Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

June 12, 2006

Berapa uang saku tentara Australia di TimTim

Melihat gagahnya tentara asing yang tinggi besar, badan berotot sehingga dengan satu tangan mampu mendorong beberapa para pendemo yang menutupi jalan di kota Dili, pasti penghasilannya besar menjadi seorang tentara. Lalu sebuah quiz muncul saat saya menonton TV Fox Channel. Pertanyaannya apakah uang saku tentara Australia dan sekutu lainnya yang jumlahnya sudah mencapai 1300-an bertugas di Dili disesuaikan seperti rekannya yang bertugas di Iraq. Seperti diketahui para serdadu Australia yang bertugas di Timtim dibayar sebesar AUD $78.60 perhari, setelah pajak. Apbila lebih dari 90 hari, maka semua penghasilannya (128 sebelum pajak) menjadi bebas pajak.

Tidak ada yang salah dalam perhitungan itu. Namun bila dilirik penghasilan tentara Australia yang kebagian zone lain yang lebih prestise, maka jumlah tersebut baru separuh dari penghasilan tentara Australia yang bertugas di Irak dan Afganistan.

Tentara di Irak mendapat tak kurang 150 dollar per hari. Belum lagi medali kehormatan yang diperoleh setelah bertugas dimedan perang ciptaan Amerika ini jauh lebih "cool" daripada brevet yang didapat saat bertugas di Dili misalnya. Istilah arung-jeram kesukaran operasi di Dili kurang mencekam. Istilah mereka "war-like" situation.

Seandainya mereka bekerja selama 3 bulan penuh, sebulan pundinya berisi 128 dollar per hari atau 2882 dollar Australia atau sekitar 26,5 juta lebih. Prajurit mana di Indonesia yang uang sakunya saja sudah bikin ngeces. Barangkali tidak perlu menjadi mudlogger untuk mendapatkan jumlah sebanyak itu.

Sementara sang anak yang tentara, tenang-tenang saja bertugas. Lho orang tua murid, maksud saya tentara pada gemrenengan karena putra terbaiknya cuma dihargai separuh daripada yang di Iraq.

"Yang namanya peluru, kalau sudah dilepaskan tidak bisa memilah mana tentara di Iraq atau di Timtim. Emangnya membawa senjata dengan peluru tajam dianggap banyolan pantomim?"

"Bagaimana orang akan tertarik jadi tentara, jika diperlakukan seperti sampah, datang ke Timtim yang tentara saling bunuh, negara dalam keos (chas), bukan pekerjaan amatiran.." - geram seorang ayah.

Ini pernyataan "munasib" kata Kabul, maksudnya munafik. Sebab ketika melepas tentara ke medan juang, Howard mengalem-alem prajuritnya yang mau terjun kemedan peperangan yang berbahaya. Giliran urusan rekening mengapa berkilah menjadi "tugas (tak) berbahaya.."

Tudingan utama dialamatkan kepada Dr. Nelson sang Menteri Pertahanan Australia, karena ucapannya di media soal tantangan operasi yang kurang ""war-like atau "bertaruh nyawa" bila dibanding dengan operasi militer di Iraq. Padahal Tuan Howard dan Alexander Downer, juga Dr. Nelson mendapatkan paling tidak allowance sebesar 300 dollar (bebas pajak) sebagai kompensasi jauh dari rumah. Belum lagi penghasilannya yang ditaksir 150.000 dollar per tahun.

Rupanya pusing-pusing sudah sampai ke Outback sehingga koran menulis "East Timor pay an insult to troops...."

Makin pusiing...

Friday, June 09, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com
Pengamat politikan yang senjatanya ayakan tepung...

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com