaitu Kamis.

Pradeep, teman dari Mumbay, sudah bersolek sejadinya pada hari Senin. Jadi lemas ketika diberitahu bahwa penggantinya juga dari Mumbay, kopornya tersangkut entah dimana.

Sebetulnya saya sudah harus berada di tanah air pada 4 Mei lalu, namun sampai hari "H", belum ada konformasi dari Perth sehingga mundur sampai tanggal 8 Mei, ternyata pada tanggal yang ditentukan pun, PNG-Factor masih berperan sampai akhirnya saya baru meninggalkan MORO pada hari Kamis 11 Mei 2006 dan meninggalkan Kota Port Moresby pada 15 Mei 2006.

Kebiasaan saya ketika akan melakukan travel adalah melakukan booking hotel, konfirmasi pesawat. Namun berdasarkan aturan main disini hal tersebut boleh dilimpahkan kepada dua orang Koordinator Lapangan. Istilahnya dalam pernikahan "sudah paket". Kalaupun anda coba ambil bahu-jalan istilahnya mendahului mereka. Bakalan sia-sia lantaran kepentok birokrasi, berupa penantian atas clearance dari Korlap.

Namun, lagi-lagi saya terlambat 30 menit dari yang ditentukan, akibat cuaca. Di airstrip MORO saya harus puas dengan bermalam di mess yang disediakan oleh Oil Search setelah melakukan re-booking untuk keesokan harinya. Puas bermalam di Moro, dengan 2-3 kali kamar dibuka oleh orang (padahal sudah saya kunci dari dalam), yang salah kamar sampai yang ingin ganti seprai. Keesokan harinya saya melapor ke bagian tiket, dan lagi-lagi nama saya belum tercantum. Jadi apa artinya "Noworry brother, everything should be allright" ternyata bukan merupakan jaminan.

Padahal dua korlap saya dengar sendiri dalam percakapan sudah melakukan re-booked, bisa-bisanya nama saya tidak tercantum. Untung masih ada seat sehingga saya bisa ikutan terbawa pesawat DASH8 yang mengantarkan saya dari MORO ke Port Moresby dalam 1 jam 10 menit.

Sesampainya di Moresby, seperti halnya dikota lain, pihak penjemputan Hotel mengacung-acungkan pelangnya dan saya amat bersuka cita mencari nama saya disitu, untuk akhirnya kecewa sebab - lagi-lagi saya belum dibook.

Kukeluarkan HP dengan harapan teknologi PNG sudahberubah baik. Masih saja belum bisa terhubung. Secara manual saya paksa mengakses PNGB-Mobil phone. Gagal.

Lalu saya lirik Korlap saya seakan menanyakan "bagaimana tanggung jawabmu". Dia seperti kehilangan akal, lalu mengeluarkan HP-nya dan berguman "bagarap (sial) tinggal 3 kina". Alamat HP cuma bisa menerimasaja nih... Dalam hati saya, kalau cuma pameran "kere van Moresby" sudah khatam saya mengikutinya.

Sekarang aku ambil action. Setelah melakukan pengamatan dan olah TKP, Sebuah mobil dengan tulisan Hotel Lamana saya dekati, supirnya sedang berada diantara 2 gadis muda, lalu saya tanya apa Lamana punya tempat. Dia menyoba menghubungi kantornya (buktinya angkat tilpun dan tidak pernah mengucapkan kata), jawabannya fully book!

Matik aku, ayahku tidak tahu...[pethilan dangdut]

Alarm panic sudah mulai mengubah warna hijau menjadi kuning. Padahal sudah berada diluar terminal, dan jangan mengharap tilpun umum seperti layaknya kota besar didunia. Sampai akhirnya masuk pada jurusan nekad-nekadan yaitu menumpang shuttle milik Hotel Lamana, apapun jadinya, bagaimana nanti. Supir semula bingung, sudah dibilang penuh tapi masih nekad naik.

Di Lamana, tanpa basa-basi resepsionis menyambut dengan senyum lebar, kami masih punya banyak kamar, disini ada disco, ada casino tapi tak ada kolam renang. Berapa lama sampeyan akan tinggal disini?. Saya cari supir shuttle sudah ngacir entah kemana, padahal belum kuberi tips.

Gagal hari Kamis ke Singapore, berarti saya harus menunggu sampai hari Senin. Sebetulnya ada 3 hari untuk mencari yang aneh-aneh di Port Moresby, namun ada 26 buku petunjuk yang telah saya tandatangani, salah satunya tidak menggunakan alat transportasi publik.

Yo wis.... di kamar saja. Paling pintu diketuk room girl. Pertamaantar sabun, ketuk kedua antar selampe, ketuk tilunya mau rapihin bedcover.... Kok ya nggak sekalian mbakyu.. eh sister.

http://mimbar2006.blogspot.com/

1 comment:

Bryan Anthony the First said...

just dropping... Filipino expat bloggin from PNG

woof!

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com