Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

June 28, 2006

752-Mengubah Kalkulator

Seorang teman dulu pernah menasihati saya. "Kalau mau ke luar negeri, anggap sampeyan masih di tahun 80-an, supaya makan dan tidur bisa nyenyak..." Nasehat kedua, katanya, jangan bawa kalkulator kalau ke Mal atawa supermarket. Bisa sakit hati..

Ini nasehat apaan...?

Rupanya teman ini bermaksud memberitahu agar kalkulator otak diakali sehingga konversi Dollar ke rupiah menjadi satu seribu alias 1: 1000 (nol yang satu dipangkas). Saya tahu persis teman ini tidak ada hubungannya dengan seorang mengaku pakar yang bilang cara gampang keluar kemelut adalah ganti Presiden, dan cara gampang menyeribukan rupiah menjadi satu dollar dengan menjuali aset negara termasuk pulau-pulaunya.

Dengan dollar yang makin membubung sementara kita makin membumi. Rupanya ini salah satu kiat-mental cara agar kita kuat terkena gempa budaya dan biaya, berhubung misalnya Taxi dari Airport ke Hotel yang digenjot 50 dollar harusnya dianggap sebagai 50 ribu rupiah, tidur dihotel 100 dollar (melati punya) harus diubah menjadi seakan 100 ribu rupiah. Sejak mendengar nasehat teman spiritual saya, maka kendati agak anyang-anyangan, hidangan semacam hokhokben yang bernilai 15 dollar (mirip 150.000) hanya untuk penangsel makan siang, dianggap saja sebagai 15 ribu rupiah. Kompas yang ala mak tebalnya, 3000 rupiah, di Strali 2,5 dollar.

Njeplak sekali memang.

Rudi, pengecer majalah langganan saya anaknya masih sepantaran anak saya sekitar 25-an, ayah muda beranak satu yang gemar pakai kaos putih ini kalau bicara politik seperti layaknya punggawa negeri atas angin yang kalau belum dapat posisi "galaknya seperti ayam angrem", namun begitu "mak jleg" duduk dikursi panas. Langsung lembut dan santun.

Kalau mencela negeri ini, seperti kemarin dia baru ambil pakansi satu bulan dan menghabiskan liburnya di BinaGraha sehingga tahu semua ulah partai politik dan akal-akalannya.

Rudi hapal betul bahwa dari semua majalah yang ada saya cuma memilih Tempo, Gatra sebab memang masih memiliki tebar pesona yang belum sirna, gaya bahasanya luar biasa lwes namun melilit usus. Satu saat saya beri dia T-Shirt, tulisannya norak sih Perth -West Australia lalu ada emblem angsa hitam melatari tulisan tersebut. Mudah-mudahan bukan dikira jualan mainan gelas tiup yang modelnya wajib yaitu bebek. Lalu saya berikan kepadanya dengan cara saya yang norak juga yaitu label harganya masih lekat.

"Boss, bener nih untuk saya?"

Sebetulnya (malu aku menjadi manusia Mimbar), saya ingin menjawab pertanyaannya "bos kok jalan-jalan pagi terus, apa nggak ada kerjaan, apa sudah pensiun..." - mungkin Rudi sendiri sudah lupa pernah memiliki pertanyaan itu. Habis sudah lama sekali sih.

"Lho masih ada harganya?, dua puluh lima dollar lagi..buseet."katanya lagi. Lalu kaos didekapkan kedadanya pertanda amat sukacitanya. Tubuh yang mulai tumbuh subur dibagian perutnya nampak berguncang. Namun saat melihat label dibelakang kerah. Wajahnya sedikit kecewa namun sebentar terhapus senyumnya.

"Kok buatan Cina ya..."

Cukup sudah bidikan Kalashnikov saya. Sekarang tinggal serangan beruntun. "Berapa ratus koran kamu harus jual sehari, hanya untuk sebuah kaos yang buatannya kasar ini?. Itu (kaos) masih yang buatan Cina. Yang aselinya lagi belipat(tanpa r) harganya" Lalu berapa ratus koran lagi harus kamu jual untuk makan sehari-hari, kalau keuntunganmu hanya cepek dan nopek untuk setiap penjualan koran. Apalagi sekarang, koran yang sudah dipajang di lang-korannya, sudah tidak boleh dikembalikan kalau tidak laku.

Di Grogol, mau beli nasi goreng angkringan Bang-Kojiek (entah bagaimana kok dibaca Kojek), lima ribu, sudah pakai teh botol. Di sana 15 ribu baru nasi warteg Thailand dengan 3 jenis lauk. Kalau kamu ambil sayur sawi, itu termasuk satu lauk. Kamu ambil tempe, itu lauk kedua, ambil sambal, lauk ke tiga. Nah giliran daging, kamu harus merogoh kocek lagi....

Hidup dinegeri sendiri memang sepertinya cilaka-12, tapi setidaknya masih banyak lubangnya disana sini. Paling tidak ia bisa membuat perbandingan en tentunya mensyukuri hidup di alam yang masih terbilang murah dan meriah. Sampai sekarang saya belum pernah melihatnya menggunakan kaos hadiah tersebut.

Tuesday, June 27, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Tulisan ke 752

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com