Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

May 17, 2006

"Crocodile Initiation" alias sunat buaya



Kuatlah engkau seperti seekor buaya?. Apa nggak salah dengar? biasanya kekuatan seorang lelaki diumpamakan seekor banteng, kalau yang agak ngeres ya bagai Kuda Stalion. Tetapi lantaran binatang ini jarang ditemui di PNG, maka seekor bajul-pun jadilah. Apalagi untuk penduduk pantai seperti di Sepik.
Seperti layaknya penduduk yang masih rada-rada baru berkembang dari kepercayaan tradisional, maka di PNG juga masih dijumpai beberapa suku yang memegang teguh tradisi nenek moyangnya.
Sebut saja suku Iatmul di Sepik. Disebelah utara PNG. Aturan pakai yang berlaku disini barangsiapa sudah mimpi basah alias akil baligh maka kepadanya diwajibkan mengikuti inisiasi buaya. Yang berarti ditato kulitnya dan diharuskan tidur sekalian latihan "jurit malam" di rumah gadang nan panjang yang disebut rumah Tambaran. Tambaran berarti memedi atau spirit.
Tinggi bangunan ini sekitar 25 meter. Pada hari yang ditentukan para bujangan diwajibkan menjalani proses inisiasi menjadi bajul atau buaya. Seperti digambarkan dalam sebuah patung manusia setengah buaya yang bisa dijumpai didalam rumah gadang ini.


Mula-mula pemuda disuruh berjongkok sambil berdoa, lalu mereka diseret memasuki salah satu bangunan rumah Tambaran yang disebut sarang buaya. Sambil diiringi tiupan suling, dan tarian hingga mengalami trance seperti buaya para pemuda yang sudah tertelungkup ini segera dirajah dari bahu sampai ke lengannya dengan bantuan sembilu atau pisau batu yang sangat tajam. Luka bekas sayatan diborehi arang sehingga setelah 6 minggu terbentuk keloid yang menyerupai gigitan buaya. Atau mirip preman yang berusaha menghindar petrus dengan menyetrika tatonya.
Ini proses yang lama dan amat menyakitkan. Kadang mereka harus berendam di air untuk menghilangkan rasa sakit yang sangat akibat luka disekujur tubuh. Bila sudah sembuh dari lukanya, mereka sudah dianggap dewasa. Boleh kawin, boleh berniaga, boleh meniup suling keramat, boleh menyanyikan lagu sakral. Seorang reporter BBC nekad mengikuti acara ini dari awal sampai selesai. Selesai prosesi tersebut malamnya dia diudak-udak cewek PNG. Satu minta segera digauli, yang satu masih ragu-ragu. Mungkin agak sungkan dengan buaya albino luar dalam.
Tidak semua pemuda lulus dalam inisiasi ini. Bayangkan saja sudah dilukai, mulut mereka dijejali makanan basi, kadang dipukuli agar terbentuk manusia yang kuat, tahan uji dan menjadi manusia seutuhnya "buaya" - diharapkan mampu mengatasi perubahan dunia, seperti layaknya buaya yang tetap selamat mengalami perjalan waktu sekitar 150 jutaan tahun lalu.
Pemuda yang lulus inisiasi ini bisa diartikan bahwa arwah buaya sudah menggigit dalam dirinya. Bilamana akan terjadi malapetaka alam atau epidemi penyakit, mereka bisa menanyakan solusinya kepada para spirit dalam rumah tambaran.
Bagi warga disini, spirit hanya bisa dirasakan kehadirannya, datang dalam mimpi, tetapi tidak dalam bentuk nyata (unseen). Spirit binatang semacam dewi kesuburan digambarkan perempuan dengan sayap kelelawar. Di kita, spirit digambarkan rada biadab ada yang matanya mbelalak, mukanya putih, pocongan dan segala macam bentuk oshram lainnya. Tak heran walau dibelantara hutan gelap, tidak dikenal ada pocong, kuntilanak, kalong wewe dsb.
Ketika Diana Manus, seorang cewek bule yang selalu hidup dalam alam realita non mistis memasuki rumah spirit ini dia merasakan energi yang menekan didalam rumah ini. Kalau dalam bahasa kita dia merasakan rumah yang dingin, senyap tapi seperti ada yang memperhatikannya. Lucunya, para pemudi Sepik sendiri dilarang keras (taboo) untuk memasuki rumah tersebut. Bahkan pemuda setempat yang belum disunat ala PNG-pun terancam "fatwa mati" kalau berani memasuki rumah Tambaran ini.
Didalam rumah gadang nan panjang akan ditemui pelbagai ukiran, artifak dan rok terbuat dari rumput. Ada rumah-rumah spirit lainnya yang lebih kecil, salah satunya menyisakan totem (tonggak berukir) yang sudah lapuk dimakan usia. Totem ini saksi sejarah ketika Jepang mengebom PNG.
Para ahli kuatir budaya ini akan hilang. Pasalnya rumah Tambaran mudah dirayapi maksudnya diserang jamur dan rayap. Sebuah patung wajah (dulu batok kepala musuh) terbuat dari kayu hanya mampu berusia 5 tahun. Belum lagi ancaman petir maklum ketinggian bangunan menjulang sampai 25 meter tanpa penangkal petir tidak mustahil rawan tersambar geledek dan terbakar. Dulu ancaman lain adalah para zending yang kadang over bin kebablasan sampai membakari semua berhala. Walaupun dikabarkan suatu saat daging mereka masuk daftar yang perlu disantap oleh suku ini.

Mimbar Saputro
Dataran Tinggi Tenggara PNG
Internet dari ketinggian 1680 meteran.

1 comment:

MACCHIATO said...

Allo PNG

Sgt menarik ceritanya.

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com