Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

May 19, 2006

Kemampuan kirim suara ala PNG

Pria ikal berkulit gelap dengan jenggot tak teratur tumbuh lebat,perlahan-lahan menyeret langkah ke pinggir jurang. Dengan seragam kerja warna biru lusuh, sepatu boot karet "gumboat" hitam setinggi lutut ia seperti tersamar diantara tumpukan material pembuat lumpur pengeboran. Apalagi senja mulai memeluk perlahan.

Nelson, pria pekerja rig ini ini sepertinya mulai menyanyi, miripura-ura di Jawa. Kadang meninggi menyayat mendekati suara lengkingan ajag. Ternyata ia sedang berkomunikasi dengan temannya di salah satu puncak bukit berjarak puluhan meter didepannya. Saya belum ngeh sampai sesuatu bergerak diantara semak. Mantel hujan warna kuning temannyalah yang saya lihat bergerak-gerak.

Kemampuan ini pernah dipertontonkan oleh Daniel, seorang bocah PNGusia 15 tahun. Sekolahnya baru kelas 2 SD, namun ia memutuskan kabur dari rumahnya, meninggalkan gelar "warrior" yang amat didambakan pemuda seusianya. Berbekal keladi Singapore yang dibungkus daun pisang ia menyusuri sungai, perbukitan dan jurang mencari keberadaan rig pengeboran.
Setelah beberapa lama ia menjadi pesuruh perusahaan mudlogging, anak yang berjalan 2 minggu menuju rig ini diuji kemampuan teknisnya secara tertulis. Ada seorang temannya yang memiliki "ijasah lebih bertumpuk"yang juga diuji hari itu.

Daniel yang pengetahuan praktisnya lebih baik, ternyata mampu membuktikan bahwa ia setarap dengan "anak makan sekolah lebih banyak". Keduanya lulus ujian. Dalam praktek, anak suku Huli ini lebih cekatan,cak-cek, dan sebet-sebet terhadap pekerjaan.
Belakangan baru diketahui bahwa pembisik jawaban adalah Daniel. Sinyalemen kami ia menggunakan ketrampilan antar suara yang membuat pengawasnya tidak mendengarkan percakapan mereka. Jadi kepikiran, bahwa bisa jadi para pemberontak di hutan sulit ditangkap lantaranmereka sangat piawai memanfaatkan telegraph alami.

Ketika gempita pengeboran berakhir, pada 1995-an. Anak ini terpaksa menerima PHK. Lalu ia memulai karirnya dari pencuci mobil sampai akhirnya menjadi pengemudi taxi "Scarlet" di Port Moresby. Satu yang unik dari Taxi Scarlet adalah jam oerasi hanya sampai jam 6 petang. Lewat itu taxi pulang kandang.
John (kiri) adalah penyandang dana perusahaan dengan 25 buah taxi ini. Hari-harinya ia adalah Welsite Geologist. Namun saat dikonfirmasi kepemilikannya, lajang lulusan UPN-G yang memulai karir sebelumnya sebagai mudlogger ini merendah, "saya tidak tahu soal Taxi, sebab kami hanya membantuadik yang kesulitan ekonomi...."

Wednesday, May 03, 2006

2 comments:

barney said...

Pak Mim,
John ini WNI asal Papua atau warga PNG? kok saya belum pernah dengar ada warga asing kuliah di UPN...

Anonymous said...

Kalau disimak UPN-G adalah University of Papua Niu Gini.

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com