Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

April 30, 2007

Artikel #907 Pintoe Besar mana pintoenya

Seabad lalu gubernemen Belanda mengundang para pahlawan tanpa tanda jasa yaitu goeroe dari Solo dan Yogya untuk berkunjung ke Batavia. Mereka dibawa ke Stadhuis (Gedung Bicara), pabrik gas, percetakan uang kertas, dan (astaga) juga pabrik Candu. Soal candu ternyata orang Olanda pikirannya cerdik, daripada penjualan jenis psikotropi jatuh ke pengedar liar, mendingan merekai mengorganisasikan perdagangan ini melalui para pacht (dealer). Maksudnya selain legal juga menguntungkan pundi negara. Alasan lain entoch para penyeret (pecandu) itu bakalan masuk keluar panti rehabilitasi seperti kerbau dengan lumpur sawah. Dimandikan sampai tandas tidak lama akan kembali ke kubangan lagi. Mending mereka dicekoki opium "pahe" syukur bersedia mencuri start menemui Giam Loong alias dewa kematian versi buku silat KPH.

Ketika rombongan goeroe melalui jalan Pintoe Besar, ada (bapak) bertanya pada pengantar-nya, buat apa bersusah-susah melihat Pintu Besar zonder (tanpa) melihat pintunya

Ditanya menohok begini, sang pengantar cuma garuk-garuk ia punya kepala tak gatal, lantaran ia tiada punya moeslihat untuk memberiken jawaban. Paling memberikan jawaban" tauk tuh selipun (sekalipun) engkong sampai bercucu disini emang sudah begitu panggilannye.."

Untuk mengetahui sejarah Pintu Besar, kita moesti melihat kilas balik ke tahun 1632.

[suara tambur dipukul perlahan, sedikit cepat lalu keras dan diahiri dengan kencreng ... jreng!..]

Setelah pengepungan oleh bala tentara Mataram yang sukses menewaskan Gubernur Jendral Jan Pieter Zoen Koen akibat Kolera tapi, maka penggantinya segera kasi prentah agar sekeliling Kastil dibangun kanal-kanal atau parit air yang lebar sehingga diharapkan bisa mencegah ancaman anasir luar yang berniat menghancurkan integritas bangsa Wolanda.

Untuk keperluan keluar masuk kastil lalu dibuatkan pintu yang besar disebut NIEUWPOORT. Dan jalan menuju pintu inilah yang disebut sebagai jalan Pintoe Besar alias NieuwPoort Straat.

Pintoe Besar ini ini bercabang jalan ke kota satelit sebelah selatan yang disebut Zuidervoorstad yang sekarang menjadi jalan Pinangsia, tempat pedagang material candak kulak bahan bangunan seperti kunci, kaca jendela, washtafel dsb. Juga (kalau misih ada) VCD Porno bersandi Unyil (dulu).

Kawasan Zuidervoorstad tadinya dibangun untuk perkampungan Cina, tetapi penggawe Kumpeni ikutan menanam saham membuat rumah menginap yang sekarang sering disebut apartemen. Dengan alasan pintu Kastil sudah tertutup, sering terjadi para pembesar menginap di luar kastil tentunya ditemani para Amoy berkulit pualam dan ayu. Mungkin ada cerita mirip pembesar Kumpeni "kegep" jam 3 dinihari dirumah seorang amoy Pontianak, dan bersumpah demi ini dan itu sekedar mencari dokumen tertinggal. Tapi itu cerita ratusan tahun kemudian.

Dari pintu besar tadi dibuat jalan tembus Buitenniewpoortstraat alias Jalan di luar pintu gerbang baru.

Ketika Daendels memerintah Betawi ia mempunyai gagasan baru, kastil-kastil tadi dibongkar demikian juga pintu gerbangnya. Tidak heran anak cucunya keturunan Daendels ratusan tahun kemudian juga memiliki nafsu membongkar. Tiada Kastil, boleh juga gedung Biskop, tiada bioskop, bolehlah stadion olah raga, tiada stadion Pohon Beringin-pun jadilah. Seperti kata Iwan Fals, "bongkar! ya bongkar"

Tapi ada alasan Daendels yang rada masuk akal, kanal-kanal tersebut kalau musim kemarau kering dan celakanya rumah sakit kastil membuang perban, kapas, kotoran dan potongan daging serta tulang manusia ke kanal sehingga membusuk dan mengundang lalat dan malaria membuka Posko sekaligus Posyandu. Parit-parit itu lalu dioeroeg (timbun) dan dibuat "trem way" plus stasiunnya untuk jurusan Tanjung Priok - Tangerang. Sejak itu Pintoe Besar tinggal sebuah nama besar.

Jalan Pintu Besar merupakan jalan ramai di Betawi, di jalan yang terletak kota lama terdapat toko-toko dan kantor dagang. Kadang ada trem uap melintas dari Kota Inten ke Harmoni, tak heran sering terjadi kecelakaan antara trem dengan dos-a-dos (sado).

Tabrakan haibat (ai) pernah terjadi antara sebuah pedati dengan dos-a-dos (sado) seperti diberitakan harian Bintang Betawi 21 Mei 1903. Konon penumpang dos-a-dos sampai terpental dan tiada inget sakeliling (semapoet) dan perlu digotong ke rumah tukang besi sekitar toko Ang Sioe Tjiang & Co untuk dibikin mendusin agar ia ingat sekeliling termasuk kenyataan bahwa sekarang Pintoe Besar tak memiliki pintoe.

1 comment:

suhu Tan said...

Senin, 30-04-2007 22:44:13 oleh: Suhu Tan
Menarik pak. Dan ungkapan ini pulalah yang langsung saya masukkan ke Vote diatas.

VCD porno yang bertebaran di dekat Pinangsie en Harco, sekarang malah udeh ga pake cover si Unyil lagi, pak. Langsung dipasang ngejreng,bise dilirik sambil jalan melenggak-lenggok, en dijamin langsung jelas keliatan deh, apalagi kalu diplototin, ngablak abis!

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com