Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

June 15, 2006

741-Tarian Angsa Hitam

Angsa hitam “cygnus atratus”, tapi cocornya merah ini sedang mencari makan di pinggir kali Angsa ketika saya mendekatinya untuk dipindahkan kedalam kamera. Ia angsa liar hitam yang menjadi simbol kota Perth. Menuerut legenda orang Aborigin, sebelum menjadi manusia mereka adalah angsa hitam. Sementara orang Eropa/Australia semula angsa warnanya putih. Biasanya angsa hidup bergerombol. Ketika saya abadikan nampak selalu menghindar sehingga sudut bidik saya agak kesukaran mengambil paruh merahnya yang cantik.

Selain angsa hitam, di pinggiran sungai Angsa juga ditemukan burung seperti camar, kakatua besar, belibis dan beberapa jenis burung kecil yang semuanya hidup damai tanpa harus diberi makan. Ada larangan untuk tidak memberi makan mahluk cantik ini disebabkan makanan alami mengandung nutrisi yang seimbang bagi perkembangan tubuh mereka sedangkan makanan manusia umumnya sudah mengalami proses dan mengganggu sistem pencernakan mereka. Sebab lain, mahluk yang terbiasa diberi makan dari tangan lambat laun akan aggressive sehingga dikuatirkan akan mengganggu kenyamanan warga kota Perth di belakang hari. Anda masih ingat kera di Bali yang karena terlalu akrab dengan makanan manusia, kadang perilakunya menjadi agresif.

Karena jauh dari gangguan penggemar unggas yang maunya ngerangkeng mahluk untuk lelangenan mereka, maka hewan liar ini juga acuh terhadap kehadiran manusia termasuk kepada sepasang pendekar Wushu dari daratan Cina yang sedang berlatih.


Gagal mengabadikan angsa cocor merah yang jual mahal ini, saya mengalihkan perhatian ke unggas lainnya. Termasuk sepasang burung Pelican, dan sejenis burung khas Australia.


Yang tidak saya duga, si acuh angsa hitam,tiba-tiba mentas (naik kedaratan) dan berlari secepat “Carl Lewis” ke arah saya. Umumnya angsa Indonesia menyerang dengan menjulurkan lehernya dekat dengan tanah, tetapi burung besar ini tidak memperlihatkan tanda menyerang. Saya baru sadar ketika melihat bayangan besar di kamera. Secara instink moment ini tidak saya sia-siakan. Sekarang sang obyek sudah ada didepan mata. Suara nafasnya terdengar, bahkan bau bulunya sempat tercium karena begitu dekatnya.

Saya juga tidak tahu apakah ia marah karena dianggap saya memasuki teritorinya atau cemburu karena saya memotret teman-temannya. Begitu dekatnya dia dengan wajah saya sampai sepertinya bisa membelai bulunya yang hitam berkilat, matanya yang cantik memandang lensa. Lalu saya sempat melihat bahwa ada garis putih melintang di paruhnya.
Rupanya, “interfet” hitam ini hanya ingin beraksi didepan kamera, sebab tidak ada tindakan agresif yang ditakutkan terjadi. Namun matanya seperti menyorotkan peringatan keras bahwa saya sudah memasuki teritorialnya.

Seperti mempersilahkan saya memotretnya mahluk ini memutar tubuhnya, sambil mengangkat kakinya sebelah sehingga pinggulnya bisa dinikmati dari belakang.

Puas bergaya ia mulai lepas landas, terbang ke tengah sungai meninggalkan saya yang masihterbengong dan baru ingat bernapas. Dan ternyata angsa ini tidak semua bulunya berwarna hitam.

Angsa hitam mula-mula dilihat oleh seorang pelaut Belanda bernama Antonie Caen saat ia berkunjung ke teluk Hiu pada 1636. Penemuannya dikuatkan oleh masih seorang Belanda Willem de Vlamingh yang sempat menangkap spesies ini di sungai Angsa pada 1697, tetapi tulisannya dicemooh sebagian ilmuwan Eropa yang beranggapan bahwa angsa hanya berbulu putih. Perdebatan tentang angsa hitam memudar sampai akhirnya pada 1788 spesies ini kembali mengisi halaman jurnal ilmiah Eropa terutama setelah Dr. John Latham pada mengklasifikasikan hewan ini pada 1790.
Untuk menikmati keindahan sungai Angsa anda cukup berjalan kaki sekitar 10-20 menit dari pusat kota Perth. Disediakan juga ferry bagi anda yang ingin menyeberangi sungai Angsa dengan biaya satu setengah dollar. Atau anda ingin bepergian ke kota lain seperti Freemantle atau pulau Rottnest dapat menggunakan Ferry disini. Beberapa ferry masih mempertahankan bentuk kunonya dengan badan sebagian dari kayu.

Mimbar Saputro

Jenis burung lain yang bisa ditemui secara bebas di sungai Angsa Perth.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com